Diberitakan Channel NewsAsia, Kamis (13/8), seorang warga asal Singapura yang bekerja di Tianjin mengaku bahwa kualitas udara pasca ledakan kemarin malam sangat buruk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedikitnya 50 orang tewas dalam insiden tersebut, 12 di antaranya adalah pemadam kebakaran. Sebanyak 500 orang terluka, 71 dalam kondisi kritis. Puluhan pemadam dilaporkan hilang.
Bau bahan kimia masih menguar di udara. Pemerintah lokal belum melakukan penyelidikan karena api masih berkobar di beberapa tempat. Namun mereka menduga ledakan terjadi akibat ketidaksesuaian informasi soal barang berbahaya yang disimpan di gudang tersebut.
Kelompok pecinta lingkungan Greenpeace mengatakan bahwa ancaman masih belum usai bagi warga Tianjin. Dalam pernyataannya yang dikutip CNN, Greenpeace mengatakan bahwa bahan kimia berbahaya yang terbakar bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat.
"Berdasarkan laporan Stasiun Pengawasan Lingkungan Tanggu, bahan kimia berbahaya yang disimpan di tempat itu mengandung sodium sianida (NaCN), toluene diisocyanate (TDI) dan kalsium karbida (CaC2), kesemuanya mengancam kesehatan manusia jika terpapar," ujar Greenpeace dalam pernyataannya.
"NaCN sangat beracun, Ca(C2) dan TDI bereaksi buruk jika terpapar air dan kimia reaktif, dengan ancaman ledakan. Hal ini akan menjadi tantangan bagi pemadam kebakaran, dan dengan prakiraan cuaca akan hujan besok, maka ini merupakan bencana besar," lanjut Greenpeace.
Untuk menyelidiki adanya unsur kimia berbahaya yang kemungkinan terkandung di udara pemerintah China menurunkan tim ahli ke Tianjin. Sebanyak 217 orang ahli dari militer diturunkan untuk menguji kualitas udara, mencari tahu apakah ada kandungan kimia di udara. (den)