Reputasi Baru Taylor Swift: Penyelamat Box Office Amerika Bulan Ini
CNN Indonesia
Rabu, 18 Okt 2023 08:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Taylor Swift bukan cuma bikin penggemarnya histeris lewat The Eras Tour Film. Ia juga dianggap telah menyelamatkan industri bioskop Amerika Utara bulan ini. (AFP/Suzanne Cordeiro)
Jakarta, CNN Indonesia --
Taylor Swift bukan cuma membuat penggemarnya histeris lewat The Eras Tour Film. Ia juga dianggap telah menyelamatkan industri bioskop dari keterpurukan box office Amerika Utara pada Oktober ini.
Biasanya, pada Oktober, industri film akan berharap pada momen Halloween untuk mendongkrak putaran uang. Namun beberapa film horor yang sudah disiapkan, seperti The Exorcist: Believer, rupanya tak bisa menyelamatkan industri.
Hingga kemudian, Taylor Swift beberapa waktu lalu mengumumkan merilis film The Eras Tour pada 13 Oktober, tanggal yang semula diincar The Exorcist: Believer.
Voila, ledakan antusiasme untuk menyaksikan The Eras Tour Film pun muncul. Padahal tiket untuk menyaksikan film ini lebih dari harga tiket film di Amerika Serikat pada umumnya.
Taylor Swift mematok harga tiket normal sebesar US$19,89 (Rp312.782; US$1=Rp15.725) yang menyesuaikan dengan tahun lahir dan album kelimanya, 1989 (2014). Sementara itu, ia juga mematok tiket harga US$13,13 (Rp206.477) yang mengikuti angka keberuntungannya untuk penonton anak-anak dan lansia.
Harga tersebut pun terbilang setara di seluruh dunia. Misalnya di Thailand yang tayang 13 Oktober 2023, tiket film ini dijual mulai dari Rp323 ribu hingga yang termahal sebesar Rp633 ribu per tiket.
Meski terbilang jauh di atas harga tiket bioskop pada umumnya --contohnya seperti IMAX di Jakarta yang mencapai Rp100 ribu per tiket-- toh para penggemarnya tetap berduyun-duyun ke bioskop.
Hal itu terlihat dari capaian box office pekan pertama yang diterima oleh The Eras Tour Film. Film dokumenter konser ini mendulang US$97 juta di pasar domestik, dan US$130 juta di pasar global.
Angka itu dengan mudah menempatkan The Eras Tour Film sebagai film konser film dengan pendapatan tertinggi, melebihi rekor film This Is It dari Michael Jackson pada 2009.
Capaian itu juga membuat The Eras Tour Film sebagai film yang rilis pada Oktober dengan pendapatan debut kedua tertinggi sepanjang sejarah Amerika Utara, setelah Joker pada 2019 dengan US$96 juta.
Bandingkan dengan The Exorcist: Believer yang telah tayang sejak 6 Oktober dan sampai saat ini 'hanya' mengumpulkan US$86 juta secara global.
"Oktober ini, tanpa Taylor Swift, akan sangat buruk," kata analis perfilman dari Exhibitor Relations, Jeff Bock. "Ini titik terang yang sangat besar,"
Harga mahal dari tiket film ini memang mendulang jumlah pendapatan penjualan tiket alias box office. Namun, harga itupun menawarkan pengalaman berbeda kepada penggemar Swift, Swiftie.
Film itu menampilkan konser The Eras Tour dengan kualitas gambar yang tajam, dekat dengan Taylor Swift, dan dibumbui efek visual yang tak ada di penampilannya secara langsung.
Kemudian, Taylor Swift memanjakan penggemar dengan mengizinkan para penonton bebas menggunakan ponselnya, termasuk untuk merekam isi film tersebut, berdiri di atas kursi, hingga turun dari kursi dan menari-nari bersama Swifties lainnya.
Lanjut ke sebelah...
Sehingga, seperti yang muncul di media sosial, sesi penayangan film tersebut lebih mirip dengan konser The Eras Tour alih-alih penayangan film secara konvensional.
Hal itu pula yang berkorelasi pada poin ketiga, yakni film ini adalah wadah bagi para penggemar yang tidak kebagian atau mendapatkan tiket konser The Eras Tour, entah karena memang tak didatangi Taylor ataupun kehabisan tiket.
Apalagi mengingat bahwa The Eras Tour sanggup membuat sistem Ticketmaster rusak akibat serbuan 14 juta akun yang memperebutkan 2,5 juta tiket, maka film ini menjadi 'obat' bagi jutaan penggemar Swift yang ingin ikut merasakan The Eras Tour.
