Sebuah Pelukan Runtuhkan Prasangka terhadap Muslim

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 12/02/2015 16:43 WIB
Seorang pria berjanggut berdiri di jalan Kota Toronto, matanya ditutup, mengaku Muslim dan berharap mendapatkan pelukan kepercayaan. Seorang pria berjanggut berdiri di jalan Kota Toronto, matanya ditutup, mengaku Muslim dan berharap mendapatkan pelukan kepercayaan. (Youtube/AsoOmii Jay)
Toronto, CNN Indonesia -- Mustafa Mawla, seorang pria Muslim berjanggut berdiri dengan mata tertutup dan merentangkan tangan di sebuah jalan di Toronto, Kanada.

Di dekat kakinya terdapat kertas bertuliskan, "Saya seorang Muslim. Saya dilabeli sebagai teroris dan saya percaya kalian. Apakah kalian percaya saya? Peluklah saya."

Mawla sedang melakukan eksperimen sosial untuk melihat bagaimana reaksi masyarakat sekitar. Sebagai bukti, Mawla mendokumentasikan eksperimen tersebut dalam sebuah video.


Rekaman audio visual tersebut akhirnya diunggah melalui YouTube dengan deskripsi, "Kami berharap dapat meruntuhkan batasan dan menyebarkan kesadaran tentang Islamofobia."

Sejak diunggah pada 31 Januari lalu, hingga saat berita diturunkan pada Kamis (12/2), video bertajuk Blind Trust Project ini telah ditonton lebih dari 940 ribu kali.

"Saya seorang Muslim. Saya dilabeli sebagai teroris dan saya percaya kalian. Apakah kalian percaya saya?" tulisan di kaki Mustafa Mawla. (Youtube/AsoOmii Jay)
Dalam video rekaman, terlihat Mawla berdiri menanti pelukan di Yonge-Dundas Square. Beberapa warga Kanada datang menghampirinya dan memberikan pelukan.

Seperti dilansir The Independent pada Rabu (11/2), proyek yang dianggap berhasil ini digagas oleh Assma Galuta. Ia menggandeng rumah produksi Time Vision untuk mewujudkan program impiannya tersebut.

Menjelaskan proses awal tercetusnya ide proyek ini, Galuta berkata, "Banyak dari kami telah dibuat merasa tersingkir. Muslim Barat harus menghadapi krisis identitas saat mencoba masuk dalam kebudayaan Kanada, tapi tetap memegang teguh kepercayaannya."

Proyek ini dilakukan di tengah gelombang Islamofobia yang deras, menyusul penembakan di parlemen Kanada, lalu serangan ke majalah Charlie Hebdo dan kafe kosher di Paris, Perancis, yang menewaskan 17 orang. Kemarin, tiga mahasiswa Muslim di Chapel Hill, Amerika Serikat, ditembak mati. Walau penembaknya mengaku membunuh karena cekcok, namun masyarakat luas menduga kasus itu dilandasi kebencian terhadap agama.

Galuta menuturkan bahwa tujuan Mawla dibalut penutup mata adalah untuk memberikannya kepercayaan penuh. Selain itu, Galuta juga ingin menunjukkan bahwa Mawla merasa menjadi bagian dari komunitas.

"Dengan ditutup matanya, semua orang bisa menyakitinya atau merasa sangat marah," ucap Galuta.

Namun, Galuta mengaku sangat tersentuh ketika melihat masyarakat memberikan respons positif ketimbang meneriaki Mawla dengan cemoohan Islamofobia.

"Dan pada akhirnya ini adalah sebuah kebersamaan," katanya.

[Gambas:Youtube] (den/stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK