Restoran Tiongkok di Kenya Larang Orang Afrika Masuk

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 25/03/2015 17:50 WIB
Restoran Tiongkok di Kenya Larang Orang Afrika Masuk Tiongkok merupakan investor asing terbesar dalam perekonomian Afrika. (Ilustrasi/Thinkstock/Gina Smith)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilik restoran penyaji masakan Tiongkok di Nairobi, Kenya, ditahan lantaran melarang orang Afrika masuk ke gerainya.

Seperti dilansir CNN, Rabu (25/3), Zhao ditahan atas tuduhan mengoperasikan restoran tanpa lisensi resmi. Penangkapan dilakukan tak lama setelah media lokal ramai memberitakan bahwa seorang jurnalis Kenya diusir dari restoran tersebut.

Berita tersebut pertama kali dilansir dalam hari Kenya, Daily Nation, yang mengabarkan bahwa beberapa jurnalisnya dilarang masuk pada pukul 19.00. Penjaga pintu masuk berkata bahwa, "Waktu bagi orang Afrika sudah habis."


Menurut Daily Nation, hanya warga lokal yang ditemani oleh orang Tiongkok, Eropa, atau India yang diizinkan masuk. Kendati demikian, Senator Nairobi, Mike Sonko, dan Menteri Kabinet, Raphael Tuju, diperbolehkan masuk karena merupakan teman dari pemilik restoran.

Berita ini kontan ramai dipergunjingkan di berbagai media sosial dengan tagar #noblacksallowed.

Setelah reaksi negatif masyarakat merebak, restoran yang terletak di Kilimani tersebut ditutup karena dianggap tidak berizin. Menurut laporan Daily Nation, gedung tersebut merupakan tempat tinggal yang dialihfungsikan menjadi restoran.

Ketika ditemui oleh Daily Nation, salah satu pemilik restoran, Esther Zhao, mengaku memiliki alasan tersendiri ketika memutuskan untuk memberlakukan aturan "Tidak ada orang Afrika di malam hari."

"Kami tidak mengizinkan orang Afrika yang tidak kami kenal karena Anda tidak pernah tahu mana yang Al-Shabaab dan bukan. Paras seseorang tidak selalu menggambarkan ia adalah orang jahat bersenjata," katanya merujuk pada kelompok militan yang aktif di negara tetangga Kenya, Somalia.

Kendati demikian, manajemen restoran melansir permohonan maaf di beberapa surat kabar Kenya.

"Karena kekhawatiran lingkungan bisnis pada malam hari dan kenangan buruk (sebuah perampokan) pada 2013, kami mengadopsi beberapa aturan. Sayangnya, beberapa aturan tersebut tidak layak. Kami meminta maaf untuk itu," demikian bunyi pernyataan resmi manajemen restoran.

Tiongkok sendiri merupakan investor asing terbesar dalam perekonomian Afrika. Namun, banyak orang Afrika beranggapan bahwa bisnis Tiongkok tak memperhatikan alam dan kerap menjadi predator sumber daya. (stu/stu)