"Penetapan harga tiket seperti itu bisa berhasil bila ada permintaan terhadap produknya," kata Bock. "Itu ada, dan beberapa lagi, untuk Taylor Swift,"
Namun Bock menilai tidak semua artis bisa mencapai apa yang bisa dilakukan Taylor Swift lewat film ini. Bagi dia, fenomena ini untuk saat ini berlaku hanya untuk Swift dan Beyonce, yang juga melakukan tur Renaissance World Tour dan merilis film dokumenter konser itu.
"Sulit meniru ini kecuali kau Taylor atau Beyonce," kata Bock, dikutip dari Variety.
Kesulitan untuk mengikuti jejak Taylor ataupun Beyonce itu bukan hanya dari aspek penjualan tiket, tetapi juga dari betapa singkat masa produksi yang diperlukan menggarap film ini.
The Eras Tour Film diketahui diambil pada saat Taylor Swift menggelar konser di Los Angeles pada Agustus 2023. Kemudian hanya dalam sebulan, film ini sudah siap diedarkan di bioskop.
Padahal, kata konsultan perfilman David A Gross, biasanya film blockbuster butuh 18-24 bulan untuk perencanaan, produksi, dan perilisan. Belum lagi untuk masa promosi dan sebagainya.
Sementara dengan The Eras Tour Film? Taylor Swift cuma mengunggah pengumuman di media sosialnya dan mendapatkan "like" hingga lebih dari 5,9 juta, belum lagi promosi organik dari sesama penggemar.
Selain itu, Taylor Swift juga memotong alur distribusi film. Ia memilih langsung bekerja sama dengan AMC Theatre selaku jaringan bioskop untuk menjual tiket dan bekerja sama dengan jaringan bioskop lainnya dalam menayangkan film ini.
Dalam industri film Hollywood, film digarap oleh studio yang kemudian akan menggandeng distributor untuk menyebarkan film itu ke bioskop-bioskop. Hal itu memungkinkan keputusan bisnis akan film ditentukan banyak pihak.
Kejutan dan capaian lainnya dari film ini pun akan muncul selama beberapa pekan ke depan, mengingat ada 102 negara yang akan menayangkan serentak pada gelombang pertama, 13 Oktober.
Sementara itu ada 13 negara yang akan menayangkan film ini pada gelombang kedua pada 3 November 2023, termasuk di Indonesia.
Taylor Swift bukan cuma membuat penggemarnya histeris lewat The Eras Tour Film. Ia juga dianggap telah menyelamatkan industri bioskop dari keterpurukan box office Amerika Utara pada Oktober ini.
Biasanya, pada Oktober, industri film akan berharap pada momen Halloween untuk mendongkrak putaran uang. Namun beberapa film horor yang sudah disiapkan, seperti The Exorcist: Believer, rupanya tak bisa menyelamatkan industri.
Hingga kemudian, Taylor Swift beberapa waktu lalu mengumumkan merilis film The Eras Tour pada 13 Oktober, tanggal yang semula diincar The Exorcist: Believer.
Voila, ledakan antusiasme untuk menyaksikan The Eras Tour Film pun muncul. Padahal tiket untuk menyaksikan film ini lebih dari harga tiket film di Amerika Serikat pada umumnya.
Taylor Swift mematok harga tiket normal sebesar US$19,89 (Rp312.782; US$1=Rp15.725) yang menyesuaikan dengan tahun lahir dan album kelimanya, 1989 (2014). Sementara itu, ia juga mematok tiket harga US$13,13 (Rp206.477) yang mengikuti angka keberuntungannya untuk penonton anak-anak dan lansia.
Harga tersebut pun terbilang setara di seluruh dunia. Misalnya di Thailand yang tayang 13 Oktober 2023, tiket film ini dijual mulai dari Rp323 ribu hingga yang termahal sebesar Rp633 ribu per tiket.
Meski terbilang jauh di atas harga tiket bioskop pada umumnya --contohnya seperti IMAX di Jakarta yang mencapai Rp100 ribu per tiket-- toh para penggemarnya tetap berduyun-duyun ke bioskop.
Hal itu terlihat dari capaian box office pekan pertama yang diterima oleh The Eras Tour Film. Film dokumenter konser ini mendulang US$97 juta di pasar domestik, dan US$130 juta di pasar global.
Angka itu dengan mudah menempatkan The Eras Tour Film sebagai film konser film dengan pendapatan tertinggi, melebihi rekor film This Is It dari Michael Jackson pada 2009.
