Kehadiran kecerdasan buatan (AI) tak terhindarkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam industri film. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tak terhindarkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam industri film yang berlandaskan seni dan kreativitas.
Disrupsi perkembangan teknologi melalui AI membawa sejumlah perubahan dalam cara kerja perfilman. Beberapa bisa diterima, seperti fitur Generative AI dari Adobe misalnya yang mempermudah dan mempercepat proses penyuntingan.
Namun ada pula sejumlah kecanggihan AI yang dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan pekerja film dan televisi, yang menjadi salah satu dasar alasan dari mogok pekerja film dan televisi di Amerika Serikat pada 2023.
Peneliti film Hikmat Darmawan menilai kehadiran AI sebagai alat produktivitas menjadi keniscayaan yang sah untuk diterima. Fitur itu pun sudah dimanfaatkan di lingkungan industri film lokal.
Namun, Hikmat juga menekankan bahwa kehadiran fitur AI itu bukanlah bagian dari revolusi yang dapat mengubah tatanan industri secara ekstrem. Ia justru hadir sebagai bagian dari teknologi yang berkembang dari waktu ke waktu.
"Kalau AI sebagai tools artinya kan dia sebagai alat produktivitas. Kalau itu memang sudah jadi bagian juga," ujar Hikmat kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (22/7).
"Sehingga apa yang berkembang sekarang itu bukan revolusi, tapi konsekuensi logis dari perkembangan teknologi," lanjutnya.
Meski begitu, tidak semua yang ditawarkan AI dapat diadopsi mentah-mentah. Kehadirannya di industri film menjadi kontroversi ketika masuk ranah kreasi, ditandai munculnya model AI generatif yang dapat membuat film hanya dengan perintah atau prompt tertentu.
Pro-kontra tidak jauh dari masalah pelanggaran hak cipta. Model AI diduga kuat mengolah karya seni asli ciptaan manusia hingga wajah orang-orang untuk membuat film tersebut.
British Film Institute (BFI) dalam laporan berjudul "AI in the Screen Sector: Perspectives and Paths Forward" bahkan menemukan lebih dari 130 ribu naskah film dan serial telah digunakan untuk melatih model AI.
Keresahan itu diamini Hikmat Darmawan. Ia merasa etika tetap harus diutamakan saat memanfaatkan AI, apalagi jika mulai bersentuhan dengan ranah kreasi.
"Semuanya pasti harus ada etikanya ya. Karena misal untuk yang paling berantem itu kan etika di wilayah kreativitas," ungkapnya.
"Karena dia cara kerjanya mengikuti pola yang sudah ada, mau enggak mau dia harus mendidik diri dalam artian compiling, dan memakai karya yang sudah ada atau bahkan wajah kita," lanjut Hikmat.
Lanjut ke sebelah...
Kehadiran AI dengan berbagai fungsinya di industri film menghasilkan respons yang beragam pula bagi pelaku industri. Sebagian besar menerima eksistensi teknologi itu selama koridornya masih sebagai alat untuk menunjang produktivitas.
CEO Visinema sekaligus sutradara Angga Dwimas Sasongko menjadi salah satu figur yang meyakini kegunaan tersebut. Ia tidak menyangkal eksistensi teknologi itu untuk meningkatkan produktivitas, selama sifatnya kolaboratif.
Namun, di sisi lain, ia juga menerapkan batas tegas bahwa AI tidak dapat dipakai dalam konteks kreasi. Angga meyakini ranah itu menjadi milik manusia, dan prinsip itu pun diterapkan di setiap karya-karyanya.
"Kalau saya pribadi, ini adalah alat untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat kolaborasi. Makanya saya sendiri bilang bahwa AI itu untuk kolaborasi dan meningkatkan produktivitas," ungkapnya.
"Buat kami, kami tidak percaya [AI] itu untuk dilakukan sebagai kreasi. Dan kreasi itu masih human touch yang nomor satu buat kami," sambung Angga.
Sementara itu, keberadaan model AI di ruang lingkup produksi film di luar negeri memicu dualisme. Ada pihak yang menyambut antusias, tetapi banyak pula yang skeptis dengan wacana tersebut.
Masih dari laporan BFI, survei pada 2023 mencatat 17 persen produser di Inggris Raya sudah memanfaatkan AI, sementara 40 persen lain berencana melakukan hal serupa.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa AI menjadi pilihan yang semakin sulit untuk dihindari. Namun, perubahan itu perlu disertai dengan perhatian khusus terhadap ancaman pelanggaran hak cipta di balik prosesnya.
Laporan BFI kemudian menyimpulkan AI generatif memang tak sempurna, tetapi semakin sesuai untuk tugas-tugas kreatif. Direktur Riset BFI Rishi Coupland menyatakan masa depan sektor film mungkin bakal bergantung dengan seberapa jauh optimalisasi AI selagi mencegah risikonya menjadi nyata.
"Taruhannya tinggi. Tanpa perencanaan strategis, sektor film di Inggris mungkin akan kalah bersaing dengan pesaing global dan studio-studio baru yang berbasis AI," ujar Coupland, dikutip dari Deadline.
"Masa depan sektor ini mungkin bergantung kepada kemampuannya untuk mengoptimalkan manfaat AI sekaligus mengurangi risikonya," sambungnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tak terhindarkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam industri film yang berlandaskan seni dan kreativitas.
