25 Tahun Believe, Lagu Hit Cher yang Jadi Ikon Budaya Pop
CNN Indonesia
Kamis, 19 Okt 2023 21:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Believe (1998) menjadi lagu Cher paling diputar di Spotify dewasa ini dengan 525 juta kali (Getty Images via AFP/DIMITRIOS KAMBOURIS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pada hari ini 25 tahun yang lalu, Cher merilis sebuah single yang kemudian menjadi megahit terbesar dalam kariernya. Bahkan, lagu bertajuk Believe itu masih didengarkan hingga saat ini.
Lagu dance-pop dan Eurohouse yang dirilis 19 Oktober 1998 tersebut bagai anthem "I Will Survive" ala Gloria Gaynor pada 1978 pada akhir dekade '90-an. Lagu itu hit pada masanya, berbalut kontroversi, dan berkembang menjadi ikon kultural sampai saat ini.
Sebelum menjadi lagu Cher paling diputar di Spotify dewasa ini dengan 525 juta kali, Believe semula merupakan lagu karya Brian Higgins, Matthew Gray, Stuart McLennen, dan Timothy Powell. Setelah berbulan-bulan menawarkan lagu itu, mereka kemudian sampai ke kepala label Warner Bros. pada saat itu, Rob Dickins.
Dickins yang sedang mencari bahan untuk album ke-22 Cher kemudian tertarik dengan lagu itu hanya pada bagian chorusnya. Ia kemudian menunjuk Steve Torch dan Paul Barry untuk melengkapi lagu itu.
Namun ketika sedang dipelajari oleh Cher, penyanyi yang disebut Goddess of Pop itu merasa tak suka dengan bagian lirik pada bait kedua karena terasa cengeng.
Ia pun kemudian mengubah sedikit lirik lagu tersebut, menguatkan kesan pemberdayaan mereka yang patah hati dan kepercayaan diri untuk beranjak dari suasana muram akibat putus cinta.
Believe bukan hanya memiliki lirik yang catchy dan melodi yang membuat pendengarnya bergoyang, tetapi juga mengenalkan penggunaan Auto-Tune pada vokal unik contralto khas Cher.
Auto-Tune sebenarnya merupakan piranti lunak yang digunakan untuk memperbaiki nada vokal. Namun software itu digunakan produser Mark Taylor untuk memberikan efek pada suara Cher.
Hasilnya, suara Cher bagai berada dalam dimensi lain. Berdendang seolah bagai suara misterius yang mempertanyakan para pendengar lagu tersebut. Sesuai dengan narasi dari lirik itu.
"Do you believe in life after love? I can feel something inside me say, I really don't think you're strong enough, no."
Namun ketika wawancara dengan The New York Times pada 1999 seperti diberitakan Page Six, Cher menyebut aslinya Rob Dickins meminta mereka mengurangi penggunaan Auto-Tune tersebut.
"Dia [Rob Dickins] berkata, 'semua orang [di Warner Bros.] menyukai lagu itu tetapi ubah bagian itu'," kata Cher. "Saya bilang, 'kau bisa mengubah bagian itu dengan melewati mayat saya'. Dan itulah akhir dari perbincangan ini,"
"Saya bilang ke Mark sebelum saya pergi, 'jangan biarkan siapapun menyentuh lagu ini, atau saya akan mencabut tenggorokanmu'," kata Cher.
Lanjut ke sebelah..
Cher bersama Taylor dan seorang produser lainnya yang menggarap lagu itu, Brian Rawling, akhirnya memenangkan 'perdebatan' tersebut. Believe pun dikirim ke radio pada 19 Oktober 1998.
Lagu itu kemudian melesat ke puncak tangga lagu. Di Inggris Raya, lagu ini jadi lagu terlaris tahun tersebut dan masih menjadi single tersukses oleh solois perempuan hingga saat ini.
Di Amerika Serikat, Believe bergerak agak lambat. Namun toh lagu itu tetap mencapai puncak nomor satu Billboard Hot 100 pada 13 Maret 199. Cher kamudian menjadi perempuan tertua, pada usia 52 tahun, yang meraih posisi itu.
