Kota di Iran 'Mendidih', Suhu Mencapai 73 Derajat Celcius

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2015 11:34 WIB
Kota di Iran 'Mendidih', Suhu Mencapai 73 Derajat Celcius Gelombang panas menerpa Iran para sepekan terakhir dengan suhu tertinggi tercatat di kota Bandar Mahshahr pada Jumat pekan lalu. (Ilustrasi/Reuters/Mohamed Azakir)
Teheran, CNN Indonesia -- Gelombang panas tengah melalui Timur Tengah sepekan terakhir, menyebabkan suhu mencapai tingkat tinggi di beberapa wilayah. Di Iran, bahkan suhu bisa mencapai hingga lebih dari 70 derajat Celcius.

Seperti diberitakan TIME, kota tersebut adalah Bandar Mahshahr, yang diterpa suhu panas hingga 73 derajat Celcius pada Jumat pekan lalu, berdasarkan data Weather Channel.

Ahli Meteorologi Iran dari Accuweather Anthony Saglia yang dikutip The Telegraph mengatakan bahwa suhu yang dialami kota berpopulasi 100 ribu orang itu adalah beberapa yang terpanas bagi manusia.


"Itu adalah salah satu suhu terpanas yang pernah saya lihat, dan salah satu pencatatan paling ekstrem di dunia," kata Saglia.

Ahli meteorologi senior di Weather Channel pada MSNBC, Nick Wiltgen mengatakan bahwa suhu ini "sangat jarang" terjadi. Namun dia mengatakan bahwa ini bukan kali pertama suhu tinggi terjadi di Timur Tengah.

Suhu terpanas lainnya yang pernah tercatat adalah 81 derajat Celcius di kota Dhahran, Arab Saudi, pada 8 Juli 2003.

Gelombang panas juga menerpa negara lain di Timur Tengah sepekan terakhir. Salah satunya Irak dengan panas mencapai 49 derajat Celcius dalam delapan hari berturut-turut hingga Minggu pekan lalu.

Peningkatan temperatur ini adalah bagian dari "kubah panas" regional, sebuah daerah bertekanan tinggi yang menyebabkan naiknya suhu udara dan berlangsung selama beberapa hari.

Juni lalu, cuaca di Pakistan sangat panas sehingga menewaskan lebih dari 600 orang hanya dalam waktu tiga hari. Kematian terbanyak akibat sengatan panas di suhu mencapai 45 derajat Celcius terjadi di kota Karachi.

April hingga Mei tahun ini, India mengalami gelombang panas selama lima pekan, korban tewas tembus hingga 2.000 orang. (stu)