Disrupsi perkembangan teknologi melalui AI membawa sejumlah perubahan dalam cara kerja perfilman. Beberapa bisa diterima, seperti fitur Generative AI dari Adobe misalnya yang mempermudah dan mempercepat proses penyuntingan.
Namun ada pula sejumlah kecanggihan AI yang dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan pekerja film dan televisi, yang menjadi salah satu dasar alasan dari mogok pekerja film dan televisi di Amerika Serikat pada 2023.
Peneliti film Hikmat Darmawan menilai kehadiran AI sebagai alat produktivitas menjadi keniscayaan yang sah untuk diterima. Fitur itu pun sudah dimanfaatkan di lingkungan industri film lokal.
Namun, Hikmat juga menekankan bahwa kehadiran fitur AI itu bukanlah bagian dari revolusi yang dapat mengubah tatanan industri secara ekstrem. Ia justru hadir sebagai bagian dari teknologi yang berkembang dari waktu ke waktu.
"Kalau AI sebagai tools artinya kan dia sebagai alat produktivitas. Kalau itu memang sudah jadi bagian juga," ujar Hikmat kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (22/7).
"Sehingga apa yang berkembang sekarang itu bukan revolusi, tapi konsekuensi logis dari perkembangan teknologi," lanjutnya.
Meski begitu, tidak semua yang ditawarkan AI dapat diadopsi mentah-mentah. Kehadirannya di industri film menjadi kontroversi ketika masuk ranah kreasi, ditandai munculnya model AI generatif yang dapat membuat film hanya dengan perintah atau prompt tertentu.
Pro-kontra tidak jauh dari masalah pelanggaran hak cipta. Model AI diduga kuat mengolah karya seni asli ciptaan manusia hingga wajah orang-orang untuk membuat film tersebut.
British Film Institute (BFI) dalam laporan berjudul "AI in the Screen Sector: Perspectives and Paths Forward" bahkan menemukan lebih dari 130 ribu naskah film dan serial telah digunakan untuk melatih model AI.
Keresahan itu diamini Hikmat Darmawan. Ia merasa etika tetap harus diutamakan saat memanfaatkan AI, apalagi jika mulai bersentuhan dengan ranah kreasi.
"Semuanya pasti harus ada etikanya ya. Karena misal untuk yang paling berantem itu kan etika di wilayah kreativitas," ungkapnya.
"Karena dia cara kerjanya mengikuti pola yang sudah ada, mau enggak mau dia harus mendidik diri dalam artian compiling, dan memakai karya yang sudah ada atau bahkan wajah kita," lanjut Hikmat.
Lanjut ke sebelah...
'Human touch' masih nomor satu
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) tak terhindarkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam industri film. (iStockphoto)
Kehadiran AI dengan berbagai fungsinya di industri film menghasilkan respons yang beragam pula bagi pelaku industri. Sebagian besar menerima eksistensi teknologi itu selama koridornya masih sebagai alat untuk menunjang produktivitas.
CEO Visinema sekaligus sutradara Angga Dwimas Sasongko menjadi salah satu figur yang meyakini kegunaan tersebut. Ia tidak menyangkal eksistensi teknologi itu untuk meningkatkan produktivitas, selama sifatnya kolaboratif.
Namun, di sisi lain, ia juga menerapkan batas tegas bahwa AI tidak dapat dipakai dalam konteks kreasi. Angga meyakini ranah itu menjadi milik manusia, dan prinsip itu pun diterapkan di setiap karya-karyanya.
"Kalau saya pribadi, ini adalah alat untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat kolaborasi. Makanya saya sendiri bilang bahwa AI itu untuk kolaborasi dan meningkatkan produktivitas," ungkapnya.
"Buat kami, kami tidak percaya [AI] itu untuk dilakukan sebagai kreasi. Dan kreasi itu masih human touch yang nomor satu buat kami," sambung Angga.
Sementara itu, keberadaan model AI di ruang lingkup produksi film di luar negeri memicu dualisme. Ada pihak yang menyambut antusias, tetapi banyak pula yang skeptis dengan wacana tersebut.
Masih dari laporan BFI, survei pada 2023 mencatat 17 persen produser di Inggris Raya sudah memanfaatkan AI, sementara 40 persen lain berencana melakukan hal serupa.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa AI menjadi pilihan yang semakin sulit untuk dihindari. Namun, perubahan itu perlu disertai dengan perhatian khusus terhadap ancaman pelanggaran hak cipta di balik prosesnya.
Laporan BFI kemudian menyimpulkan AI generatif memang tak sempurna, tetapi semakin sesuai untuk tugas-tugas kreatif. Direktur Riset BFI Rishi Coupland menyatakan masa depan sektor film mungkin bakal bergantung dengan seberapa jauh optimalisasi AI selagi mencegah risikonya menjadi nyata.
"Taruhannya tinggi. Tanpa perencanaan strategis, sektor film di Inggris mungkin akan kalah bersaing dengan pesaing global dan studio-studio baru yang berbasis AI," ujar Coupland, dikutip dari Deadline.
"Masa depan sektor ini mungkin bergantung kepada kemampuannya untuk mengoptimalkan manfaat AI sekaligus mengurangi risikonya," sambungnya.