Diberitakan The Independent, Rabu (12/8), tuntutan dilayangkan oleh Kementerian Urusan Konsumen India terhadap Nestle atas dasar "praktik perdagangan tidak jujur dan pelabelan yang salah" atas produk mi instan Maggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengandung timbal tinggi, produk Maggi berdasarkan penelitian FFSAI mengandung MSG untuk meningkatkan rasa. Padahal pada bungkus tertera tulisan bahwa mi itu tidak "mengandung tambahan MSG". FFSAI mengatakan, cara ini digunakan Nestle untuk menarik konsumen.
"Berdasarkan beberapa penelitian ilmiah ditemukan kandungan besi berat (timbal) di atas ambang yang diperbolehkan yang membahayakan kesehatan dan tidak boleh ada di setiap produk di pasaran," ujar laporan India.
Nestle langsung melakukan penelitian sendiri terhadap 1.000 mi instan Maggi dan menemukan bahwa produknya tidak berbahaya. Selain itu, CEO Nestle Paul Buckle, bersikeras bahwa produk mereka itu tidak memakai MSG.
"Demi kepentingan konsumen, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan, dan kami sepenuhnya bekerja sama dengan pemerintah untuk menjernihkan situasi dan menjual kembali Maggi secepatnya," kata Buckle.
Maggi adalah merek Nestle yang mengantongi penjualan hingga 15 miliar rupee, lebih dari Rp3,1 triliun per tahun, di India. Akibat kasus timbal ini, ribuan produk Maggi ditarik dari pasaran di seluruh India. (den)