Taiwan Minta Maaf Terlambat Kabarkan Hilangnya 21 WNI

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2015 14:13 WIB
Taiwan Minta Maaf Terlambat Kabarkan Hilangnya 21 WNI Menurut Kemlu, Taiwan seharusnya langsung memberikan notifikasi kepada negara yang warganya mengalami masalah. (Ilustrasi/Getty Images/Christopher Furlong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak otoritas Taiwan telah menyampaikan permohonan maafnya kepada Indonesia karena terlambat menyampaikan kabar adanya 21 warga negara Indonesia yang hilang bersama kapal berbendera Taiwan di perairan Atlantik pada 26 Februari lalu.

"Mereka sudah menyampaikan maaf secara lisan karena tidak terlebih dahulu memberi tahu Indonesia terkait hilangnya 21 WNI di kapal ikan mereka saat pertemuan KDEI (Kamar Dagang Ekonomi Indonesia) Taiwan dengan pihak otoritas perikanan mereka," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Christiawan Nasir, setelah mengelar jumpa pers di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut penuturan Arrmanatha, Kapal Hsiang Fu Chun ini hilang kontak pada 26 Februari sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Kala itu, kapten kapal memberi tahu bahwa ada kebocoran di bagian dek kapal.


Pihak pemilik kapal sendiri, menurut Arrmanatha, memang terlambat memberi kabar kepada otoritas Taiwan, yaitu pada 2 Maret. Namun, otoritas Taiwan juga lamban memberi informasi kepada Indonesia.

"KDEI baru diberi tahu coast guard pada 9 Maret. Ada gap panjang di sini. Ini yang kami sayangkan," ucap Arrmanatha.

Tak perlu tunggu kepastian hilang

Protes ini juga telah disampaikan oleh Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) dari Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal, yang pada Selasa (10/3) berkata, "Kejadian tanggal 26 (Februari), kita baru disampaikan minggu lalu. Padahal kan tidak perlu menunggu sampai kepastian dia hilang atau tidak."

Kapal Hsiang Fu Chun berbobot 700 ton ini merupakan kapal penangkap cumi-cumi. Di dalam kapal itu terdapat dua warga Taiwan, yaitu kapten kapal dan kepala kamar mesin. Selain itu, terdapat 11 pelaut asal Tiongkok, 21 ABK Indonesia, 13 warga Filipina, dan dua orang lainnya asal Vietnam.

Menurut Iqbal, sebagai otoritas, Taiwan seharusnya langsung memberikan notifikasi kepada negara yang warganya mengalami masalah.

"Jika ada accident, negara yang punya warga negara di situ harus diberi notifikasi," kata Iqbal.

Hingga kini, Kemlu juga masih merasa otoritas Taiwan masih lamban bergerak. Kemlu akhirnya mengutus perwakilan ke Taiwan agar dapat segera mendiskusikan langkah konkret pencarian 21 anak buah kapal WNI tersebut.

"Kemlu sudah mengirimkan wakil ke Taipei untuk bicara dengan pemilik kapal dan otoritas Taiwan. Termasuk di antaranya masalah kompensasi dan langkah selanjutnya," ungkap Arrmanatha.

Saat ini, informasi yang dapat dihimpun dari otoritas perikanan Taiwan adalah kapal tersebut terakhir kali terlacak berada di 1.600 mil laut dari Argentina dan 1.100 mil laut dari Falkland.

"Untuk itu, Kemlu sudah minta perwakilan di Argentina dan Inggris untuk bantu mencari. Otoritas Taiwan juga sudah menginstruksikan kapal-kapal ikan untuk ikut mencari," papar Arrmanatha.

Upaya Kemlu ini sesuai dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi, yang pada Selasa (10/3) lalu berkata, "Kami akan terus tebar permintaan bantuan." (stu)