Review Film: Kokuho

Christie Stefanie | CNN Indonesia
Rabu, 18 Feb 2026 20:15 WIB
Review film: Kokuho adalah mahakarya visual tentang dedikasi ekstrem di dunia Kabuki. Emosional, megah, dan sangat layak dinantikan di layar lebar.
Review film: Kokuho adalah mahakarya visual tentang dedikasi ekstrem di dunia Kabuki. Emosional, megah, dan sangat layak dinantikan di layar lebar. (GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications)
img-title Christie Stefanie
5
Review film: Kokuho adalah mahakarya visual tentang dedikasi ekstrem di dunia Kabuki. Emosional, megah, dan sangat layak dinantikan di layar lebar.
Jakarta, CNN Indonesia --

Penantian panjang untuk menyaksikan Kokuho di Indonesia terasa sangat sepadan. Film ini menyuguhkan kekayaan sinematik yang luar biasa di setiap aspek, membayar tuntas ekspektasi penonton yang telah lama menantikannya.

Sebagai potret hidup perjalanan karier seorang aktor Kabuki legendaris, Kokuho mengukuhkan posisinya dalam jajaran tradisi sinema yang mengeksplorasi pengorbanan personal demi mencapai kesempurnaan seni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutradara Lee Sang-il berhasil memberikan porsi yang seimbang antara gejolak batin karakter dengan kemegahan seni kabuki yang ditampilkan secara total di layar lebar.

Film ini mendedikasikan durasinya yang panjang untuk menangkap keindahan fisik sekaligus penderitaan para aktornya.

Diadaptasi dari novel tentang dunia kabuki, Lee Sang-il menjadikan panggung bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan medan pembuktian, arena pertempuran, dan cermin yang merefleksikan harga dari sebuah garis keturunan serta kedisiplinan total.

Dengan durasi hampir tiga jam, Kokuho secara ambisius merangkum rentang waktu 50 tahun yang berakhir pada 2014.

[Gambas:Video CNN]

Ceritanya dibagi menjadi beberapa fase kehidupan, yakni masa kecil, remaja, hingga dewasa dari dua karakter utama. Setiap bagian memiliki struktur narasi tersendiri yang membuat alurnya yang lambat tetap terasa memikat dan menghanyutkan.

Pusat gravitasi film ini terletak pada persaingan dan persahabatan Kikuo dan Shunsuke. Keduanya terjebak dalam obsesi terhadap kesempurnaan yang nyaris mengabaikan sisi kemanusiaan.

Kikuo merupakan sosok penuh gairah dengan bakat alami yang luar biasa, namun cenderung dingin dan egois di luar panggung. Ia mampu mengorbankan apa pun demi menjadi yang terbaik dalam kabuki

Kontras dengan Kikuo, Shunsuke tidak memiliki ambisi yang meledak-ledak. Ia lebih membumi, manusiawi, dan sering mencari pelarian dalam alkohol serta kehidupan di luar dunia kabuki.

Film Jepang Kokuho (2025). (GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications) Review Kokuho: Ryo Yoshizawa dan Ryusei Yokohama sukses menggambarkan Kikuo yang ambisius melawan Shunsuke yang manusiawi dalam duel bakat vs garis keturunan.(GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications)

Film Jepang Kokuho (2025). (GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications)Review Kokuho: Yoshizawa dan Yokohama juga paripurna sebagao onnagata, menghidupkan ritualitas kewanitaan yang tampak mistis di atas panggung. (GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications)

Ryo Yoshizawa dan Ryusei Yokohama menghadirkan penampilan berlapis yang sangat indah. Setelah berlatih seni onnagata (peran perempuan yang dimainkan pria) hampir dua tahun, keduanya berhasil menghidupkan ritualitas kewanitaan yang tampak mistis di atas panggung.

Namun, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Sōya Kurokawa sebagai Kikuo muda. Setelah tampil memukau dalam Monster (2023), Kurokawa kembali membuktikan kelasnya.

Ia berhasil memanifestasikan dualitas karakter dengan halus: antara kerentanan anak yang rindu pengakuan dan disiplin baja yang hampir menakutkan. Tatapan matanya yang intens memberikan fondasi emosional yang kuat bagi transisi karakter Kikuo dewasa.

Sōya Kurokawa sebagai Kikuo muda dalam film Jepang Kokuho (2025). (GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications)Review Kokuho: Sōya Kurokawa kembali membuktikan dia akting muda berbakat. Tanpa range akting Kurokawa yang luar biasa, transformasi Kikuo menjadi sosok yang dingin dan penuh obsesi mungkin tidak akan terasa seautentik itu. (GKIDS/Amuse/Aniplex/Asahi Shimbun Publications)

Secara visual, Kokuho tampil luar biasa indah. Semua berkat kerja sama seluruh tim di belakang kamera.

Sinematografer Sofian El Fani dengan piawai menangkap detail puitis, seperti kepingan salju yang jatuh, ranting yang bergetar, hingga close-up wajah yang sunyi dalam durasi yang cukup lama hingga menciptakan rasa gelisah yang artistik bagi penonton.

Desainer produksi Yohei Taneda tidak hanya menciptakan beragam ruang yang tampak nyata dalam berbagai periode waktu, tetapi juga tata panggung kabuki yang bergaya dan penuh warna.

Demikian pula, kostum karya Kumiko Ogawa mencakup pakaian yang mendefinisikan karakter serta kostum yang rumit untuk pertunjukan, beberapa di antaranya dirancang untuk pergantian kostum di atas panggung yang menegangkan.

Kerja sama solid antara tim kostum, rias, dan sinematografi membuat penonton terpukau menyaksikan penampilan kabuki, memperlihatkan keindahan karya yang menuntut pengabdian total dari pelakunya.

Meski memukau, film ini bukannya tanpa catatan. Durasi yang panjang terkadang terasa melelahkan dengan lompatan waktu yang membuat beberapa titik balik penting terjadi di luar panggung.

Seiring berjalannya waktu dari dekade ke dekade, narasi terkadang terasa terlalu padat, terutama dalam perubahan alur cerita para karakter di paruh kedua.

Penonton mungkin akan beberapa kali mengira film telah mencapai puncaknya sebelum benar-benar berakhir.

Namun, ketika penampilan puncak muncul di layar, segala keraguan tersebut luruh seketika. Film tersebut ditutup dengan grand finale yang memang tidak mungkin digantikan.

Karakter perempuan juga digambarkan secara dangkal dan hanya menjadi latar belakang ambisi tokoh pria, meskipun hal ini bisa dibaca sebagai refleksi dunia kabuki yang memang didominasi laki-laki.

Pada akhirnya, tiga jam berlalu dengan begitu kaya. Kokuho bukan hanya sebuah film, melainkan perayaan sekaligus kritik terhadap dedikasi tanpa batas.

Kokuho menjadi satu karya yang mampu menumbuhkan rasa hormat yang mendalam terhadap seni tradisional, bahkan bagi penonton yang sebelumnya tidak familier dengannya.

[Gambas:Youtube]

(chri/chri)