Review Concrete Utopia, film yang menggali fakta kurang menyenangkan dari sifat manusia saat hadapi bencana dalam balutan black comedy. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Christie Stefanie
4
Review Concrete Utopia: film yang soroti rasa dilema dan fakta kurang menyenangkan dari sifat manusia saat hadapi bencana.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hanya butuh waktu singkat bagi penonton untuk ikut memikirkan langkah yang bakal diambil jika ada dalam situasi yang ditampilkan Concrete Utopia. Mudah pula merefleksikan diri mengenai rasa kemanusiaan yang dimiliki selama ini lewat plot film tersebut.
Alih-alih beri pesan, Concrete Utopia memberikan pertanyaan mengenai kemanusiaan dan rasionalitas lewat begitu banyak kejadian di sepanjang 129 menit film.
Film bertabur bintang ini menampilkan situasi Seoul yang luluh lantak akibat bencana alam luar biasa. Namun ada satu gedung, apartemen Hwang Gung, yang masih berdiri kokoh di tengah puing-puing bangunan lain.
Concrete Utopia tak menceritakan penyebab atau situasi yang terjadi di seputar apartemen sebelum bencana alam. Hal itu dikarenakan film tersebut hanya mengadaptasi bagian kedua dari webtun Pleasant Bullying atau Joyful Outcast karya Kim Sung-nyung.
Sehingga, film ini menampilkan kisah setelah bencana, bagaimana Hwang Gung seperti sebuah surga bagi pemilik unit dan bagai harapan untuk orang-orang bukan pemilik yang mencoba bertahan hidup di sana.
Kondisi mereka diperparah dingin ekstrem yang bisa dengan mudah membunuh warga jika di luar ruangan pada malam hari. Sehingga, mau tak mau warga bukan pemilik harus mengemis-ngemis kepada penghuni untuk menampung mereka.
Situasi setelah itu berpotensi menghadirkan pengalaman roller coaster emosi bagi penonton karena persediaan makanan yang sejatinya sudah terbatas untuk penghuni, kini harus dibagi dengan warga lain.
Terlebih lagi ada pula warga yang ditolong malah semakin lama berperilaku bak pemilik unit apartemen. Hal-hal tersebut membuat segalanya menjadi kabur mengenai keputusan mana yang paling baik untuk diambil.
Review Concrete Utopia, film yang menggali situasi kurang menyenangkan dari sifat manusia saat menghadapi bencana. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Banyak pula isu sosial dan kondisi familier dalam kehidupan sehari-hari ditampilkan dalam film garapan sutradara Uhm Tae-hwa ini, salah satunya adalah diskriminasi dan hierarki dalam masyarakat.
Sifat-sifat manusia, seperti ketamakan, keegoisan, haus kekuasaan, yang mungkin selama ini dipendam imbas situasi atau diredam lewat keyakinan dan agama yang dianut, jadi muncul karena berada dalam situasi terjepit.
"Tak ada bedanya antara pembunuh dan pendeta," dialog dalam Concrete Utopia merujuk pada sistem kehidupan manusia yang menjadi rapuh imbas masa apokaliptik.
"Memang mudah berbuat baik apabila perut kenyang," dialog dalam film tersebut yang mengindikasikan semuanya bisa berubah ketika perut lapar atau ada di kondisi sulit.
Lanjut ke sebelah...
Namun, semua itu disajikan dengan sinematografi dan scoring yang membuatnya menjadi sebuah film black comedy.
Hal tersebut sudah terlihat sejak menit awal film yang menginformasikan pergeseran makna kepemilikan apartemen di Korea Selatan dan menariknya itu ditampilkan lewat klip bak iklan penjualan apartemen 'Senin harga naik' yang kerap diputar setiap pagi pada akhir pekan di televisi.
Begitu pula saat menampilkan sistem bermasyarakat yang seperti disetel ulang di tengah distopia, termasuk saat menampilkan adegan kekerasan dengan scoring bahkan lagu bernada ceria.
Namun, hal itu pula yang sepertinya menjadi catatan kecil untuk Concrete Utopia karena dilakukan berulang kali sehingga film sempat terasa begitu panjang.
Selebihnya, baik plot, visual dan juga CGI, serta akting para bintang Concrete Utopia begitu baik. Lee Byung-hun kembali tampil sebagai pemeran utama yang tak banyak omong dengan segudang misteri di belakangnya, seperti saat menjadi The Frontman dalam Squid Game.
Review Concrete Utopia: Lee Byung-hun kembali menjadi karakter yang benar-benar bisa mengaburkan batasan hitam dan putih seseorang dalam bermasyarakat. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Review Concrete Utopia: Park Bo-young dan Park Seo-joon jadi gambaran pasangan yang saling menyadarkan satu dengan lain di tengah situasi luar biasa. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Begitu pula dengan Park Seo-joon dan Park Bo-young yang menjadi pasangan saling melengkapi, Kim Sun-young, Kim Do-yoon, dan Park Ji-hu yang bisa membuat penonton mempertanyakan siapa sesungguhnya yang masih bisa berpikir jernih di tengah situasi tersebut.
Pada akhirnya, Concrete Utopia menjadi film yang menggugah pikiran mengenai batasan baik dan buruk, kemudian pilihan ego dan kemanusiaan karena seberapa jauh tindakan jahat manusia dapat dibenarkan untuk tetap bertahan hidup di tengah keadaan luar biasa.
Concrete Utopia yang diberi label 17 tahun ke atas ini tayang sejak 23 Agustus di bioskop Indonesia.
