Seleb-seleb Hollywood Sempat Terjebak Buntut Serangan AS ke Venezuela
Operasi militer AS baru-baru ini di Venezuela, yang mengakibatkan penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menimbulkan konsekuensi mengganggu yang jauh melampaui ranah politik dan geopolitik.
Salah satu dampak yang paling tidak biasa dan viral di media sosial adalah banyak selebriti dan pelancong terkenal, seperti Leonardo DiCaprio hingga Natalie terdampar di pulau-pulau Karibia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka tidak dapat terbang kembali ke Amerika Serikat dan tujuan lain karena penutupan sementara wilayah udara di kawasan tersebut.
Semuanya dimulai pada 3 Januari, ketika Gedung Putih mengonfirmasi pasukan AS telah melakukan operasi di Caracas untuk menangkap Maduro, yang dituduh Washington melakukan perdagangan narkoba dan kejahatan yang terkait dengan jaringan kriminal internasional.
Operasi itu disertai pemboman yang ditargetkan dan pengerahan angkatan laut yang signifikan di Karibia, yang mendorong Administrasi Penerbangan Federal (FAA) untuk menutup wilayah udara di sebagian besar wilayah Karibia karena alasan keamanan.
Penutupan tersebut berdampak parah pada ribuan wisatawan yang telah menghabiskan liburan mereka di destinasi, seperti St. Barts, Anguilla, Saint Martin, dan Puerto Rico, memaksa mereka untuk memperpanjang masa tinggal mereka.
Di antara mereka yang paling banyak dibicarakan di media internasional adalah bintang-bintang Hollywood, seperti Leonardo DiCaprio, Natalie Portman, Queen Latifah, Mike Tyson, dan pengusaha kehidupan malam Richie Akiva.
DiCaprio, misalnya, harus membatalkan kehadirannya di Palm Springs International Film Awards.
Ia absen padahal dijadwalkan untuk menerima penghargaan. Hal itu karena aktor tidak dapat meninggalkan St. Barts karena pembatasan penerbangan yang diberlakukan setelah operasi di Venezuela.
Media sosial dibanjiri dengan unggahan dari para pelancong yang terkejut atau pasrah, dari selebriti hingga wisatawan biasa.
Beberapa mencoba mencapai pulau-pulau tetangga melalui laut untuk mencari penerbangan alternatif, tetapi permintaan yang tinggi dan kursi yang terbatas mempersulit rencana tersebut.
Terlepas dari dampaknya pada kehidupan profesional dan pribadi banyak orang, respons di lapangan beragam.
Sebagian orang, dengan sumber daya yang cukup, mengubah kemunduran itu menjadi pesta dadakan, sementara yang lain menghadapi biaya tambahan dan tekanan logistik dalam menjadwal ulang penerbangan atau akomodasi mereka.
Masalah-masalah tersebut akhirnya teratasi, bagi sebagian orang dalam waktu kurang dari 48 jam.
(chri)