Hubungan Afghanistan dan Pakistan Kian Merenggang

Ranny Utami/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 20/08/2015 20:30 WIB
Hubungan Afghanistan dan Pakistan Kian Merenggang Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berupaya meningkatkan hubungan dengan Pakistan, salah satunya melalui kerja sama intelijen, namun setelah insiden ledakan bom di Kabul yang menewaskan puluhan orang beberapa waktu lalu, Ghani menyalahkan Pakistan yang dianggap telah 'memicu peperangan'. (Reuters/Mohammad Ismail)
Kabul, CNN Indonesia -- Afghanistan dan Pakistan memanggil duta besar mereka masing-masing untuk menjelaskan pertempuran yang terjadi antara kedua pasukan keamanan negara yang menewaskan hingga 11 petugas perbatasan, merusak perayaan hari kemerdekaan di Kabul pada Rabu (19/8).

Kerja sama antara kedua negara ini, termasuk dalam melawan pemberontakan militan, dinilai merupakan salah satu kunci perdamaian di Afghanistan, terutama karena Pakistan dikenal luas memiliki pengaruh terhadap kelompok Taliban.

Dalam pertemuan dengan Duta Besar Pakistan, Syed Abrar Hussain, Kementerian Luar Negeri Afghanistan menyatakan keberatan yang serius terhadap insiden penembakan artileri berat di provinsi perbatasan Kunar yang menewaskan delapan polisi, dikutip Reuters, Kamis (20/8).


Utusan Afghanistan di Islamabad juga dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Rabu kemarin.

Selama setahun awal menjabat, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berupaya meningkatkan hubungan kedua negara melalui langkah kerja sama, seperti di bidang intelijen. Namun, setelah insiden ledakan bom di Kabul yang menewaskan puluhan orang beberapa waktu lalu, Ghani menyalahkan Pakistan yang dianggap telah 'memicu peperangan'.

"Perang melawan terorisme harus menjadi prioritas utama negara di kawasan," ujar Ghani dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Afghanistan. Namun, ia tidak menyinggung Pakistan secara langsung dalam pidato tersebut.

"Tidak ada yang bisa memaksa kami menerima tuntutan mereka dengan ancaman," lanjutnya.

Kemarahan ini juga dirasakan di sepanjang jalan di Kabul, di mana warga kota merayakan hari libur nasional ini dengan diselimuti bendera Afghanistan.

"Saya datang untuk merayakan Hari Kemerdekaan kami, kami merayakan perlawanan terhadap Pakistan," ujar salah satu warga, Mohammad Zamir, disusul dengan dentuman drum dan pertunjukan tarian di sekitar reruntuhan rumah dan toko akibat ledakan bom pada 7 Agustus lalu.

Sementara itu, Pakistan mengutuk serangan baru-baru ini dan menyalahkan 'pembual dan pemfitnah' yang mencoba menimbulkan ketidakpercayaan antara kedua negera yang bertetangga itu.

Banyak pihak merasa kedaulatan Afghanistan masih perlu diuji karena kehadiran pasukan asing dan militan. Taliban mengeluarkan pernyataan pada Selasa kemarin yang menyatakan bahwa Afghanistan harus berjuang untuk kebebasan, seperti yang dilakukan nenek moyang mereka dulu terhadap Inggris.

Hubungan Afghanistan dan Pakistan juga menjadi tegang setelah pemberitaan pada Juli lalu, soal pemimpin Taliban Mullah Mohammad Omar yang meninggal dua tahun silam. Afghanistan mengatakan Omar meninggal di rumah sakit di Karachi dan otoritas Pakistan sengaja menyembunyikan hal ini dari Kabul. (stu/stu)