Menelusuri Alasan Banyak Orang Minang Pakai Nama ala Barat

CNN Indonesia
Kamis, 18 Jan 2024 16:45 WIB
Menelusuri Alasan Banyak Orang Minang Pakai Nama ala Barat
Ilustrasi. Sejarah terutama operasi militer memberi pengaruh bahkan jadi alasan nama-nama orang Minang saat ini bernuansa Barat. (iStockphoto/Mangkelin)

Orang Minangkabau yang awalnya memakai nama dengan kearifan lokal, nuansa Islam dan Arab, atau suku (klan), seperti Koto, Chaniago, Tanjung, Sikumbang bertransformasi.

Sebagian dari mereka memilih nama Jawa demi menyamakan identitas dengan pemerintah. Tak sedikit pula yang memilih menggunakan nama-nama bernuansa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren itu akhirnya menjadi fenomena sosial, melahirkan nama-nama seperti Bastian, John, Nikhol, Maldini, Vidi, Willy, Edwar, Loeis, hingga Sandhy.

Nama-nama itu juga membuktikan orang Minang tidak mengadopsi unsur Barat secara mentah. Dalam perkembangannya, nama-nama ala Barat itu muncul berkat ide dan kreativitas masing-masing.

Dalam laman STEKOM, orang Minang ditulis kerap menyingkat nama atau membuat akronim dari nama panjang sebagai panggilan, seperti Hamka yang jadi singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amarullah.



Faldo Maldini jadi contoh lainnya. Ia mengaku bahwa nama itu diberikan karena bertepatan dengan momen kelahiran pada final Piala Dunia 1990 di Roma yang disiarkan malam dini hari waktu Indonesia.

Nama Faldo Maldini kemudian dipilih karena menjadi akronim dari "Final Piala Dunia di Roma Malam Dini Hari".

Beberapa nama itu juga mengubah ejaan versi Barat menjadi versi lokal, seperti Michael menjadi Maikel, Nicole menjadi Nikhol, atau Edward menjadi Edwar.

Model penamaan orang Minang itu kemudian bertahan hingga era sekarang. Namun, banyak pula orang-orang Minang yang kini menamai anaknya dengan bahasa modern hingga nama-nama dari bahasa Sanskerta.

Di sisi lain, masih banyak pula hingga kini yang menggunakan nama suku sebagai nama belakang mereka, seperti Andrinof Chaniago, Irma Chaniago, Zulhevi Sikumbang, dan banyak lagi.

(frl/chri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Maraknya orang Minangkabau memakai nama bernuansa Barat atau bule jadi fenomena unik yang kerap dibahas masyarakat. Fenomena itu juga telah bertahan lebih dari puluhan tahun hingga sekarang.

Beberapa figur publik keturunan Minang bisa menjadi bukti karena nama-nama mereka punya nuansa orang Barat, seperti Nikita Willy, Jefri Nichol, Vidi Aldiano, hingga politisi Faldo Maldini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga asli Indonesia dan belum tentu mempunyai garis keturunan orang luar negeri.

Namun, jika ditarik lebih jauh, penamaan orang-orang Minang ala Barat bukan tanpa sebab. Sejarah di tanah Minangkabau turut andil dalam menciptakan fenomena itu.

Awalnya, masyarakat Minangkabau memegang kearifan lokal yang dikenal dengan falsafah Alam Takambang Jadi Guru dalam pemberian nama, yang kemudian berkembang ke nama-nama nabi atau sahabat rasul menyusul masuknya Islam ke Minangkabau.

Namun, semua berubah sejak kemunculan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1960-an. PRRI pada masa itu dianggap sebagai gerakan separatisme yang mengancam Republik Indonesia.

[Gambas:Video CNN]



Pemerintah pusat lantas menyikapi munculnya PRRI lewat pendekatan militer. Gerakan yang berbasis di tanah Minang itu ditumpas dengan operasi militer hingga PRRI lenyap.

Operasi militer itu bukan akhir dari sikap pemerintah pusat terhadap orang-orang Minangkabau. Sejarawan Gusti Asnan dalam Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an (2007) mengatakan peristiwa militer itu sempat memicu kecurigaan dari pemerintah terhadap orang Minang.

Pemerintah lantas berusaha mengendalikan situasi pasca-PRRI dengan mengirim banyak personel militer dan pejabat dari Jawa ke Minang.

Imbasnya, pada akhir 1960-an, masyarakat Minangkabau berusaha mencari cara supaya terbebas dari jeratan militer. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melepas identitas Minang mereka, seperti mengganti nama.

Lanjut ke sebelah...

Menelusuri Alasan Banyak Orang Minang Pakai Nama ala Barat

Ilustrasi. Sejarah terutama operasi militer memberi pengaruh bahkan jadi alasan nama-nama orang Minang saat ini bernuansa Barat. (iStockphoto/Mangkelin)

Orang Minangkabau yang awalnya memakai nama dengan kearifan lokal, nuansa Islam dan Arab, atau suku (klan), seperti Koto, Chaniago, Tanjung, Sikumbang bertransformasi.

Sebagian dari mereka memilih nama Jawa demi menyamakan identitas dengan pemerintah. Tak sedikit pula yang memilih menggunakan nama-nama bernuansa Barat.

Tren itu akhirnya menjadi fenomena sosial, melahirkan nama-nama seperti Bastian, John, Nikhol, Maldini, Vidi, Willy, Edwar, Loeis, hingga Sandhy.

Nama-nama itu juga membuktikan orang Minang tidak mengadopsi unsur Barat secara mentah. Dalam perkembangannya, nama-nama ala Barat itu muncul berkat ide dan kreativitas masing-masing.

Dalam laman STEKOM, orang Minang ditulis kerap menyingkat nama atau membuat akronim dari nama panjang sebagai panggilan, seperti Hamka yang jadi singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amarullah.

[Gambas:Video CNN]



Faldo Maldini jadi contoh lainnya. Ia mengaku bahwa nama itu diberikan karena bertepatan dengan momen kelahiran pada final Piala Dunia 1990 di Roma yang disiarkan malam dini hari waktu Indonesia.

Nama Faldo Maldini kemudian dipilih karena menjadi akronim dari "Final Piala Dunia di Roma Malam Dini Hari".

Beberapa nama itu juga mengubah ejaan versi Barat menjadi versi lokal, seperti Michael menjadi Maikel, Nicole menjadi Nikhol, atau Edward menjadi Edwar.

Model penamaan orang Minang itu kemudian bertahan hingga era sekarang. Namun, banyak pula orang-orang Minang yang kini menamai anaknya dengan bahasa modern hingga nama-nama dari bahasa Sanskerta.

Di sisi lain, masih banyak pula hingga kini yang menggunakan nama suku sebagai nama belakang mereka, seperti Andrinof Chaniago, Irma Chaniago, Zulhevi Sikumbang, dan banyak lagi.


HALAMAN:
1 2