Menteri Mukhtarudin Luncurkan Migrant Center UI di Dies Natalis ke-76

*** | CNN Indonesia
Rabu, 04 Feb 2026 16:47 WIB
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin meresmikan Migrant Center Universitas Indonesia (UI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin meresmikan Migrant Center Universitas Indonesia (UI) dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-76 UI, yang digelar di Balairung UI, Depok, Selasa (2/2/2026). Peluncuran ini menandai dimulainya paradigma baru tata kelola pekerja migran Indonesia yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan daya saing global.

Sinergi besar ini melibatkan Kementerian P2MI, Universitas Indonesia, Pemerintah Kota Depok, dan Pemerintah Kota Sukabumi. Kerja sama ini dirancang untuk membangun ekosistem penyediaan tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Mukhtarudin juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) empat pihak antara Kementerian P2MI, Universitas Indonesia, Pemerintah Kota Depok, dan Pemerintah Kota Sukabumi.

Kolaborasi strategis ini ditujukan untuk membangun ekosistem penyediaan tenaga kerja migran yang terampil, tersertifikasi, dan terlindungi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

"Kita sedang membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Melalui kemitraan dengan UI sebagai pusat keunggulan dan Pemerintah Kota Depok serta Sukabumi sebagai basis wilayah, kita memastikan setiap pekerja migran berangkat memiliki kompetensi dan pulang dengan kesejahteraan yang berkelanjutan," ujar Mukhtarudin.

Adapun poin-poin strategis kemitraan tersebut yakni menjadi pusat inovasi, riset, dan pusat pelatihan yang menjembatani standar akademik dengan kebutuhan industri global dan menjamin bahwa pekerja migran Indonesia memiliki sertifikasi dan keahlian yang diakui dunia internasional.

Mukhtarudin menegaskan bahwa kehadiran Migrant Center di kampus merupakan bukti nyata partisipasi aktif dunia pendidikan dalam memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar kerja internasional.

"Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, kita sedang menjalankan pergeseran paradigma besar dalam tata kelola pekerja migran," ujarnya.

"Kita tidak lagi hanya menempatkan tenaga kerja, tetapi menyediakan skilled workers dengan kualifikasi medium-high skill. Inilah jalan menuju kemandirian dan martabat bangsa di mata dunia," tegas Mukhtarudin di hadapan sivitas akademika UI.

Ia menjelaskan, Migrant Center UI akan berperan sebagai pusat inovasi, riset, pelatihan, dan advokasi berbasis akademik yang menjembatani kebutuhan industri global. Melalui pusat ini, pekerja migran Indonesia diharapkan memiliki standar kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara internasional.

Menurutnya, keterlibatan UI, Pemkot Depok, dan Pemkot Sukabumi menandai lahirnya ekosistem baru. Kampus menjadi motor penggerak riset dan pelatihan, sementara pemerintah daerah menjadi garda terdepan dalam penyiapan warga.

"Ini adalah kerja keroyokan untuk memastikan perlindungan dari sebelum berangkat hingga kembali ke tanah air," tandas Muktarudin.

Akselerasi Dampak untuk Indonesia Emas

Peluncuran Migrant Center UI sejalan dengan tema Dies Natalis ke-76 UI, "UI Unggul Impactful, Fondasi Mandiri, Akselerasi Dampak." Kementerian P2MI optimistis, sinergi empat pihak ini dapat mempercepat terwujudnya penyediaan tenaga kerja migran Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.

Langkah ini tidak hanya melibatkan dunia pendidikan, tetapi juga mencakup kerja sama erat dengan pemerintah daerah sebagai garda terdepan pelayanan warga.

Mukhtarudin juga menggarisbawahi tiga poin kolaborasi utama. Pertama, MoU dengan Universitas Indonesia yakni pembentukan Migrant Center sebagai pusat kajian, pelatihan, dan advokasi berbasis riset untuk memastikan pekerja migran Indonesia memiliki daya saing global.

Kedua, MoU dengan Wali Kota Depok yakni penguatan basis data dan perlindungan keluarga pekerja migran di wilayah penyangga ibu kota.

Terakhir, MoU dengan Wali Kota Sukabumi di mana optimalisasi kantong-kantong pemberangkatan pekerja migran melalui edukasi dan pengawasan yang lebih ketat di tingkat lokal.

"Kita ingin riset UI tidak hanya berhenti di perpustakaan, tapi menjadi fondasi mandiri bagi perlindungan pekerja kita," tegas Mukhtarudin.

Mukhtarudin berharap kolaborasi antara kementerian, UI, serta Pemkot Depok dan Sukabumi dapat menjadi pilot project bagi daerah lain.

"Semoga UI terus menjadi motor penggerak pembangunan Indonesia yang inklusif. Dengan adanya Migrant Center dan dukungan para Walikota, kita menciptakan ekosistem pelindungan yang utuh dari hulu hingga hilir," pungkas Mukhtarudin.

(***/***) Add as a preferred
source on Google