Capaian itu juga membuat The Eras Tour Film sebagai film yang rilis pada Oktober dengan pendapatan debut kedua tertinggi sepanjang sejarah Amerika Utara, setelah Joker pada 2019 dengan US$96 juta.
Bandingkan dengan The Exorcist: Believer yang telah tayang sejak 6 Oktober dan sampai saat ini 'hanya' mengumpulkan US$86 juta secara global.
"Oktober ini, tanpa Taylor Swift, akan sangat buruk," kata analis perfilman dari Exhibitor Relations, Jeff Bock. "Ini titik terang yang sangat besar,"
Harga mahal dari tiket film ini memang mendulang jumlah pendapatan penjualan tiket alias box office. Namun, harga itupun menawarkan pengalaman berbeda kepada penggemar Swift, Swiftie.
Film itu menampilkan konser The Eras Tour dengan kualitas gambar yang tajam, dekat dengan Taylor Swift, dan dibumbui efek visual yang tak ada di penampilannya secara langsung.
Kemudian, Taylor Swift memanjakan penggemar dengan mengizinkan para penonton bebas menggunakan ponselnya, termasuk untuk merekam isi film tersebut, berdiri di atas kursi, hingga turun dari kursi dan menari-nari bersama Swifties lainnya.
Lanjut ke sebelah...
'Sulit Meniru Ini kecuali Kau Taylor Swift'
Taylor Swift bukan cuma bikin penggemarnya histeris lewat The Eras Tour Film. Ia juga dianggap telah menyelamatkan industri bioskop Amerika Utara bulan ini. (REUTERS/MARIO ANZUONI)
Sehingga, seperti yang muncul di media sosial, sesi penayangan film tersebut lebih mirip dengan konser The Eras Tour alih-alih penayangan film secara konvensional.
Hal itu pula yang berkorelasi pada poin ketiga, yakni film ini adalah wadah bagi para penggemar yang tidak kebagian atau mendapatkan tiket konser The Eras Tour, entah karena memang tak didatangi Taylor ataupun kehabisan tiket.
Apalagi mengingat bahwa The Eras Tour sanggup membuat sistem Ticketmaster rusak akibat serbuan 14 juta akun yang memperebutkan 2,5 juta tiket, maka film ini menjadi 'obat' bagi jutaan penggemar Swift yang ingin ikut merasakan The Eras Tour.
"Penetapan harga tiket seperti itu bisa berhasil bila ada permintaan terhadap produknya," kata Bock. "Itu ada, dan beberapa lagi, untuk Taylor Swift,"
Namun Bock menilai tidak semua artis bisa mencapai apa yang bisa dilakukan Taylor Swift lewat film ini. Bagi dia, fenomena ini untuk saat ini berlaku hanya untuk Swift dan Beyonce, yang juga melakukan tur Renaissance World Tour dan merilis film dokumenter konser itu.
"Sulit meniru ini kecuali kau Taylor atau Beyonce," kata Bock, dikutip dari Variety.
Kesulitan untuk mengikuti jejak Taylor ataupun Beyonce itu bukan hanya dari aspek penjualan tiket, tetapi juga dari betapa singkat masa produksi yang diperlukan menggarap film ini.
The Eras Tour Film diketahui diambil pada saat Taylor Swift menggelar konser di Los Angeles pada Agustus 2023. Kemudian hanya dalam sebulan, film ini sudah siap diedarkan di bioskop.
Padahal, kata konsultan perfilman David A Gross, biasanya film blockbuster butuh 18-24 bulan untuk perencanaan, produksi, dan perilisan. Belum lagi untuk masa promosi dan sebagainya.
Sementara dengan The Eras Tour Film? Taylor Swift cuma mengunggah pengumuman di media sosialnya dan mendapatkan "like" hingga lebih dari 5,9 juta, belum lagi promosi organik dari sesama penggemar.
Selain itu, Taylor Swift juga memotong alur distribusi film. Ia memilih langsung bekerja sama dengan AMC Theatre selaku jaringan bioskop untuk menjual tiket dan bekerja sama dengan jaringan bioskop lainnya dalam menayangkan film ini.
Dalam industri film Hollywood, film digarap oleh studio yang kemudian akan menggandeng distributor untuk menyebarkan film itu ke bioskop-bioskop. Hal itu memungkinkan keputusan bisnis akan film ditentukan banyak pihak.
Kejutan dan capaian lainnya dari film ini pun akan muncul selama beberapa pekan ke depan, mengingat ada 102 negara yang akan menayangkan serentak pada gelombang pertama, 13 Oktober.
Sementara itu ada 13 negara yang akan menayangkan film ini pada gelombang kedua pada 3 November 2023, termasuk di Indonesia.