Review Film: Disclosure Day

Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia
Selasa, 16 Jun 2026 20:05 WIB
Review film: Disclosure Day cuma jadi arena bermain Steven Spielberg memanfaatkan berbagai kecanggihan teknologi modern untuk mewujudkan segala imajinasinya. (dok. Universal Pictures/Amblin Entertainment via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama besar dan pengalaman segunung Steven Spielberg dan David Koepp di dunia film fiksi ilmiah sayangnya tak bisa membebaskan Disclosure Day menjadi film yang mudah untuk dinikmati.

Duo yang sudah bekerja sama sejak era Jurassic Park (1993) ini tampak memiliki segudang keinginan yang ingin ditumpahkan dalam naskah dan di layar lebar dalam Disclosure Day.

Namun mereka lupa, segunung keinginan justru seringkali berubah jadi jebakan mematikan karena membuat tujuan menjadi buram dan bias. Hal itulah yang terjadi dengan alur cerita film ini.

Ambisi Spielberg dan Koepp untuk mengisahkan cerita konspirasi yang dibalut dengan aksi laga, thriller, teknologi canggih, AI, dan tetap berusaha sehumanis mungkin, membuat Disclosure Day jadi sajian yang tak jelas bentuknya.

Koepp dan Spielberg terlihat berusaha membuat Disclosure Day dibangun dari ceceran potongan konflik yang kemudian bertemu pada satu titik dan berjalan bersama ke depan.

Sayangnya, perekat ceceran potongan konflik itu direkat pada sesuatu yang tak kuat sehingga membuat penonton seolah bagai James Bond yang mesti loncat dari satu gedung ke gedung lain secara ugal-ugalan selama lebih dari separuh dari 2,5 jam durasi film ini.

Hal itu membuat film ini kerap terseok-seok dari satu plot ke plot lain sehingga ritme cerita dan tensi emosi tidak stabil. Baru separuh penonton masuk dalam satu bagian cerita, film ini sudah berpindah dimensi ke cerita yang lain.

Namun ada juga sejumlah adegan terasa dipanjang-panjangkan oleh Spielberg dan Koepp padahal relevansinya terhadap cerita tidak signifikan.

Belum lagi dengan seabrek topik fiksi ilmiah dan konspirasi yang dimasukkan Koepp, membuat film ini seolah merangkum segala konspirasi yang ada di Reddit seperti keberadaan alien hingga teknologi pengendali pikiran, ditambah aksi laga ala-ala popcorn movie.

Review film Disclosure Day (2026): Emily Blunt tampil brilian dalam film ini, bahkan menjadi salah satu penampilan terbaik aktris Inggris tersebut. (dok. Universal Pictures/Amblin Entertainment via IMDb)

Koepp dan Spielberg juga masih berada dalam konflik tipikal fiksi ilmiah di film ini, yakni ilmuwan yang naif dan polos bersama warga sipil melawan pemerintah dengan militer dan lembaga rahasia berlagak macam gangster.

Tentu saja dua sineas yang kondang di dunia film fiksi ilmiah ini sudah membagi dengan jelas siapa yang protagonis dan antagonis, yang kadang terlihat begitu stereotipe di layar.

Misalnya saja Daniel Kellner (Josh O'Connor) yang sangat brilian dalam Matematika, tetapi melakukan tindakan-tindakan di luar logika dan tak bisa menghitung secara rasional saat harus menentukan sesuatu.

Atau dengan organisasi rahasia WARDEX yang menjadi 'bad guy' dalam film ini. Dengan segala kecanggihan teknologi dan pekerjanya yang luar biasa pintar, rasanya janggal mereka selalu ketinggalan beberapa langkah dari seorang ilmuwan dan seorang sipil.

Segala sambatan di atas bukan berarti bahwa Disclosure Day adalah film buruk. Justru gagasan yang dibawa Koepp dan Spielberg ini terbilang sangat juicy dan berpotensi untuk menjadi perbincangan hangat di dunia nyata.

Misalnya adalah teknologi pengendali pikiran yang dikembangkan pemerintah. Hal ini menjadi salah satu aspek paling memikat dalam film karena membuka ruang diskusi tentang pengawasan, manipulasi informasi, hingga kontrol terhadap individu.

Belum lagi soal bagaimana pemerintah menyimpan sesuatu yang sebenarnya terjadi di dunia nyata dan berdampak pada masyarakat secara umum, hanya karena tak ingin menimbulkan keresahan massal. Tentu UFO jadi topik yang paling sering disinggung.

