Review Film: Sentimental Value

Gisella Keilsa | CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 20:30 WIB
Review film: Lewat Sentimental Value, Joachim Trier menggambarkan betapa berantakan dan rumitnya proses memaafkan seorang, terutama ayah sendiri.
Review film: Lewat Sentimental Value, Joachim Trier menggambarkan betapa berantakan dan rumitnya proses memaafkan seorang, terutama ayah sendiri. (dok. Mer Film/Eye Eye Pictures/MK2 Productions via IMDb)
img-title Endro Priherdityo
4
Lewat Sentimental Value, Joachim Trier menggambarkan betapa berantakan dan rumitnya proses memaafkan seorang, terutama ayah sendiri.
Jakarta, CNN Indonesia --

Lewat Sentimental Value, Joachim Trier menggambarkan betapa berantakan dan rumitnya proses memaafkan seorang, terutama ayah sendiri, atas segala beban emosi dan psikologis yang ditanggung oleh anaknya.

Sebuah masalah yang mungkin akan sangat terhubung oleh sebagian masyarakat, bagaimana trauma psikologis dan emosi justru bersumber dari orang tua yang semestinya menjadi tempat bernaung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trier menggambarkan kesulitan tersebut lewat alur yang cukup berantakan, mewakili bagaimana otak manusia bekerja saat mengingat sesuatu dalam kondisi penuh distorsi.

Bersama dengan Eskil Vogt yang ikut duduk di kursi penulis, Trier membawakan melankolia Nora Borg (Renate Reinsve) atas luka-luka dari keluarga disfungsional dalam suasana yang sunyi, emosional, dan menusuk.

Lewat pengadeganan yang dramatis di awal, Trier mencoba menyampaikan keputusan Gustav Borg (Stellan Skarsgård) yang absen dalam pengasuhan anak-anaknya, adalah awal mula semua drama ini terjadi.

Hampa yang dirasakan Nora dalam jiwanya akibat ketiadaan Gustav juga ditampilkan secara teatrikal dalam kisah perempuan tersebut saat menjadi aktris teater yang rapuh semasa dewasa.

Namun Trier tidak ingin melabeli Nora yang mengalami gangguan kecemasan hanya sebagai orang sakit. Ia menunjukkan bahwa gangguan mental sering kali tidak terlihat dramatis.

Hal itu terlihat dari panggung penuh sorotan yang merupakan bagian dari coping mechanism Nora untuk lari dari hidupnya yang sunyi dan hampa. Meski begitu, napas yang tertahan, kekakuan tubuh, dan tatapan mata yang kosong Renate Reinsve sudah cukup menggambarkan apa yang terjadi di dalam jiwa Nora.

Sentimental ValueReview film: Lewat Sentimental Value, Joachim Trier menggambarkan betapa berantakan dan rumitnya proses memaafkan seorang, terutama ayah sendiri. (dok. Mer Film/Eye Eye Pictures/MK2 Productions via IMDb)

Keheningan dan visual yang disajikan Trier bersama sinematografer Kasper Tuxen memperkuat akting Renate Reinsve, seperti setiap helaan napas atau gesekan pakaian menjadi terdengar sangat intim dan nyata.

Sementara itu, masa lalu yang dijabarkan dalam film ini diceritakan melalui suara narasi perempuan yang tenang, seolah penonton mendengarkan dongeng pilu turun-temurun dan menyelami jiwa Nora yang sunyi tapi penuh luka.

Hania Rani yang bertanggung jawab dalam urusan musik dengan bijak memutuskan untuk fokus menguatkan narasi dalam cerita melalui musik latar yang minim, serta menebalkan suara angin, burung, atau suara alam lainnya yang memperkuat suasana sentimental.

Namun dari semua sajian dramatis itu, Joachim Trier dan Eskil Vogt menegaskan hal yang penting, bahwa trauma broken home ini sebenarnya adalah warisan atau turun temurun yang kemudian dibawakan lewat kisah Gustav dengan ibunya.

Trier ingin memperlihatkan bahwa Gustav tidak ujug-ujug menjadi ayah yang buruk dan menjadi satu-satunya penyebab luka untuk Nora juga adiknya, Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas).

Gustav sejatinya juga memiliki trauma masa lalu yang tanpa ia sadar berdampak pada kehidupannya di masa depan, saat menjadi seorang ayah untuk Nora dan Agnes. Trier seolah mengingatkan bahwa trauma lintas generasi merupakan lingkaran setan yang tak akan putus bila tidak dihentikan.

Stellan Skarsgård tampil gemilang dalam membawakan sosok sutradara yang lebih mencintai ego dan validasi publik dibanding keluarganya sendiri itu. Namun di balik karakter Gustav itu, Skarsgård menegaskan ada sosok pria rapuh yang bersembunyi di belakang kamera.

Sentimental ValueReview film Sentimental Value: Stellan Skarsgård tampil gemilang dalam membawakan sosok sutradara yang lebih mencintai ego dan validasi publik dibanding keluarganya sendiri itu. (dok. Mer Film/Eye Eye Pictures/MK2 Productions via IMDb)

Meski begitu, ada ganjalan moral dalam karakter Gustav yang terasa terlalu mudah untuk dimaafkan ini. Kisah Gustav seolah memberikan celah untuk mewajarkan tindakan penelantaran anak demi ambisi orang tuanya.

Keputusan Trier untuk menggunakan proyek film sebagai sarana komunikasi tidak langsung dengan Nora mungkin terlihat sebagai aksi yang jujur bagi seorang seniman. Namun bagi sebagian penonton, melihat betapa besarnya ego seorang ayah untuk mengutamakan karyanya di atas kondisi mental anaknya sendiri tetap terasa hal yang berat untuk diwajarkan.

Namun terlepas dari cerita Sentimental Value yang lambat dan sangat filosofis, Joachim Trier memberikan sajian masterpiece di menit-menit terakhir. Waktu yang sangat tepat untuk mengakhiri sebuah siklus menyakitkan.

[Gambas:Youtube]

(end)


[Gambas:Video CNN]