Siasat Tim Gadis Kretek Bangun Pabrik Rokok dari Nol di Magelang
CNN Indonesia
Minggu, 05 Nov 2023 16:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tim produksi beber cara mereka bangun pabrik rokok dari nol untuk serial Gadis Kretek, termasuk kisah dari kota fiksi M. (Base Entertainment via Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gadis Kretek merupakan serial terbaru Indonesia hasil adaptasi novel bertajuk serupa karya Ratih Kumala. Serial tersebut mengisahkan industri kretek di Jawa Tengah, berikut dengan intrik politik dan asmara di baliknya.
Serial orisinal pertama Netflix Indonesia itu turut mengambil latar waktu era 1964 dengan perusahaan kretek Merdeka Djaja milik Idroes Moerija (Rukman Rosadi) di set fiksi Kota M, Jawa Tengah.
Dalam pengisahannya, perusahaan kretek milik Idroes digambarkan sebagai industri rumahan yang mengedepankan kekeluargaan.
Demi menghidupkan industri kretek tersebut ke layar kaca, seluruh tim artistik serial Gadis Kretek berjuang ekstra keras untuk menyiapkan set yang pada akhirnya mencapai ratusan tersebut.
"Untuk mewujudkan dunia Gadis Kretek, tim artistik membangun lebih dari 100 set di 20 lokasi, dengan 16 set utama tempat sebagian adegan direkam," tulis keterangan resmi tim produksi Gadis Kretek yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (2/11).
Salah satu set utama dalam serial tersebut ternyata rumah tua yang kini menjadi cagar budaya di daerah Magelang, Jawa Tengah. Rumah itu dulunya rumah tempat pemimpin Karesidenan Kedu pada masa kolonial Belanda.
Rumah yang dijadikan pabrik kretek dalam Gadis Kretek itu sempat menjadi tempat Pangeran Diponegoro ditangkap pemerintah kolonial Belanda.
Oleh sebab itu, banyak hal dipersiapkan tim supaya rumah tersebut tak rusak akibat produksi.
"Termasuk menutupi konblok di pekarangan dan lantai keramik, serta menyesuaikan perabotan dan ornamen rumah agar sesuai dengan warna tema," tulis keterangan resmi Netflix.
"Rumah Idroes adalah salah satu lokasi yang paling sulit kami temukan. Kami mencari rumah yang cukup lapang untuk membangun pabrik kretek di dalamnya," cerita sutradara Kamila Andini.
"Ibaratnya, Idroes seperti penjual kue rumahan. Semua dilakukan di dalam rumah, dan semua pekerjanya sudah dianggap keluarga," sambungnya.
Penggambaran situasi industri rumahan tersebut sesuai dengan bayangan dari sang penulis novel Ratih Kumala, yang juga memimpin tim penulis naskah serial Gadis Kretek bersama Tanya Yuson, Kanya K. Priyanti, dan Ambaridzki Ramadhanty.
Ratih mengatakan kisah soal industri kretek milik keluarga besarnya menjadi inspirasi utama novel tersebut.
"Keluarga besar mamaku dulu itu pengusaha kretek lokal di kota kecil di Jawa Tengah," terang Ratih Kumala di sesi wawancara Gadis Kretek di The Hermitage, Jakarta Pusat, Rabu (1/11).
Saat Ratih tumbuh besar, keluarganya kerap menghabiskan masa libur lebaran di daerah Muntilan yang kini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Lanjut ke sebelah...
Dalam kesempatan itu, Ratih mengaku Kota M yang menjadi latar Gadis Kretek adalah kota fiksi dengan inisial langsung dari daerah Muntilan.
"Muntilan, kecamatan sebelum [kota] Magelang," kata Ratih membeberkan Kota M yang ia maksud dalam cerita Gadis Kretek.
"Dulu kakekku tinggalnya di Muntilan, di situ dulu banyak sekali pengusaha kretek, tapi banyak yang collapse juga sekarang," kenangnya.