Review Disclosure Day (2026): Josh O'Connor juga mampu mengimbangi aksi Blunt. Ia memberikan kedalaman emosi pada karakter Daniel yang kerap melakukan hal kontradiktif. Foto: (dok. Universal Pictures/Amblin Entertainment via IMDb)

Termasuk, pesan logis yang dibawa oleh Spielberg dan Koepp melalui Suster Maura (Elizabeth Marvel): "Buat apa Tuhan menciptakan semesta yang sangat luas ini bila hanya untuk kita di Bumi?"

Pada titik ini, Disclosure Day terlihat sangat menjanjikan sebagai thriller konspirasi yang cerdas serta relevan dengan isu-isu modern. Di sisi lain, Spielberg tetap menghadirkan ciri khas yang selama ini melekat dalam banyak karyanya, yakni penekanan pada dimensi emosional karakter.

Hubungan Margaret dan Daniel menjadi pusat emosi cerita, terutama ketika keduanya berusaha mewujudkan "hari pengungkapan" yang diyakini akan mengubah dunia. Pendekatan ini memberi sentuhan manusiawi di tengah cerita yang dipenuhi teknologi dan konspirasi.

Namun sayangnya dalam sejumlah bagian, penekanan emosional tersebut justru kerap mematahkan momentum ketegangan yang sudah terbangun dengan baik. Ketika film sedang berada pada puncak misteri atau aksi, cerita kerap beralih pada konflik personal yang membuat ritmenya terasa terputus.

Andai porsi thriller dan konspirasi diperbesar, terutama dalam proses pengungkapan keberadaan alien kepada publik, film ini berpotensi menghadirkan pengalaman yang jauh lebih kuat dan konsisten.

Apalagi Spielberg terlihat ingin berpesan bahwa di balik segala teknologi canggih dan konspirasi besar, manusia tetap sebagai makhluk dengan rasa takut, harapan, dan terbatas. Sayangnya itu belum kawin penuh dengan thriller dan segala aksi blockbuster di film ini.

Terlepas dari berbagai persoalan pada naskahnya, Disclosure Day tetap mampu memberikan pengalaman audiovisual yang memuaskan.

Dari sisi visual, Janusz Kamiński di balik kamera memberikan sinematografi yang sangat indah. Sorotan kamera, permainan cahaya, hingga sejumlah one-take-shot disajikan dengan sangat apik.

Memang dari aspek visual, Disclosure Day seolah seperti arena bermain Steven Spielberg memanfaatkan kecanggihan teknologi modern untuk mewujudkan segala imajinasinya sejak era E.T. the Extra-Terrestrial (1982).

Mulai dari permainan kamera drone untuk bird-view dan one-take-shot hingga perwujudan alien dan teknologinya. Spielberg jelas memanfaatkan bujet produksi fantastis hingga US$115 juta untuk mewujudkan segala imajinasinya di dunia nyata, tentu saja tanpa AI.

Selain itu tentu saja tata suara dan musik dari sang legenda, John Williams, adalah bagai sajian spiritual dalam film ini. Scoring dari Williams dan lagu penutup film ini begitu indah, intens, dan menggugah. Akan sangat mengherankan bila nama Williams tak muncul di ajang Piala Oscar mendatang.

Penampilan para pemain turut menjadi nilai tambah. Emily Blunt tampil brilian dalam film ini, bahkan menjadi salah satu penampilan terbaik aktris Inggris tersebut. Emosi dan segala perubahan karakter Margaret ditutur dengan mulus.

Sementara itu Josh O'Connor juga mampu mengimbangi aksi Blunt. Ia memberikan kedalaman emosi pada karakter Daniel yang kerap melakukan hal kontradiktif. Keduanya bisa menyajikan chemistry yang cukup kuat dan menjadi alasan untuk tetap menyaksikan film ini hingga detik terakhir.

Sayangnya penampilan brilian Blunt dan O'Connor tak bisa menghapus jejak keganjilan yang sudah dirasa sejak awal dari naskah Disclosure Day. Apalagi, alih-alih membuka, Steven Spielberg dan David Koepp justru mengakhiri film ini dengan hal yang tidak terungkap.

Mungkin alasan cliffhanger tersebut adalah sebagai godaan dari Spielberg untuk saga selanjutnya. Namun dengan perjalanan yang sudah dilalui selama 2,5 jam di film ini, tawaran untuk ikut perjalanan selanjutnya sudah kadung memudar di tengah jalan.

Atau, bisa jadi Steven Spielberg memang tak ingin sungguh-sungguh memberitahukan sesuatu di Disclosure Day.

(end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK