Review Film: Sinners
Endro Priherdityo
Keputusan Ryan Coogler mengombinasikan kisah sejarah, budaya masyarakat kulit hitam, musik, agama, dengan horor terutama vampir dalam Sinners memang tidak konvensional.
Dengan racikan tersebut, Sinners sebenarnya terasa sangat spesifik untuk golongan tertentu atau mungkin ceritanya akan tidak akan bisa dimengerti oleh sebagian orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Sinners menunjukkan seberapa cerdas seorang Coogler. Meracik cerita yang bila hanya pada taraf gagasan itu terasa absurd, tetapi bisa dieksekusi menjadi tontonan yang baru tapi terasa akrab.
Coogler memulai Sinners dengan bobot sejarah dan budaya masyarakat kulit hitam dengan cukup kental. Ia membawa penonton ke zaman bahkan ketika Indonesia belum berdiri, tetapi rasialisme sudah kental di Amerika Serikat.
Era segregasi rasial Hukum Jim Crow yang kencang pada masa itu jelas menjadi latar yang sangat pas untuk menguatkan visi Coogler yang kental akan budaya masyarakat kulit hitam.
Coogler menempatkan narasi 'berat' soal masyarakat kulit hitam pada masa itu lewat perjalanan Samuel 'Sammie' Moore alias Preacherboy yang tertarik untuk bermain musik di bisnis sepupunya, si kembar Smokestack.
Peran si kembar Smokestack yang dimainkan dengan brilian oleh Michael B Jordan bukan hanya sebagai hero dalam film ini, tetapi juga membawakan sedikit latar budaya juga sejarah pada masa itu.
Pembagian ini memungkinkan Coogler dengan mulus mengisahkan cerita masa lalu masyarakat kulit hitam dengan segala unsurnya, sejarah, musik, budaya, hingga problematika sosial dan personal.
Semuanya tersaji dengan santai, ringan, tapi tetap mengena dan memastikan penonton paham betul akan kondisi sosial-politik-budaya yang terjadi pada masa itu.
Review Film Sinners (2025): Sinners menunjukkan seberapa cerdas seorang Ryan Coogler. Meracik cerita yang bila hanya pada taraf gagasan terasa absurd, tetapi bisa dieksekusi menjadi tontonan yang baru tapi terasa akrab. (Warner Bros. Pictures via IMDb) |
Hanya saja, Coogler memang tidak memberikan cukup banyak segregasi rasial yang kentara di masyarakat secara umum seperti pada Hidden Figures (2016) atau Green Book (2018).
Coogler lebih memilih menempatkan segregasi tersebut pada kisah yang ekstrem dengan membawa Ku Klux Klan sebagai villain dan menyandingkannya dengan vampir. Pada saat transisi inilah, Coogler terasa kurang mulus dalam meracik cerita.
Menyandingkan vampir dengan KKK mungkin terasa sebagai gagasan yang unik dan segar. Apalagi keduanya sama-sama "berkulit pucat" dan mengintimidasi calon korbannya dengan kekuatan yang mereka punya.
Hanya saja, racikan bagian konflik yang mempertemukan kelompok kulit hitam dengan kubu villain ini seolah mengubah film ini yang semula dimulai dengan 'berkelas' menjadi film popcorn pada umumnya.
Sebenarnya penurunan itu bisa dipahami sebagai cara agar penonton tetap terjaga dan bertahan hingga akhir durasi seperti yang dilakukan film popcorn lainnya. Beruntungnya, meski saat transisi terasa ganjil, Coogler bisa memandu cerita dengan mulus setelahnya hingga akhir.
Meski cerita Sinners mungkin terasa ganjil bagi sebagian orang, sajian visual dari kamera Autumn Durald Arkapaw selaku sinematografer, hasil editing Michael P. Shawver, orkestrasi suara dari Ludwig Göransson bisa dibilang bagian film yang sepenuhnya mulus.
Selain itu, desain produksi, riasan, juga kostum yang digunakan sudah sangat mendukung cerita Ryan Coogler dan memperkuat unsur kultural dalam Sinners serta membawa penonton kembali ke masa hampir seratus tahun lalu.
Bagian lainnya yang menjadi kekuatan dari Sinners adalah performa Michael B Jordan. Memerankan karakter kembar bukan hanya memainkan peran dua kali, tetapi yang sulit adalah memisahkan sifat karakter tersebut dengan segala ceritanya.
Review Film Sinners (2025): Sinners bisa menjadi salah satu film yang patut untuk ditonton bila ingin melihat Michael B Jordan dan penampilan aktingnya yang prima. (Warner Bros. Pictures via IMDb) |
Kerja keras Jordan dalam Sinners jelas terbayarkan. Penampilannya dalam film ini mempertebal catatan kualitas aktingnya. Bukan hanya itu, film ini menegaskan alasan ia layak pernah menyandang Sexiest Man Alive pada 2020.
Yang jelas, Sinners bisa menjadi salah satu film yang patut untuk ditonton bila ingin melihat Michael B Jordan dan penampilan aktingnya yang prima. Tak mengherankan bila ia menjadi salah satu kandidat kuat untuk menerima piala Best Actor dalam berbagai ajang penghargaan film.
Bukan cuma itu, Sinners juga jadi bukti keluwesan Ryan Coogler dalam menyajikan tayangan genre-hybrid, tanpa kehilangan visinya untuk mengisahkan cerita juga budaya masyarakat kulit hitam.
Meski sempat goyah di tengah, Coogler setidaknya sukses membawakan sejarah masyarakat kulit hitam dengan megah, indah, sekaligus menghibur dalam perspektif industri layar lebar.
(end)[Gambas:Video CNN]

Review Film Sinners (2025): Sinners menunjukkan seberapa cerdas seorang Ryan Coogler. Meracik cerita yang bila hanya pada taraf gagasan terasa absurd, tetapi bisa dieksekusi menjadi tontonan yang baru tapi terasa akrab. (Warner Bros. Pictures via IMDb)
Review Film Sinners (2025): Sinners bisa menjadi salah satu film yang patut untuk ditonton bila ingin melihat Michael B Jordan dan penampilan aktingnya yang prima. (Warner Bros. Pictures via IMDb)