Menghargai Perbedaan, Rahasia Siantar Kota Paling Toleran

CNN Indonesia
Selasa, 17 Nov 2015 11:20 WIB
Kota Siantar kembali diperbincangkan orang karena sebuah penelitian yang dilakukan oleh Setara Institute. Ini kota paling toleran se-Indonesia.
Ilustrasi (stokpic/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aku sebenarnya lahir di Kota Medan, Sumatera Utara. Tapi masa kanak-kanak sampai remaja aku hidup di Kota Pematang Siantar. Untuk kalian ketahui, Pematang Siantar adalah sebuah kota berhawa lumayan sejuk, yang jaraknya sekitar 129 kilometer di selatan Medan.

Kalau kalian hendak ke Danau Toba, pasti akan melintas di Pematang Siantar. Kota ini terkenal dengan makanannya yang enak dan tentu saja becak motor khas yang memakai sepeda motor BSA buatan Inggris, dari era Perang Dunia II. 

Kemarin kota ini kembali diperbincangkan orang karena sebuah penelitian yang dilakukan oleh Setara Institute. Ini adalah LSM yang mempromosikan demokrasi dan perdamaian di Indonesia.

Siantar, menurut penelitian terbaru Setara, adalah kota paling toleran di Indonesia.

Tanpa tunggu lama-lama, aku langsung membagikan berita ini kepada teman-teman di jaringan sosial mediaku. Kebanyakan mereka sudah merantau ke kota lain. Sebagian memang masih menetap di sana.

Jelas, kami langsung ramai membicarakan masa-masa ketika kami masih bersama-sama di kota itu. Sampai akhirnya kami semua sampai pada kata sepakat: ya memang benar, Siantar memang kota yang toleran.

Siantar itu, seperti kota-kota lain, sebenarnya juga dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan agama lho. Masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, ada banyak di sana. Masyarakatnya datang dari berbagai latar belakang etnis.

Memang, yang dominan adalah orang Batak, terutama Batak Simalungun. Tapi Batak, menurutku, tak lagi identik dengan agama tertentu.

Dan isi keluarga di sana pun kian hari kian beragam. Seperti di keluargaku. Ada Kristen, ada Katolik, dan ada Islam. Ada Batak, ada Jawa, dan ada Minang.

Kota ini sendiri punya motto bernama “Sapangambei Manoktok Hitei”. Ungkapan dari bahasa Simalungun ini kira-kira artinya adalah: bersama-sama/bergotong royong membangun.

Aku ingat, ketika bersekolah, perbedaan agama atau suku, tak pernah menjadi halangan kami dalam menggelar berbagai macam kegiatan di sekolah. Menjelang acara Natal, banyak teman dari agama lain ikut membantu mempersiapkan.

Begitu pun ketika persiapan hari besar Islam misalnya. Aku pun sering ikut membantu teman-teman mengurusnya. Persahabatan kami tak pernah melihat kamu dari agama apa, atau suku apa.

Apakah 100 persen aman damai? Ya tidak juga. Perselisihan pasti ada.

Tapi, yang  kuingat, di tengah keluarga, selalu prinsip kekeluargaan yang diutamakan. Ketika di sekolah, prinsip kebersamaan dan gotong royong, yang diutamakan. Dengan begitu, kami tak terganggu oleh berbagai perbedaan.

Nah, itu ceritaku. Apa ceritamu? Berbagi yuk di CERITA KITA. Kirim naskah, foto, atau video kalian ke student.cnnindonesia.com. Atau melalui email ke [email protected] dan [email protected].

Berbagi itu asyik! Add as a preferred
source on Google