Review film: The Exorcist Believer susah payah mempertahankan 'nyawa' The Exorcist yang legendaris di tengah selera horor yang sudah berubah. (dok. Universal Pictures via IMDb)
Endro Priherdityo
3
Review film: The Exorcist Believer susah payah mempertahankan 'nyawa' The Exorcist yang legendaris di tengah selera horor yang sudah berubah.
Jakarta, CNN Indonesia --
Lebih dari 50 tahun lalu, William Peter Blatty pernah menulis dalam novelnya yang kemudian terkenal dan mengantarkan dia mendapatkan Piala Oscar pada 1974, The Exorcist, pada Bab III bagian 2:
Mendadak lengan Karras yang merinding bukan lagi disebabkan oleh udara kamar yang sedingin es, melainkan oleh apa yang dilihatnya di dada Regan; oleh tulisan-timbul yang membentuk huruf-huruf tegas dari kulit yang menonjol dan berwarna merah darah. Dua kata:
tolong aku
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(The Exorcist, cetakan September 2013, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ingrid Nimpoeno dan diterbitkan oleh Serambi).
Saya masih ingat gambaran penderitaan si bocah Regan dalam novel dan film The Exorcist (1973) akibat kerasukan. Kisah karangan Blatty yang terinspirasi dari kisah nyata pada akhir dekade '40-an di Amerika Serikat itu pun menjadi tonggak sejarah baru bagi perfilman horor.
Dalam The Exorcist, Blatty tidak menjadikan sikap aneh dan 'ajaib' yang berada di sekitar manusia yang dikuasai iblis sebagai sajian utama. Blatty menampilkan horor yang sesungguhnya dalam kehidupan manusia: menghadapi hal di luar kesanggupannya.
Berbagai gejolak emosi manusia ada dalam kisah yang konfliknya sebagian besar berada di kamar Regan itu, keangkuhan, keputusasaan, ketakutan, kemarahan, hingga bertahan dalam sedikit harapan.
Hal itulah yang bagi saya menjadi alasan mengapa The Exorcist menjadi karya tulis dan film horor legendaris --dan mungkin saja-- jadi penyebab mendapatkan nominasi Best Picture Academy Awards ke-46 pada April 1974.
Hingga ketika kelanjutan kisahnya, setelah sekian puluh tahun berlalu, muncul dalam The Exorcist: Believer (2023), membuat saya bersemangat. Sejak awal, saya sebenarnya tak mau berharap banyak dengan film garapan David Gordon Green dan naskahnya dibantu Peter Sattler ini.
Pertama, sang kreator asli yakni William Peter Blatty jelas tak terlibat mengingat ia sudah meninggal pada 2017. Namun nyatanya juga tidak ada keturunannya yang terlibat dalam penggarapan film ini.
Kreator asli The Exorcist, William Peter Blatty. Review film The Exorcist Believer: saat rampung melihat film ini, hasilnya tidak kecewa-kecewa amat. (Dok. Wikimedia/CC BY-SA 3.0)
Kedua, pengalaman buruk dari kelanjutan-kelanjutan The Exorcist yang nyaris tak ada yang beres. Entah bagaimana, The Exorcist (1974) seolah menjadi film yang tak akan bisa ditandingi oleh penerusnya meski sudah menggunakan teknologi dan cara narasi yang lebih mutakhir.
Sehingga saat saya rampung melihat The Exorcist: Believer, saya harus akui tidak kecewa-kecewa amat. Naskah yang ditulis Green dan Sattler sebenarnya justru terasa agak lebih baik dibanding saga-saga film The Exorcist lainnya.
Narasi yang bertempo lambat dan kronologis jelas persis seperti film-film The Exorcist lainnya. Belum lagi titik berat yang berada di dalam keluarga yang menjadi ciri khas The Exorcist, yang kemudian diikuti banyak film horor setelahnya.