Cerita soal bisnis kretek milik leluhurnya itu terus diulang keluarga turun temurun. Sehingga, Ratih mengakui sekarang dirinya sudah hafal dengan kisah itu di luar kepala.
"Waktu aku sudah lahir, bisnis kretek yang dibangun kakekku itu sebetulnya sudah enggak ada, jauh sebelum aku lahir," cerita Ratih.
"Tapi, yang tersisa hanyalah cerita-cerita mereka. Mereka (keluarga besar ibunya) sering cerita bahwa di rumah ini tuh dulu isinya pelinting, di pojok situ apa, di pojok situ ngapain," kenangnya.
Demi manifestasi imajinasi yang digambarkan oleh Ratih dalam novelnya, tim desainer dan artistik serial Gadis Kretek pun rela untuk membuat set pabrik tembakau Idroes dari nol.
Set tersebut juga mencakup ruang pabrik, ruang saus, dan gudang tembakau.
Tak hanya itu, demi memiliki tampilan dan suasana pabrik tembakau yang sesuai dengan wujud aslinya di masa lalu, desainer Wihana Erlangga juga melakukan riset secara terpisah.
"Untuk merekonstruksi tampilan dan suasana pabrik tembakau dalam Gadis Kretek, dan juga peralatan yang digunakan di sana, Wihana meneliti perkembangan industri rumahan tembakau di Jawa Tengah pada tahun 1960-an," tulis keterangan resmi tim produksi Gadis Kretek.
"Ia juga berbicara dengan pelinting tembakau perempuan di pabrik rumahan masa kini untuk memahami proses pembuatan kretek, mulai dari pemetikan daun, pengeringan, pelintingan, pengemasan, hingga distribusi," lanjut keterangan tersebut.
Kisah dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala kini dikembangkan menjadi serial orisinal Netflix yang diarahkan Kamila Andini dan Ifa Isfansyah.
Sederet aktor papan atas bergabung dalam proyek serial ini, seperti Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Saloka, Putri Marino, Ibnu Jamil, Tissa Biani, hingga Sheila Dara.
Gadis Kretek ini memiliki lima episode yang tayang di Netflix sejak 2 November.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gadis Kretek merupakan serial terbaru Indonesia hasil adaptasi novel bertajuk serupa karya Ratih Kumala. Serial tersebut mengisahkan industri kretek di Jawa Tengah, berikut dengan intrik politik dan asmara di baliknya.
Serial orisinal pertama Netflix Indonesia itu turut mengambil latar waktu era 1964 dengan perusahaan kretek Merdeka Djaja milik Idroes Moerija (Rukman Rosadi) di set fiksi Kota M, Jawa Tengah.
Dalam pengisahannya, perusahaan kretek milik Idroes digambarkan sebagai industri rumahan yang mengedepankan kekeluargaan.
Demi menghidupkan industri kretek tersebut ke layar kaca, seluruh tim artistik serial Gadis Kretek berjuang ekstra keras untuk menyiapkan set yang pada akhirnya mencapai ratusan tersebut.
"Untuk mewujudkan dunia Gadis Kretek, tim artistik membangun lebih dari 100 set di 20 lokasi, dengan 16 set utama tempat sebagian adegan direkam," tulis keterangan resmi tim produksi Gadis Kretek yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (2/11).
Salah satu set utama dalam serial tersebut ternyata rumah tua yang kini menjadi cagar budaya di daerah Magelang, Jawa Tengah. Rumah itu dulunya rumah tempat pemimpin Karesidenan Kedu pada masa kolonial Belanda.
Rumah yang dijadikan pabrik kretek dalam Gadis Kretek itu sempat menjadi tempat Pangeran Diponegoro ditangkap pemerintah kolonial Belanda.
Oleh sebab itu, banyak hal dipersiapkan tim supaya rumah tersebut tak rusak akibat produksi.
"Termasuk menutupi konblok di pekarangan dan lantai keramik, serta menyesuaikan perabotan dan ornamen rumah agar sesuai dengan warna tema," tulis keterangan resmi Netflix.