Hanya butuh waktu singkat bagi penonton untuk ikut memikirkan langkah yang bakal diambil jika ada dalam situasi yang ditampilkan Concrete Utopia. Mudah pula merefleksikan diri mengenai rasa kemanusiaan yang dimiliki selama ini lewat plot film tersebut.
Alih-alih beri pesan, Concrete Utopia memberikan pertanyaan mengenai kemanusiaan dan rasionalitas lewat begitu banyak kejadian di sepanjang 129 menit film.
Film bertabur bintang ini menampilkan situasi Seoul yang luluh lantak akibat bencana alam luar biasa. Namun ada satu gedung, apartemen Hwang Gung, yang masih berdiri kokoh di tengah puing-puing bangunan lain.
Concrete Utopia tak menceritakan penyebab atau situasi yang terjadi di seputar apartemen sebelum bencana alam. Hal itu dikarenakan film tersebut hanya mengadaptasi bagian kedua dari webtun Pleasant Bullying atau Joyful Outcast karya Kim Sung-nyung.
Sehingga, film ini menampilkan kisah setelah bencana, bagaimana Hwang Gung seperti sebuah surga bagi pemilik unit dan bagai harapan untuk orang-orang bukan pemilik yang mencoba bertahan hidup di sana.
Kondisi mereka diperparah dingin ekstrem yang bisa dengan mudah membunuh warga jika di luar ruangan pada malam hari. Sehingga, mau tak mau warga bukan pemilik harus mengemis-ngemis kepada penghuni untuk menampung mereka.
Situasi setelah itu berpotensi menghadirkan pengalaman roller coaster emosi bagi penonton karena persediaan makanan yang sejatinya sudah terbatas untuk penghuni, kini harus dibagi dengan warga lain.
Terlebih lagi ada pula warga yang ditolong malah semakin lama berperilaku bak pemilik unit apartemen. Hal-hal tersebut membuat segalanya menjadi kabur mengenai keputusan mana yang paling baik untuk diambil.
Review Concrete Utopia, film yang menggali situasi kurang menyenangkan dari sifat manusia saat menghadapi bencana. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Banyak pula isu sosial dan kondisi familier dalam kehidupan sehari-hari ditampilkan dalam film garapan sutradara Uhm Tae-hwa ini, salah satunya adalah diskriminasi dan hierarki dalam masyarakat.
Sifat-sifat manusia, seperti ketamakan, keegoisan, haus kekuasaan, yang mungkin selama ini dipendam imbas situasi atau diredam lewat keyakinan dan agama yang dianut, jadi muncul karena berada dalam situasi terjepit.
"Tak ada bedanya antara pembunuh dan pendeta," dialog dalam Concrete Utopia merujuk pada sistem kehidupan manusia yang menjadi rapuh imbas masa apokaliptik.
"Memang mudah berbuat baik apabila perut kenyang," dialog dalam film tersebut yang mengindikasikan semuanya bisa berubah ketika perut lapar atau ada di kondisi sulit.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Concrete Utopia
Review Concrete Utopia, film yang menggali fakta kurang menyenangkan dari sifat manusia saat hadapi bencana dalam balutan black comedy. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Namun, semua itu disajikan dengan sinematografi dan scoring yang membuatnya menjadi sebuah film black comedy.
Hal tersebut sudah terlihat sejak menit awal film yang menginformasikan pergeseran makna kepemilikan apartemen di Korea Selatan dan menariknya itu ditampilkan lewat klip bak iklan penjualan apartemen 'Senin harga naik' yang kerap diputar setiap pagi pada akhir pekan di televisi.
Begitu pula saat menampilkan sistem bermasyarakat yang seperti disetel ulang di tengah distopia, termasuk saat menampilkan adegan kekerasan dengan scoring bahkan lagu bernada ceria.
Namun, hal itu pula yang sepertinya menjadi catatan kecil untuk Concrete Utopia karena dilakukan berulang kali sehingga film sempat terasa begitu panjang.
Selebihnya, baik plot, visual dan juga CGI, serta akting para bintang Concrete Utopia begitu baik. Lee Byung-hun kembali tampil sebagai pemeran utama yang tak banyak omong dengan segudang misteri di belakangnya, seperti saat menjadi The Frontman dalam Squid Game.
Review Concrete Utopia: Lee Byung-hun kembali menjadi karakter yang benar-benar bisa mengaburkan batasan hitam dan putih seseorang dalam bermasyarakat. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Review Concrete Utopia: Park Bo-young dan Park Seo-joon jadi gambaran pasangan yang saling menyadarkan satu dengan lain di tengah situasi luar biasa. (Lotte Entertainment/Climax Studio via Hancinema)
Begitu pula dengan Park Seo-joon dan Park Bo-young yang menjadi pasangan saling melengkapi, Kim Sun-young, Kim Do-yoon, dan Park Ji-hu yang bisa membuat penonton mempertanyakan siapa sesungguhnya yang masih bisa berpikir jernih di tengah situasi tersebut.
Pada akhirnya, Concrete Utopia menjadi film yang menggugah pikiran mengenai batasan baik dan buruk, kemudian pilihan ego dan kemanusiaan karena seberapa jauh tindakan jahat manusia dapat dibenarkan untuk tetap bertahan hidup di tengah keadaan luar biasa.
Concrete Utopia yang diberi label 17 tahun ke atas ini tayang sejak 23 Agustus di bioskop Indonesia.