Namun titik krusialnya adalah bukan pada apakah si anak kerasukan bisa berjalan merangkak di dinding, atap, dan badannya menekuk terbalik sambil melayang di udara. Titik krusialnya adalah bagaimana The Exorcist: Believer menangkap horor dalam diri manusia dalam kemelut saat itu.
Saya harus mengatakan Green dan Sattler susah payah bisa menangkap roman gejolak tersebut tanpa harus mendramatisir berlebihan seperti film-film horor pop lainnya. Setidaknya, tak perlu ada tangis derai air mata berteriak-teriak, rambut ditarik makhluk tak kasat mata, hingga piring terbang ke sana ke mari.
Dengan riasan dan kostum yang saya acungi jempol, Green dan Sattler mempertemukan dilema orang tua menghadapi 'dosa' terpendam yang jadi senjata setan memprovokasi manusia dan muncul dari anak yang mereka cintai.
Belum lagi latar belakang para karakter yang dibuat lebih kompleks juga beragam. Untuk hal ini, saya memberikan apresiasi mengingat kesempatan untuk hal tersebut belum ada pada industri Hollywood pada 50 tahun lalu.
Selain itu, Green dan Sattler juga terlihat mempertahankan nilai-nilai dan ajaran Kristiani yang muncul dalam novel karangan Blatty. Bahkan, saya merasa nilai ajaran Kristiani dalam Believer lebih kental dibanding sepantarannya, meski disajikan dengan cara yang tersirat.
Akan tetapi, nilai itu mungkin akan bertentangan dengan jumlah penonton film yang kini lebih beragam, liberal, serta sekuler dibanding 50 tahun lalu. Maka saya pun tak heran The Exorcist: Believer yang terlihat lebih konservatif ini mendapatkan kritik soal nilai-nilai itu.
Namanya juga film, semua pihak bebas menanggapi dan menginterpretasikan.
Review film The Exorcist Believer: Titik krusial film ini adalah bagaimana David Gordon Green dan Peter Sattler menangkap horor dalam diri manusia dalam kemelut saat itu. (dok. Universal Pictures)
Dengan semua yang saya rasakan itu, saya akui film The Exorcist: Believer bukan untuk semua orang. Dan rasanya menjadi sebuah pertaruhan berbahaya bagi Universal Pictures menggelontorkan ratusan juta dolar mengembangkan waralaba ini bila hanya ingin keuntungan.
Seperti adaptasi dalam bentuk serial yang menuai pujian, kisah The Exorcist sejatinya tidak cocok untuk dibuat mengikuti jejak horor pop yang sudah 'mencuci' selera banyak orang sejak 2010-an.
The Exorcist yang asli tidak akan membuat penonton berteriak karena jumpscare, atau penasaran kenapa boneka bisa kerasukan setan, ataupun berbagai fantasi lainnya yang hilir mudik di film horor kontemporer saat ini.
Maka dari itu, ketika David Gordon Green dan Peter Sattler sengaja memasukkan dramatisasi yang hiperbola ala pop dalam The Exorcist: Believer sementara mereka juga susah payah menghadirkan rasa film 50 tahun lalu, nyawa cerita film horor ini bagai terpanggang di neraka, garing kegosongan.
Meski begitu, saya menyadari kondisi Green dan Sattler. Nasib akan selalu dibandingkan dengan sang legendaris The Exorcist dan William Peter Blatty dan beban menampilkan pembuka proyek trilogi yang menghasilkan cuan, jelas memaksa mereka untuk berkompromi.
Toh mungkin memang formula tepat untuk bisa dengan pas mengikuti jejak The Exorcist (1973) belum ditemukan, termasuk oleh Blatty sendiri seperti saat menggarap The Exorcist III (1990). Perlu uji coba tanpa terlalu jauh lari dari esensi kisah aslinya, perjuangan ibu melepaskan anak sematawayangnya itu dari cengkeraman si 'pencuri'.
Saya harap uji coba yang lebih baik dari ini bisa terwujud saat kelanjutan The Exorcist: Believer, Deceiver, tayang pada 2025. Besar harapan saya studio bisa membiarkan sineasnya untuk terlepas dari beban komersil bila ingin secara kreatif menghasilkan penerus sejati The Exorcist yang legendaris.
Jakarta, CNN Indonesia --
Lebih dari 50 tahun lalu, William Peter Blatty pernah menulis dalam novelnya yang kemudian terkenal dan mengantarkan dia mendapatkan Piala Oscar pada 1974, The Exorcist, pada Bab III bagian 2:
Mendadak lengan Karras yang merinding bukan lagi disebabkan oleh udara kamar yang sedingin es, melainkan oleh apa yang dilihatnya di dada Regan; oleh tulisan-timbul yang membentuk huruf-huruf tegas dari kulit yang menonjol dan berwarna merah darah. Dua kata:
tolong aku
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(The Exorcist, cetakan September 2013, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ingrid Nimpoeno dan diterbitkan oleh Serambi).
Saya masih ingat gambaran penderitaan si bocah Regan dalam novel dan film The Exorcist (1973) akibat kerasukan. Kisah karangan Blatty yang terinspirasi dari kisah nyata pada akhir dekade '40-an di Amerika Serikat itu pun menjadi tonggak sejarah baru bagi perfilman horor.
Dalam The Exorcist, Blatty tidak menjadikan sikap aneh dan 'ajaib' yang berada di sekitar manusia yang dikuasai iblis sebagai sajian utama. Blatty menampilkan horor yang sesungguhnya dalam kehidupan manusia: menghadapi hal di luar kesanggupannya.
Berbagai gejolak emosi manusia ada dalam kisah yang konfliknya sebagian besar berada di kamar Regan itu, keangkuhan, keputusasaan, ketakutan, kemarahan, hingga bertahan dalam sedikit harapan.
Hal itulah yang bagi saya menjadi alasan mengapa The Exorcist menjadi karya tulis dan film horor legendaris --dan mungkin saja-- jadi penyebab mendapatkan nominasi Best Picture Academy Awards ke-46 pada April 1974.
Hingga ketika kelanjutan kisahnya, setelah sekian puluh tahun berlalu, muncul dalam The Exorcist: Believer (2023), membuat saya bersemangat. Sejak awal, saya sebenarnya tak mau berharap banyak dengan film garapan David Gordon Green dan naskahnya dibantu Peter Sattler ini.
Pertama, sang kreator asli yakni William Peter Blatty jelas tak terlibat mengingat ia sudah meninggal pada 2017. Namun nyatanya juga tidak ada keturunannya yang terlibat dalam penggarapan film ini.
Kreator asli The Exorcist, William Peter Blatty. Review film The Exorcist Believer: saat rampung melihat film ini, hasilnya tidak kecewa-kecewa amat. (Dok. Wikimedia/CC BY-SA 3.0)
Kedua, pengalaman buruk dari kelanjutan-kelanjutan The Exorcist yang nyaris tak ada yang beres. Entah bagaimana, The Exorcist (1974) seolah menjadi film yang tak akan bisa ditandingi oleh penerusnya meski sudah menggunakan teknologi dan cara narasi yang lebih mutakhir.
Sehingga saat saya rampung melihat The Exorcist: Believer, saya harus akui tidak kecewa-kecewa amat. Naskah yang ditulis Green dan Sattler sebenarnya justru terasa agak lebih baik dibanding saga-saga film The Exorcist lainnya.
Narasi yang bertempo lambat dan kronologis jelas persis seperti film-film The Exorcist lainnya. Belum lagi titik berat yang berada di dalam keluarga yang menjadi ciri khas The Exorcist, yang kemudian diikuti banyak film horor setelahnya.
Namun titik krusialnya adalah bukan pada apakah si anak kerasukan bisa berjalan merangkak di dinding, atap, dan badannya menekuk terbalik sambil melayang di udara. Titik krusialnya adalah bagaimana The Exorcist: Believer menangkap horor dalam diri manusia dalam kemelut saat itu.
Saya harus mengatakan Green dan Sattler susah payah bisa menangkap roman gejolak tersebut tanpa harus mendramatisir berlebihan seperti film-film horor pop lainnya. Setidaknya, tak perlu ada tangis derai air mata berteriak-teriak, rambut ditarik makhluk tak kasat mata, hingga piring terbang ke sana ke mari.
Review film: The Exorcist Believer susah payah mempertahankan 'nyawa' The Exorcist yang legendaris di tengah selera horor yang sudah berubah. (dok. Universal Pictures)
Dengan riasan dan kostum yang saya acungi jempol, Green dan Sattler mempertemukan dilema orang tua menghadapi 'dosa' terpendam yang jadi senjata setan memprovokasi manusia dan muncul dari anak yang mereka cintai.
Belum lagi latar belakang para karakter yang dibuat lebih kompleks juga beragam. Untuk hal ini, saya memberikan apresiasi mengingat kesempatan untuk hal tersebut belum ada pada industri Hollywood pada 50 tahun lalu.
Selain itu, Green dan Sattler juga terlihat mempertahankan nilai-nilai dan ajaran Kristiani yang muncul dalam novel karangan Blatty. Bahkan, saya merasa nilai ajaran Kristiani dalam Believer lebih kental dibanding sepantarannya, meski disajikan dengan cara yang tersirat.
Akan tetapi, nilai itu mungkin akan bertentangan dengan jumlah penonton film yang kini lebih beragam, liberal, serta sekuler dibanding 50 tahun lalu. Maka saya pun tak heran The Exorcist: Believer yang terlihat lebih konservatif ini mendapatkan kritik soal nilai-nilai itu.
Namanya juga film, semua pihak bebas menanggapi dan menginterpretasikan.
Review film The Exorcist Believer: Titik krusial film ini adalah bagaimana David Gordon Green dan Peter Sattler menangkap horor dalam diri manusia dalam kemelut saat itu. (dok. Universal Pictures)
Dengan semua yang saya rasakan itu, saya akui film The Exorcist: Believer bukan untuk semua orang. Dan rasanya menjadi sebuah pertaruhan berbahaya bagi Universal Pictures menggelontorkan ratusan juta dolar mengembangkan waralaba ini bila hanya ingin keuntungan.
Seperti adaptasi dalam bentuk serial yang menuai pujian, kisah The Exorcist sejatinya tidak cocok untuk dibuat mengikuti jejak horor pop yang sudah 'mencuci' selera banyak orang sejak 2010-an.
The Exorcist yang asli tidak akan membuat penonton berteriak karena jumpscare, atau penasaran kenapa boneka bisa kerasukan setan, ataupun berbagai fantasi lainnya yang hilir mudik di film horor kontemporer saat ini.
Maka dari itu, ketika David Gordon Green dan Peter Sattler sengaja memasukkan dramatisasi yang hiperbola ala pop dalam The Exorcist: Believer sementara mereka juga susah payah menghadirkan rasa film 50 tahun lalu, nyawa cerita film horor ini bagai terpanggang di neraka, garing kegosongan.
Meski begitu, saya menyadari kondisi Green dan Sattler. Nasib akan selalu dibandingkan dengan sang legendaris The Exorcist dan William Peter Blatty dan beban menampilkan pembuka proyek trilogi yang menghasilkan cuan, jelas memaksa mereka untuk berkompromi.
Toh mungkin memang formula tepat untuk bisa dengan pas mengikuti jejak The Exorcist (1973) belum ditemukan, termasuk oleh Blatty sendiri seperti saat menggarap The Exorcist III (1990). Perlu uji coba tanpa terlalu jauh lari dari esensi kisah aslinya, perjuangan ibu melepaskan anak sematawayangnya itu dari cengkeraman si 'pencuri'.
Saya harap uji coba yang lebih baik dari ini bisa terwujud saat kelanjutan The Exorcist: Believer, Deceiver, tayang pada 2025. Besar harapan saya studio bisa membiarkan sineasnya untuk terlepas dari beban komersil bila ingin secara kreatif menghasilkan penerus sejati The Exorcist yang legendaris.