Believe juga menuai banyak sambutan hangat dari para kritikus. Misalnya adalah Chuck Taylor dari Billboard yang menyebut lagu ini menjadi "yang terbaik yang direkam Cher dalam beberapa tahun terakhir".
Neil Strauss dari The New York Times menyebut lagu ini memiliki lirik yang kaya dan "bittersweet", tapi suara Cher yang dimodif sehingga terasa robotik di bagian chorus membangkitkan kenangan akan pop elektronik era '80-an.
"Ini adalah lagu dengan tema universal-seorang perempuan yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa bertahan dari putus cinta," tulis Neil Strauss.
Suara Cher yang sudah khas kemudian dimainkan oleh Auto-Tune itu secara tidak langsung memperkenalkan metode rekayasa suara tersebut ke berbagai musisi. Mulai dari Radiohead hingga Lil Wayne pun menggunakan cara ini.
Namun Auto-Tune pun menuai kontroversi karena dianggap tidak autentik seiring dengan popularitasnya. Pada 2009-an, sejumlah musisi mengampanyekan 'kebencian' mereka terhadap Auto-Tune, seperti Jay-Z, Christina Aguilera, dan band rock Death Cab for Cutie.
"Penyanyi belajar tentang cara kerjanya, dan mereka menyukainya, tapi mereka memiliki hubungan rumit dengan itu," kata kreator Auto-Tune, Andy Hildebrand, kepada CNN pada 2015. "Mereka tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka membutuhkannya,"
Selain legasi Believe berupa pengenalan Auto-Tune dalam musik, seperti disebut NPR pada 2018, lagu ini juga dianggap sebagai ikon budaya oleh masyarakat yang menggemari lagu house, termasuk oleh komunitas LGBTQ+.
This Is Dig pada 2018 menyebut lagu ini "beresonansi dengan komunitas LGBTQ+ di seluruh dunia, lagu ini mengukuhkan reputasi Cher sebagai ikon pop dan salah satu bintang musik queer-allied".
Believe juga masih menjadi salah satu lagu "legendaris" yang diputar di berbagai klub malam, pesta, hingga saat ini, 25 tahun setelah lagu tersebut pertama kali menghentak radio di penghujung abad ke-20.
Pada hari ini 25 tahun yang lalu, Cher merilis sebuah single yang kemudian menjadi megahit terbesar dalam kariernya. Bahkan, lagu bertajuk Believe itu masih didengarkan hingga saat ini.
Lagu dance-pop dan Eurohouse yang dirilis 19 Oktober 1998 tersebut bagai anthem "I Will Survive" ala Gloria Gaynor pada 1978 pada akhir dekade '90-an. Lagu itu hit pada masanya, berbalut kontroversi, dan berkembang menjadi ikon kultural sampai saat ini.
Sebelum menjadi lagu Cher paling diputar di Spotify dewasa ini dengan 525 juta kali, Believe semula merupakan lagu karya Brian Higgins, Matthew Gray, Stuart McLennen, dan Timothy Powell. Setelah berbulan-bulan menawarkan lagu itu, mereka kemudian sampai ke kepala label Warner Bros. pada saat itu, Rob Dickins.
Dickins yang sedang mencari bahan untuk album ke-22 Cher kemudian tertarik dengan lagu itu hanya pada bagian chorusnya. Ia kemudian menunjuk Steve Torch dan Paul Barry untuk melengkapi lagu itu.
Namun ketika sedang dipelajari oleh Cher, penyanyi yang disebut Goddess of Pop itu merasa tak suka dengan bagian lirik pada bait kedua karena terasa cengeng.
Ia pun kemudian mengubah sedikit lirik lagu tersebut, menguatkan kesan pemberdayaan mereka yang patah hati dan kepercayaan diri untuk beranjak dari suasana muram akibat putus cinta.
Believe bukan hanya memiliki lirik yang catchy dan melodi yang membuat pendengarnya bergoyang, tetapi juga mengenalkan penggunaan Auto-Tune pada vokal unik contralto khas Cher.
Auto-Tune sebenarnya merupakan piranti lunak yang digunakan untuk memperbaiki nada vokal. Namun software itu digunakan produser Mark Taylor untuk memberikan efek pada suara Cher.
Hasilnya, suara Cher bagai berada dalam dimensi lain. Berdendang seolah bagai suara misterius yang mempertanyakan para pendengar lagu tersebut. Sesuai dengan narasi dari lirik itu.
"Do you believe in life after love? I can feel something inside me say, I really don't think you're strong enough, no."
Namun ketika wawancara dengan The New York Times pada 1999 seperti diberitakan Page Six, Cher menyebut aslinya Rob Dickins meminta mereka mengurangi penggunaan Auto-Tune tersebut.
"Dia [Rob Dickins] berkata, 'semua orang [di Warner Bros.] menyukai lagu itu tetapi ubah bagian itu'," kata Cher. "Saya bilang, 'kau bisa mengubah bagian itu dengan melewati mayat saya'. Dan itulah akhir dari perbincangan ini,"
"Saya bilang ke Mark sebelum saya pergi, 'jangan biarkan siapapun menyentuh lagu ini, atau saya akan mencabut tenggorokanmu'," kata Cher.
Lanjut ke sebelah..
Auto-Tune, Dicaci tapi Dibutuhkan
Pada hari ini 25 tahun yang lalu, Cher merilis sebuah single yang kemudian menjadi megahit terbesar dalam kariernya bertajuk Believe. (REUTERS/ANDREW KELLY)
Cher bersama Taylor dan seorang produser lainnya yang menggarap lagu itu, Brian Rawling, akhirnya memenangkan 'perdebatan' tersebut. Believe pun dikirim ke radio pada 19 Oktober 1998.
Lagu itu kemudian melesat ke puncak tangga lagu. Di Inggris Raya, lagu ini jadi lagu terlaris tahun tersebut dan masih menjadi single tersukses oleh solois perempuan hingga saat ini.
Di Amerika Serikat, Believe bergerak agak lambat. Namun toh lagu itu tetap mencapai puncak nomor satu Billboard Hot 100 pada 13 Maret 199. Cher kamudian menjadi perempuan tertua, pada usia 52 tahun, yang meraih posisi itu.
Believe juga menuai banyak sambutan hangat dari para kritikus. Misalnya adalah Chuck Taylor dari Billboard yang menyebut lagu ini menjadi "yang terbaik yang direkam Cher dalam beberapa tahun terakhir".
Neil Strauss dari The New York Times menyebut lagu ini memiliki lirik yang kaya dan "bittersweet", tapi suara Cher yang dimodif sehingga terasa robotik di bagian chorus membangkitkan kenangan akan pop elektronik era '80-an.
"Ini adalah lagu dengan tema universal-seorang perempuan yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa bertahan dari putus cinta," tulis Neil Strauss.
Suara Cher yang sudah khas kemudian dimainkan oleh Auto-Tune itu secara tidak langsung memperkenalkan metode rekayasa suara tersebut ke berbagai musisi. Mulai dari Radiohead hingga Lil Wayne pun menggunakan cara ini.
Namun Auto-Tune pun menuai kontroversi karena dianggap tidak autentik seiring dengan popularitasnya. Pada 2009-an, sejumlah musisi mengampanyekan 'kebencian' mereka terhadap Auto-Tune, seperti Jay-Z, Christina Aguilera, dan band rock Death Cab for Cutie.
"Penyanyi belajar tentang cara kerjanya, dan mereka menyukainya, tapi mereka memiliki hubungan rumit dengan itu," kata kreator Auto-Tune, Andy Hildebrand, kepada CNN pada 2015. "Mereka tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka membutuhkannya,"
Selain legasi Believe berupa pengenalan Auto-Tune dalam musik, seperti disebut NPR pada 2018, lagu ini juga dianggap sebagai ikon budaya oleh masyarakat yang menggemari lagu house, termasuk oleh komunitas LGBTQ+.
This Is Dig pada 2018 menyebut lagu ini "beresonansi dengan komunitas LGBTQ+ di seluruh dunia, lagu ini mengukuhkan reputasi Cher sebagai ikon pop dan salah satu bintang musik queer-allied".
Believe juga masih menjadi salah satu lagu "legendaris" yang diputar di berbagai klub malam, pesta, hingga saat ini, 25 tahun setelah lagu tersebut pertama kali menghentak radio di penghujung abad ke-20.