Serangan Militan di Mali Tewaskan 5 Orang, 2 Warga Eropa

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Sabtu, 07/03/2015 16:03 WIB
Serangan Militan di Mali Tewaskan 5 Orang, 2 Warga Eropa Serangan ini terjadi setelah pemerintah Mali menandatangani usulan perdamaian pada Minggu (1/3) untuk mengakhiri pertempuran dengan separatis utara. Namun, pemberontak yang dipimpin oleh Tuareg meminta waktu lebih panjang sebelum menyetujui kesepakatan apapun. (Reuters/Souleymane Ag Anara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan militan di Restoran La Terrasse di pusat Kota Bamako, Mali, menelan lima korban jiwa, termasuk dua orang Mali, seorang warga Perancis dan Belgia, serta satu orang yang belum teridentifikasi.

Dilansir Reuters, Sabtu (7/2), gurun utara Mali, di mana pasukan Perancis merebut kendali dari militan Al-Qaidah, memang kerap dilanda kekerasan politik. Namun, ini adalah serangan pertama setelah bertahun-tahun yang terjadi di selatan, tepatnya di Bamako. Restoran ini memang dikenal sering dikunjungi ekspatriat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak intelijen masih mengantongi sedikit informasi mengenai serangan dan pelakunya. Namun, salah satu pejabat senior yang enggan diungkap identitasnya memastikan bahwa mereka sudah menahan dua orang.


"Zona tempat penembakan terjadi berada di bawah kontrol pasukan keamanan. Dua orang Eropa dan dua orang Mali terbunuh. Pasukan keamanan sedang merancang operasi untuk memastikan tidak ada lagi kejutan lain," katanya.

Menanggapi insiden yagn menewaskan satu warganya ini, Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, berkata, "Saya mengutuk tindakan menjijikkan dan pengecut ini yang telah menyebabkan kematian beberapa orang, di antara mereka warga negara Perancis."

Menurut Fabius, insiden ini justru semakin menguatkan komitmen Perancis untuk memberantas terorisme dalam berbagai bentuk.

Perancis sendiri sebelumnya telah menerjunkan lebih dari tiga ribu tentara ke Afrika Barat untuk melawan militan yang berhubungan dengan Al-Qaidah. Kedutaan Besar Perancis di Mali juga telah memberikan peringatan bagi warganya yang berada di negara tersebut agar waspada.

Senada dengan Fabius, Menteri Luar Negeri Belgia, Didier Reynders, juga mengecam serangan ini.

"Saya sekali lagi mengutuk teror mematikan dari pengecut ini. Menurut informasi, ini bisa jadi adalah kasus penyerangan teroris," ujar Ryenders.

Serangan ini terjadi setelah pemerintah Mali menandatangani usulan perdamaian pada Minggu (1/3) untuk mengakhiri pertempuran dengan separatis utara. Namun, pemberontak yang dipimpin oleh Tuareg meminta waktu lebih panjang sebelum menyetujui kesepakatan apapun. (obs)