Dua hari lagi, tepatnya Jumat (23/4), para pemimpin negara Asia Afrika akan mengulangi prosesi napak tilas, mengenang perjalanan konferensi persatuan dua benua untuk menentang kolonialisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soekarno dan Nelson Mandella seakan turut memantau para warga lewat spanduk-spanduk wajah mereka yang menjuntai di berbagai sudut kota tua.
Terus menyusuri jalan ke arah Masjid Agung, membujur Tembok Sejarah Konferensi Asia Afrika. Layaknya memasuki lorong waktu, khalayak dapat melihat tokoh-tokoh yang memegang peranan langsung dalam KAA pada 1955. Mulai dari peran pengibar bendera seperti Sam Bimbo, hingga Murdi Putra, penyedia colenak bagi para tamu undangan KAA 1955.
Di ujung tembok sejarah tersebut, sebuah gapura dengan balkon-balkon megah di atasnya menyambut warga memasuki daerah dekat Masjid Agung. Jika melirik sedikit, akan terlihat Cikapundung yang dahulu kusam, bertransformasi menjadi taman dengan kolam air mancur yang menyejukkan mata.
Kembali melempar pandangan ke arah Masjid Agung, mata kembali disejukkan dengan hamparan rumput hijau yang rapi dan segar di pelataran rumah ibadah tersebut. Di persimpangan menuju Gedung Bank Rakyat Indonesia, kini berdiri tegak patung bola dunia dengan kutipan kata-kata Soekarno di bawahnya, "Let a New Asia and New Africa be Born." (stu)