Review Film: Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso
Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Rabu, 04 Okt 2023 21:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Review Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso: film ini memadukan dokumenter, thriller dan kegemaran banyak orang: drama, sensasi, dan misteri. (Netflix Indonesia)
5
Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso jadi bukti Indonesia punya bahan kisah kriminal yang dramatis tak kalah dari Hollywood.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso langsung masuk dalam urutan atas tontonan favorit saya sepanjang 2023 ini, bahkan ketika saya belum sepenuhnya rampung menyaksikan film berdurasi 86 menit tersebut.
Bagaimana tidak, film arahan Rob Sixsmith ini mengombinasikan kegemaran saya akan dokumenter dan thriller, dan diberi bumbu favorit saya yang juga kebanyakan masyarakat Indonesia: drama, sensasi, dan misteri.
Namun terlepas dari unsur yang 'sinetron' banget dalam dokumenter ini, naskah yang digarap oleh Sixsmith dan kawan-kawan ini memang dikemas dengan begitu apik dan hati-hati.
Keputusan Ice Cold yang tidak dibawakan seperti dokumenter serius lainnya --atau setidaknya seperti misteri pembunuhan atau kasus tak terpecahkan ala Amerika Serikat-- dan memilih untuk lebih dekat ke selera masyarakat Indonesia, adalah sebuah pilihan tepat.
Sebagian besar masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah kumpulan manusia kepo dan gemar berbicara alih-alih membaca, dan dokumenter ini memancing sifat itu muncul ke permukaan dengan babak-babak sajian narasi yang mengundang penasaran.
Apalagi, kisah kasus pembunuhan Wayan Mirna dengan terpidana Jessica Wongso pernah menjadi drama pertelevisian pada tujuh tahun lalu. Pun, ada tokoh yang terlibat di dalam kasus itu juga menjadi sorotan dalam drama peradilan dan kriminal besar di Indonesia beberapa waktu lalu.
Jelas, sensasi-sensasi drama ala telenovela, kisah gangster dan mafia, serta pembunuhan macam cerita Sherlock Holmes atau Detective Conan dalam dokumenter ini membuat satu jam 26 menit jadi tidak terasa.
Padahal, pada dasarnya dokumenter ini hanyalah menampilkan koleksi-koleksi footage berita, kesaksian jurnalis yang meliput, wawancara dengan ayah dan orang terdekat Mirna, pengacara Jessica, sebagian saksi dan petugas yang ada di pengadilan, dan komentar pengamat.
Dokumenter ini pun juga tidak membahas secara dalam soal kasus tersebut, atau hubungan mendalam antara Mirna dan Jessica, atau mungkin peluang masalah lain yang dihadapi Mirna sebelum kejadian tragis tersebut.
Selain itu, dokumenter ini juga lebih mengarah pada drama alih-alih dokumenter sejati.
Hal itu terlihat dari bagaimana naskah yang menggiring alur cerita dokumenter ini berperan sangat penting atas persepsi yang ditangkap penonton, alih-alih membiarkan penonton menebak dan berenang sendiri dalam cerita bergambar yang ditampilkan.
Namun justru hal itulah yang memenuhi selera masyarakat Indonesia yang menjadi sasaran utama dokumenter ini.
Lanjut ke sebelah...
Saya pun tak bisa mencela hal itu. Toh saya juga menikmati bagaimana drama, asumsi, dan berbagai penilaian subjektif yang tersaji dalam tayangan ini yang kemudian bisa menjadi bahan obrolan --atau gibah-- baru dengan teman-teman selingkaran.
Ditambah dengan era media sosial saat ini yang jauh lebih liar dan 'ganas' dibanding pada 2016, netizen pasti dengan cepat akan menggali lebih dalam daripada yang dilakukan Rob Sixsmith dan kawan-kawan.
Hal lain yang membuat dokumenter ini nyaman sekali ditonton --bahkan sembari makan dan minum kopi-- adalah aspek sinematografinya.
Salut saya untuk tim sinematografi yang mencakup 11 orang, terdiri dari 7 director of photography asal Indonesia, Jerman, dan Singapura; serta 3 operator kamera.
Kerja keras mereka, ditambah dengan tim editing dan efek visual juga grafis, memperkuat unsur drama dalam Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso.
Sisipan-sisipan semacam trivia hingga footage yang agak out of topic pun membuat perjalanan penonton menjadi tidak bosan dan otak jadi 'penuh' dengan berbagai "lautan fakta", yang tentu tidak semua orang ingat dari perjalanan sidang 7 tahun lalu.
Namun memang dokumenter provokatif ini tentu bisa berbuah keriuhan, bahkan bisa jadi hal yang lebih serius. Pro-kontra hingga mungkin 'netizen power' bisa saja muncul karena pembahasan dokumenter ini.
Apalagi, dokumenter ini secara tersirat tapi cukup terlihat dengan jelas, menonjolkan bagaimana sistem peradilan di Indonesia berjalan yang selama ini banyak menjadi sorotan dan sasaran keluhan dari netizen.
Bukan tidak mungkin, dari dokumenter ini memancing masyarakat membuka lebih banyak mata dan menyoroti lebih dalam untuk mengawasi para penegak hukum.
Meski begitu, bagi saya, dokumenter ini seperti jawaban keinginan terpendam saya sejak lama: melihat sajian tayangan yang diangkat dari kasus kriminal di Indonesia yang tak kalah 'aneh', misterius, dan jauh lebih seru dari yang ada di Amerika Serikat.
Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso langsung masuk dalam urutan atas tontonan favorit saya sepanjang 2023 ini, bahkan ketika saya belum sepenuhnya rampung menyaksikan film berdurasi 86 menit tersebut.
Bagaimana tidak, film arahan Rob Sixsmith ini mengombinasikan kegemaran saya akan dokumenter dan thriller, dan diberi bumbu favorit saya yang juga kebanyakan masyarakat Indonesia: drama, sensasi, dan misteri.
Namun terlepas dari unsur yang 'sinetron' banget dalam dokumenter ini, naskah yang digarap oleh Sixsmith dan kawan-kawan ini memang dikemas dengan begitu apik dan hati-hati.
Keputusan Ice Cold yang tidak dibawakan seperti dokumenter serius lainnya --atau setidaknya seperti misteri pembunuhan atau kasus tak terpecahkan ala Amerika Serikat-- dan memilih untuk lebih dekat ke selera masyarakat Indonesia, adalah sebuah pilihan tepat.
Sebagian besar masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah kumpulan manusia kepo dan gemar berbicara alih-alih membaca, dan dokumenter ini memancing sifat itu muncul ke permukaan dengan babak-babak sajian narasi yang mengundang penasaran.
Apalagi, kisah kasus pembunuhan Wayan Mirna dengan terpidana Jessica Wongso pernah menjadi drama pertelevisian pada tujuh tahun lalu. Pun, ada tokoh yang terlibat di dalam kasus itu juga menjadi sorotan dalam drama peradilan dan kriminal besar di Indonesia beberapa waktu lalu.
Jelas, sensasi-sensasi drama ala telenovela, kisah gangster dan mafia, serta pembunuhan macam cerita Sherlock Holmes atau Detective Conan dalam dokumenter ini membuat satu jam 26 menit jadi tidak terasa.
Padahal, pada dasarnya dokumenter ini hanyalah menampilkan koleksi-koleksi footage berita, kesaksian jurnalis yang meliput, wawancara dengan ayah dan orang terdekat Mirna, pengacara Jessica, sebagian saksi dan petugas yang ada di pengadilan, dan komentar pengamat.
Dokumenter ini pun juga tidak membahas secara dalam soal kasus tersebut, atau hubungan mendalam antara Mirna dan Jessica, atau mungkin peluang masalah lain yang dihadapi Mirna sebelum kejadian tragis tersebut.
Selain itu, dokumenter ini juga lebih mengarah pada drama alih-alih dokumenter sejati.
Hal itu terlihat dari bagaimana naskah yang menggiring alur cerita dokumenter ini berperan sangat penting atas persepsi yang ditangkap penonton, alih-alih membiarkan penonton menebak dan berenang sendiri dalam cerita bergambar yang ditampilkan.
Namun justru hal itulah yang memenuhi selera masyarakat Indonesia yang menjadi sasaran utama dokumenter ini.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso
Review Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso: film ini memadukan dokumenter, thriller dan kegemaran banyak orang: drama, sensasi, dan misteri. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Saya pun tak bisa mencela hal itu. Toh saya juga menikmati bagaimana drama, asumsi, dan berbagai penilaian subjektif yang tersaji dalam tayangan ini yang kemudian bisa menjadi bahan obrolan --atau gibah-- baru dengan teman-teman selingkaran.
Ditambah dengan era media sosial saat ini yang jauh lebih liar dan 'ganas' dibanding pada 2016, netizen pasti dengan cepat akan menggali lebih dalam daripada yang dilakukan Rob Sixsmith dan kawan-kawan.
Hal lain yang membuat dokumenter ini nyaman sekali ditonton --bahkan sembari makan dan minum kopi-- adalah aspek sinematografinya.
Salut saya untuk tim sinematografi yang mencakup 11 orang, terdiri dari 7 director of photography asal Indonesia, Jerman, dan Singapura; serta 3 operator kamera.
Kerja keras mereka, ditambah dengan tim editing dan efek visual juga grafis, memperkuat unsur drama dalam Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso.
Sisipan-sisipan semacam trivia hingga footage yang agak out of topic pun membuat perjalanan penonton menjadi tidak bosan dan otak jadi 'penuh' dengan berbagai "lautan fakta", yang tentu tidak semua orang ingat dari perjalanan sidang 7 tahun lalu.
Namun memang dokumenter provokatif ini tentu bisa berbuah keriuhan, bahkan bisa jadi hal yang lebih serius. Pro-kontra hingga mungkin 'netizen power' bisa saja muncul karena pembahasan dokumenter ini.
Apalagi, dokumenter ini secara tersirat tapi cukup terlihat dengan jelas, menonjolkan bagaimana sistem peradilan di Indonesia berjalan yang selama ini banyak menjadi sorotan dan sasaran keluhan dari netizen.
Bukan tidak mungkin, dari dokumenter ini memancing masyarakat membuka lebih banyak mata dan menyoroti lebih dalam untuk mengawasi para penegak hukum.
Meski begitu, bagi saya, dokumenter ini seperti jawaban keinginan terpendam saya sejak lama: melihat sajian tayangan yang diangkat dari kasus kriminal di Indonesia yang tak kalah 'aneh', misterius, dan jauh lebih seru dari yang ada di Amerika Serikat.