Paus Fransiskus merupakan yang pertama dari Gereja Katolik Roma yang menyebut pembunuhan terhadap 1,5 juta orang Armenia itu sebagai “genosida” pada Minggu (12/4), memicu pertikaian diplomatik dengan Turki. Vatikan memanggil pulang utusannya, dan Turki melakukan hal serupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara para politisi dan Erdogan mengritik Paus, banyak warga Turki yang menganggap insiden ini sebagai pertikaian politik kosong dan mengungkapkan keengganan mereka mengungkit sejarah.
Komentar Erdogan sepertinya cenderung berfokus pada apakah Amerika Serikat, sekutu Turki di NATO, pada akhirnya akan menggunakan istilah "genosida" atas pembunuhan massal tersebut.
Tidak seperti hampir banyak negara Eropa dan Amerika Selatan negara yang menggunakan istilah itu, Washington menghindari dan memperingatkan legislatornya bahwa Ankara bisa menghentikan kerjasama militer jika mereka memilih untuk mengadopsi istilah genosida.
Paus Francis muncul pada Senin, memilih untuk menggunakan istilahnya sendiri atas "genosida", mengatakan dalam sebuah khotbah bahwa "hari ini pesan Gereja adalah salah satu jalan keterbukaan, jalan keberanian Kristen.” (stu)