Masjid Khusus Perempuan Berdiri di Los Angeles

CNN Indonesia
Rabu, 04 Feb 2015 01:37 WIB
Merasa tak diterima di masjid umum, kaum muslimat di Los Angeles mendirikan masjid khusus perempuan.
Kaum muslimat di salah satu masjid di Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Reuters/Rebecca Cook)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika tiba waktunya menunaikan salat, Hasna Maznavi harus naik ke lantai dua di area khusus jamaah perempuan, di sebuah masjid di selatan California. Meskipun sudah sepi dan hanya sedikit jamaah pria di sana, Maznavi selalu diminta berdoa di lantai dua.

“Saya mulai merasa tak diterima,” kata penulis komedi dan lulusan sekolah film berusia 29 tahun itu. Dia kemudian mendirikan sebuah gerakan bernama Woman’s Mosque of America.

Maznavi didaulat menjadi Presiden Dewan Masjid. Wakilnya adalah Sana Muttalib, seorang pengacara berusia 31 tahun. Mereka ingin mendirikan masjid khusus kaum perempuan. Di tengah kota Los Angeles, keinginan itu tercapai.  

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibadah pertama Woman’s Mosque of America digelar pada Jumat (30/1) di sebuah bangunan milik Pico Union Project, sebuah ruang ibadah yang bebas dipakai umat agama mana pun di tengah kota Los Angeles.  

Edina Lekovic, Direktur Kebijakan dan Program di Muslim Public Affairs Council, didaulat memberikan kutbah. Sekitar 100 jamaah yang hadir kemudian diundang mengikuti diskusi keagamaan usai salat.

Rencananya, selain ibadah dan diskusi, Woman’s Mosque of America bakal mengadakan kegiatan lain di tempat itu. Di luar acara ibadah, kaum pria diperbolehkan ikut.

Pemisahan perempuan dan pria di masjid adalah isu yang banyak disoroti kaum muslimat di Amerika Serikat. Hind Makki, seorang penulis asal Chicago, membuat sebuah website pada 2012 yang disebut Side Entrances.

Makki mengundang kaum muslimat mengirimkan foto atau menceritakan pengalamannya saat beribadah.

Makki mengatakan, banyak jamaah pria tak memahami pengalaman mereka. “Bahwa ini adalah pengalaman yang tipikal bagi kaum perempuan di masjid,” katanya, seperti dikutip Huffington Post, Jumat (30/1). “Anda pergi ke masjid dan Anda tak bisa melihat kubah, tidak bisa melihat imam, tidak bisa melihat arsitektur, yang Anda lihat hanya tembok besar di depanmu.” Add as a preferred
source on Google