Menyalami Pengacara, Kartunis Iran Terancam Sanksi Tambahan
Hanna Azarya Samosir | CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2015 15:03 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih menjalani hukuman 12 tahun penjara akibat mengkritik pemerintah, seorang seniman asal Iran, Atena Farghadani, terancam dijerat sanksi tambahan lantaran berjabat tangan dengan pengacaranya, Mohammad Moghimi.
Seperti dilansir The Independent, tuduhan ini bermula saat Moghimi mengunjungi Farghadani di penjara. Di akhir kunjungan, Moghimi menjabat tangan Farghadani yang merupakan lawan jenisnya. Dalam hukum Iran, hal ini dilarang.
Farghadani pun terancam mendekam di balik jeruji besi lebih lama. Tuduhan ini kemungkinan akan menambah panjang rekam hukuman bagi Farghadani.
Pada Agustus 2014, Farghadani ditahan karena mengunggah karya bernada satir di akun Facebook pribadinya. Ia akhirnya mendekam di bui hingga November 2014.
Awal tahun ini, Farghadani kembali dijatuhi hukuman, yaitu penjara 12 tahun sembilan bulan akibat publikasi kartun yang mewakili protesnya terhadap rencana kebijakan pemerintah.
Selama tiga bulan awal masa penjara, Farghadani mengaku sering mendapat perlakuan tak menyenangkan. Ia pun melayangkan surat protes kepada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, dan Presiden Iran, Hassan Rouhani.
Tak kunjung mendapat tanggapan, Fraghadani akhirnya mengunggah video yang berisi penjabaran lengkap mengenai perlakuan dalam penjara Evin tersebut, seperti dipukuli oleh para penjaga.
Menurut Amnesty International, Farghadani kini menghadapi dakwaan baru atas tuduhan ketidaksenonohan, dan hukumannya diperkirakan akan diperpanjang. (stu/stu)
Seperti dilansir The Independent, tuduhan ini bermula saat Moghimi mengunjungi Farghadani di penjara. Di akhir kunjungan, Moghimi menjabat tangan Farghadani yang merupakan lawan jenisnya. Dalam hukum Iran, hal ini dilarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal tahun ini, Farghadani kembali dijatuhi hukuman, yaitu penjara 12 tahun sembilan bulan akibat publikasi kartun yang mewakili protesnya terhadap rencana kebijakan pemerintah.
Selama tiga bulan awal masa penjara, Farghadani mengaku sering mendapat perlakuan tak menyenangkan. Ia pun melayangkan surat protes kepada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, dan Presiden Iran, Hassan Rouhani.
Tak kunjung mendapat tanggapan, Fraghadani akhirnya mengunggah video yang berisi penjabaran lengkap mengenai perlakuan dalam penjara Evin tersebut, seperti dipukuli oleh para penjaga.
Menurut Amnesty International, Farghadani kini menghadapi dakwaan baru atas tuduhan ketidaksenonohan, dan hukumannya diperkirakan akan diperpanjang. (stu/stu)