Film Perjuangan Rakyat Indonesia Selain Perang, Cocok saat HUT RI
Bumi Manusia (2019)
Bumi Manusia merupakan film garapan sutradara Hanung Bramantyo yang mengisahkan perjuangan melawan diskriminasi dan ketidakadilan dalam sistem kolonial melalui pendidikan, tulisan, dan keberanian bersuara.
Berlatar Hindia Belanda pada awal abad ke-20, film ini mengikuti Minke (Iqbaal Ramadhan), seorang pemuda pribumi yang berkesempatan mengenyam pendidikan di HBS. Ia kemudian dekat dengan Annelies (Mawar de Jongh), gadis Indo-Belanda sekaligus putri Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika hukum kolonial berusaha memisahkan Annelies dari keluarganya, Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha melawan ketidakadilan tersebut.
Film ini diberi label 17+ atau untuk penonton berusia 17 tahun ke atas. Bumi Manusia tayang dan bisa ditonton di Netflix.
Budi Pekerti (2023)
Budi Pekerti merupakan film garapan sutradara Wregas Bhanuteja yang mengangkat perjuangan mempertahankan martabat, keluarga, dan pekerjaan di tengah penghakiman di era digital.
Prani (Sha Ine Febriyanti), seorang guru BK, menghadapi masalah setelah video dirinya berselisih dengan seorang pengunjung pasar viral di media sosial. Video itu memicu gelombang hujatan hingga membuat Prani terancam kehilangan pekerjaannya.
Lihat Juga : |
Kedua anaknya, Tita (Prilly Latuconsina) dan Muklas (Angga Yunanda), berusaha membantu sang ibu menghadapi persoalan tersebut. Pada saat yang sama, keluarga mereka juga berusaha melindungi Didit (Dwi Sasono), ayah mereka yang tengah mengalami depresi.
Film ini diberi label 13+ atau untuk penonton berusia 13 tahun ke atas. Budi Pekerti tayang dan dapat ditonton di Netflix.
Eksil (2024)
Eksil merupakan film dokumenter garapan Lola Amaria yang mengangkat kisah para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri dengan beasiswa pemerintah Presiden Soekarno pada 1965.
Peristiwa politik yang terjadi pada tahun tersebut membuat para pelajar dan mahasiswa tersebut tidak dapat kembali ke Indonesia. Mereka tersebar di berbagai negara, seperti China, Uni Soviet, Belanda, Cekoslowakia, Jerman, dan Swedia.
Sebagian dari mereka kehilangan kewarganegaraan dan harus menjalani kehidupan jauh dari keluarga serta tanah air. Mereka kemudian menjadi eksil dan hidup selama puluhan tahun di luar Indonesia tanpa dapat kembali ke kampung halaman.
Lihat Juga : |
Melalui kisah para eksil, film ini menggambarkan perjuangan mempertahankan identitas, membangun kehidupan baru di negeri orang, serta kerinduan untuk kembali ke tanah air.
Eksil diberi label 13+ atau untuk penonton berusia 13 tahun ke atas. Film ini sebelumnya ditayangkan melalui pemutaran terbatas di sejumlah bioskop Indonesia.
(van/chri)

