Review Film: 'Bumi Manusia'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 17:22 WIB
Review Film: 'Bumi Manusia' Film Bumi Manusia yang diadaptasi dari karya Pramoedya Ananta Toer hadir di bioskop Indonesia pada 15 Agustus. (Dok. Falcon Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Minke nama panggilannya. Seorang pribumi yang belajar di HBS (Hogere Burger School), alias sekolah menengah umum untuk kaum Belanda dan para priyayi. Di masa-masa remajanya, ia jatuh cinta pada Annelies, gadis cantik yang kekanak-kanakan, putri Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema.

Kisah cinta Minke dan Annelis tumbuh di antara sekian banyak permasalahan sosial dan ketidakadilan di masa penjajahan Belanda. Lahir dari jari sastrawan Pramoedya Ananta Toer lewat buku Bumi Manusia.

Tentu Bumi Manusia tidak hanya berpusat pada kisah cinta. Ada juga perjuangan Nyai Ontosoroh, istri simpanan Herman Mellema yang dipandang miring oleh masyarakat, tapi kemudian belajar menjadi pengusaha ulung. Bumi Manusia juga menjadi fase ketika kesadaran Minke terhadap rasa kebangsaan dan kemanusiaannya bangkit lewat pertemuan dan benturan dengan berbagai sosok.


Tiga puluh sembilan tahun sejak bukunya rilis -kemudian sempat dilarang beredar di era Orde Baru-cerita Minke kini muncul di layar perak. Bumi Manusia diadaptasi ke dalam film yang digarap oleh Sutradara Hanung Bramantyo. Indonesia tentu telah berubah.

Hal itu juga yang tampaknya mendorong perbedaan dari segi penyajian serta pengemasan cerita ke dalam sebuah media baru, dari buku ke film. Sepanjang sejarah adaptasi beda wahana -misalnya dari buku ke film-bukan perkara mudah untuk bisa memindahkan secara penuh cerita atau elemen.

Dalam konteks ini usaha Hanung untuk membumikan kisah Bumi Manusia patut diapresiasi, meski dengan sejumlah catatan. Salman Aristo sebagai penulis naskah pun cukup lengkap menghadirkan alur cerita serta karakter-karakter. Di antaranya momen pertemuan Annelies (Mawar Eva de Jongh) dan Minke (Iqbaal Ramadhan), kekaguman Minke pada Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), diskriminasi terhadap pribumi, hingga perlawanan di pengadilan kulit putih.

Hanya saja, Hanung yang menargetkan pasar lebih luas khususnya generasi milenial, harus mengorbankan beberapa hal. Di antaranya, gejolak batin di balik kisah tokoh-tokohnya. Bahkan durasi film yang mencapai tiga jam nyatanya tidak cukup memenuhi seluruh elemen.

Patut diakui, Bumi Manusia lebih ringan dan sederhana di layar kaca. Kompleksitas masalah dan adegan dalam buku dilepaskan dari penggambaran di filmnya. Misalnya, cara pikir dan pandang Minke yang berubah dari semula menganggap Eropa hebat dan kemudian berubah melihat pribumi yang sebenarnya memiliki kemampuan tak terkalahkan.

Percakapan Minke dan Jean Marais, perdebatan Minke dengan Sarah dan Miriam de la Croix, hingga diskusinya dengan sang guru favorit yang mengajarkan dia bahasa dan sastra di HBS, Magda Peters, hanya mendapat porsi sedikit di film.

Polemik demi polemik terasa hanya sekadar hadir demi kelengkapan, tapi tidak jauh masuk ke dalam pergulatan batin masing-masing karakter. Kisah pun lebih banyak berpusat pada Nyai, Minke, dan Annelies.

Pemilihan Iqbaal Ramadhan untuk menarik minat penonton milenial mungkin berhasil. Namun, ia belum sanggup menghadirkan sosok Minke sebagai karakter pemuda pergerakan secara sempurna. Iqbaal dalam beberapa adegan seperti hilang arah, dengan mata yang belum mampu menyampaikan gejolak emosi dalam sosok Minke.

Sebelum syuting dimulai, Hanung sebenarnya telah menyiapkan Iqbaal dengan berbagai perlakuan seperti membuat sang aktor merasakan jadi 'budak', makan nasi di lantai, serta melakukan semua pekerjaannya sendiri. Tapi rasa-rasanya belum sepenuhnya berhasil.

Sebaliknya, Mawar de Jongh terbilang cukup baik membawa karakter Annelies. Yang masih menjadi catatan, karakternya yang kekanak-kanakan dan manja masih kurang tereksplorasi. Mawar bisa saja terbantu dalam eksplorasi karakter itu saat berjumpa May Marais yang berkunjung ke rumah bersama Minke dan Jean. Namun, adegan itu dibuang dalam versi filmnya.

Sementara Nyai Ontosoroh yang diperankan Sha Ine Febriyanti patut diapresiasi. Terlebih, dalam momen ia menjalani pengadilan kulit putih dan diperlakukan sebagai masyarakat kelas ketiga.

Sayangnya, banyak gejolak dan kisah hidup Nyai Ontosoroh tak diceritakan lebih dalam. Misalnya, saat Nyai begitu membenci sang ayah karena menjualnya kepada seorang pengusaha demi jabatan, juga sang ibu yang dia anggap tak berupaya keras membela dirinya. Betapa pergolakan itu sebenarnya memiliki korelasi emosi yang begitu besar dengan adegan penutup, ketika mereka kalah dalam pengadilan dan harus melepas Annelies ke Belanda.

Untungnya, adegan itu tertolong lagu pengiring 'Ibu Pertiwi' yang dinyanyikan Iwan Fals, Once, dan Fiersa Besari. Momen itu membuat bulu kuduk berdiri, terlebih saat Nyai menuturkan kutipan legendaris Pram: "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Karakter lain yang patut mendapat apresiasi adalah Jerome Kurnia yang memainkan Robert Suurhof. Dalam adegan pembuka, kepiawaian Jerome bertingkah sebagai orang Eropa dengan kemampuannya berbahasa Belanda cukup mengesankan. Dialog serta tingkah pembantu Annelies juga menjadi salah satu adegan yang memberi kesegaran dan memancing gelak tawa penonton.

Maiko, salah satu pelacur di rumah Bordil Babah Ah Tjong yang diperankan Kelly Tandiono turut menjadi salah satu karakter yang menarik. Sayangnya, kisah hidup Maiko di film tidak diungkap secara mendalam. Padahal, ini menjadi satu bagian menarik tentang pergolakannya bertahan hidup. Selain itu, karakter tangan kanan Nyai Ontosoroh, Darsam, yang diperankan Whani Darmawan, pun digambarkan begitu kuat.

Selebihnya, karakter-karakter seperti Herman Mellema, Jan Dapperste atau Panji Darman, Robert Mellema, Ayah dan Ibu Minke terasa tepat.

Dari sisi sinematografi, usaha Hanung untuk menghadirkan situasi kehidupan masa kolonialisme cukup berhasil. Hanung pun cukup berhasil menciptakan adegan pembuka dengan menghadirkan arsip asli kehidupan masa kolonialisme dengan narasi yang disampaikan Minke - persis seperti buku.

Di balik itu, masih ada beberapa catatan teknis, khususnya pemilihan warna (tone) yang terlalu mencolok. Demikian pula beberapa bagian CGI yang kentara, terutama saat menampilkan gambar kapal pesiar.

Secara keseluruhan, film Bumi Manusia bisa dinikmati. Setidaknya, usaha Hanung mengadaptasi Bumi Manusia dengan segala persoalan menterjemahkan buku ke medium film bisa dikatakan cukup berhasil. (vws)