ISIS Makin Kuat, Mantan Diplomat PBB: Ini Salah AS

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Rabu, 25/02/2015 09:30 WIB
ISIS Makin Kuat, Mantan Diplomat PBB: Ini Salah AS ISIS tumbuh di tengah konflik Suriah dan berkembang hingga ke Irak, menebar teror dengan eksekusi dan pembunuhan. (Reuters)
Sharjah, CNN Indonesia -- Mantan diplomat PBB dan bekas mediator konflik Suriah, Lakhdar Brahimi, mengatakan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang harus disalahkan atas berkembangnya ISIS di Irak dan Suriah.

Berbicara di Forum Komunikasi Pemerintah Internasional 2015, IGCF, Senin lalu, di Sharjah, Uni Emirat Arab, Brahimi mengatakan bahwa perkembangan ISIS yang terjadi saat ini akibat invasi AS ke Irak tahun 2003.

Menurut Brahimi, dari invasi tersebut AS menciptakan lingkungan yang memungkinkan pemberontakan tumbuh subur di Irak, membantu kelompok seperti ISIS berkembang pesat.


"AS yang harus disalahkan. Mereka menciptakan kondisi yang memungkinkan ISIS untuk tumbuh," kata Brahimi, dikutip dari Al-Arabiya.

ISIS berkembang di tengah konflik berdarah di Suriah dan menjalar hingga ke Irak, berujung pada deklarasi Kekhalifahan Islam tahun lalu. Pemimpin kelompok ini adalah Abu Bakar al-Baghdadi, yang sebelumnya terlibat dalam perang di Irak dan Suriah. ISIS menebar teror dengan pembunuhan dan eksekusi mati warga Barat dan kelompok minoritas di Irak dan Suriah.

Politisi Aljazair yang telah berkiprah sebagai diplomat dalam empat dekade terakhir ini juga mengatakan Iran harus dilibatkan dalam mencari solusi politik atas konflik di Suriah dan Irak. Iran, kata dia, adalah bagian dari masalah.

"Iran adalah bagian dari masalah, dan bagian dari masalah harus menjadi bagian dari solusi, bahkan jika pihak lain berpendapat sebaliknya," kata Brahimi.

Brahimi adalah bekas diplomat PBB untuk Aljazair dan Utusan Khusus Liga Arab dan PBB untuk mediasi konflik di Suriah menggantikan Kofi Annan yang memutuskan mundur pada tahun 2012. Brahimi juga memilih mengundurkan diri pada Mei 2014 setelah gagal mencapai solusi.

Dia mengaku selalu melihat ke belakang atas "tugas-tugas yang tidak dijalankan dengan baik."

"Kami belajar dari kesalahan. Saya katakan lebih dari sekali, rakyat di kawasan menyerukan perubahan sesungguhnya, bukan perubahan palsu. Pemerintah yang tidak ingin berubah akan menjadi korban dari perubahan," lanjut Brahimi.

Untuk konflik di Suriah, dia menyalahkan pemerintah Bashar al-Assad yang menjadikan krisis di negaranya semakin tidak terkendali. Konflik Suriah dimulai dari demonstrasi damai di Raqqa tahun 2011, berujung pemberontakan besar yang memunculkan banyak kelompok bersenjata.

"Pemerintah Suriah tidak bereaksi atas tuntutan perubahan. Pemerintah harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi," kata Brahimi. (den)