"Rumah Idroes adalah salah satu lokasi yang paling sulit kami temukan. Kami mencari rumah yang cukup lapang untuk membangun pabrik kretek di dalamnya," cerita sutradara Kamila Andini.
"Ibaratnya, Idroes seperti penjual kue rumahan. Semua dilakukan di dalam rumah, dan semua pekerjanya sudah dianggap keluarga," sambungnya.
Penggambaran situasi industri rumahan tersebut sesuai dengan bayangan dari sang penulis novel Ratih Kumala, yang juga memimpin tim penulis naskah serial Gadis Kretek bersama Tanya Yuson, Kanya K. Priyanti, dan Ambaridzki Ramadhanty.
Ratih mengatakan kisah soal industri kretek milik keluarga besarnya menjadi inspirasi utama novel tersebut.
"Keluarga besar mamaku dulu itu pengusaha kretek lokal di kota kecil di Jawa Tengah," terang Ratih Kumala di sesi wawancara Gadis Kretek di The Hermitage, Jakarta Pusat, Rabu (1/11).
Saat Ratih tumbuh besar, keluarganya kerap menghabiskan masa libur lebaran di daerah Muntilan yang kini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Lanjut ke sebelah...
Kisah di Balik Kota Fiksi M
Tim produksi beber cara mereka bangun pabrik rokok dari nol untuk serial Gadis Kretek, termasuk kisah dari kota fiksi M. (dok. Netflix)
Dalam kesempatan itu, Ratih mengaku Kota M yang menjadi latar Gadis Kretek adalah kota fiksi dengan inisial langsung dari daerah Muntilan.
"Muntilan, kecamatan sebelum [kota] Magelang," kata Ratih membeberkan Kota M yang ia maksud dalam cerita Gadis Kretek.
"Dulu kakekku tinggalnya di Muntilan, di situ dulu banyak sekali pengusaha kretek, tapi banyak yang collapse juga sekarang," kenangnya.
Cerita soal bisnis kretek milik leluhurnya itu terus diulang keluarga turun temurun. Sehingga, Ratih mengakui sekarang dirinya sudah hafal dengan kisah itu di luar kepala.
"Waktu aku sudah lahir, bisnis kretek yang dibangun kakekku itu sebetulnya sudah enggak ada, jauh sebelum aku lahir," cerita Ratih.
"Tapi, yang tersisa hanyalah cerita-cerita mereka. Mereka (keluarga besar ibunya) sering cerita bahwa di rumah ini tuh dulu isinya pelinting, di pojok situ apa, di pojok situ ngapain," kenangnya.
Demi manifestasi imajinasi yang digambarkan oleh Ratih dalam novelnya, tim desainer dan artistik serial Gadis Kretek pun rela untuk membuat set pabrik tembakau Idroes dari nol.
Set tersebut juga mencakup ruang pabrik, ruang saus, dan gudang tembakau.
Tak hanya itu, demi memiliki tampilan dan suasana pabrik tembakau yang sesuai dengan wujud aslinya di masa lalu, desainer Wihana Erlangga juga melakukan riset secara terpisah.
"Untuk merekonstruksi tampilan dan suasana pabrik tembakau dalam Gadis Kretek, dan juga peralatan yang digunakan di sana, Wihana meneliti perkembangan industri rumahan tembakau di Jawa Tengah pada tahun 1960-an," tulis keterangan resmi tim produksi Gadis Kretek.
"Ia juga berbicara dengan pelinting tembakau perempuan di pabrik rumahan masa kini untuk memahami proses pembuatan kretek, mulai dari pemetikan daun, pengeringan, pelintingan, pengemasan, hingga distribusi," lanjut keterangan tersebut.
Kisah dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala kini dikembangkan menjadi serial orisinal Netflix yang diarahkan Kamila Andini dan Ifa Isfansyah.
Sederet aktor papan atas bergabung dalam proyek serial ini, seperti Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Saloka, Putri Marino, Ibnu Jamil, Tissa Biani, hingga Sheila Dara.
Gadis Kretek ini memiliki lima episode yang tayang di Netflix sejak 2 November.