Cegah Terorisme, Polisi Jerman Geledah Masjid

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2015 18:42 WIB
Cegah Terorisme, Polisi Jerman Geledah Masjid Polisi Jerman menggeledah delapan bangunan di Berlin, termasuk sebuah masjid, yang diyakini digunakan sebagai markas kelompok militan pada Selasa (22/9) pagi. (Reuters/Hannibal Hanschke)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi Jerman menggeledah delapan bangunan di Berlin, termasuk sebuah masjid, yang diyakini digunakan sebagai markas kelompok militan yang mendukung pertempuran di Suriah, pada Selasa (22/9).

Hingga saat ini, belum ada laporan soal apakah terdapat penangkapan dalam penggeledahan tersebut.

Dilaporkan Reuters, kepolisian Jerman memaparkan mereka menyelidiki seorang pria berusia 51 tahun asal Maroko yang diduga terlibat dalam perekrutan militan untuk memerangi Presiden Suriah, Bashar al-Assad.


Mereka juga menyelidiki seorang pemudia berusia 19 tahun asal Makedonia yang diyakini kini sudah berada di Suriah.

Meski demikian, polisi menyakini bahwa para tersangka tidak sedang menyiapkan serangan di dalam Jerman.

"Tidak ada alasan untuk menyakini bahwa para tersangka itu tengah mempersiapkan serangan di Jerman," bunyi pernyataan dari kepolisian Berlin.

Menargetkan pengungsi

Pada hari yang sama, kepala intelijen domestik Jerman memperingatkan kelompok radikal bisa saja berupaya merekrut para pengungsi muda yang datang ke negara itu.

"Ada kekhawatiran besar bahwa kelompok militan di Jerman, dengan dalih menawarkan bantuan kemanusiaan, mencoba mengambil keuntungan dari krisis imigran dan merekrut para pencari suaka," kata kepada lembaga intelijen domestik, BfV, Hans-Georg Maassen.

"Kami terutama mengkhawatirkan pengungsi muda (yang tiba di Jerman) tanpa ditemani siapapun yang dinilai dapat dijadikan maksa empuk bagi militan," kata Maassen.

Pernyataan ini akan memperpanjang perdebatan soal cara Jerman menanggulangi ratusan ribu imigran dari sejumlah negara yang ingin mengajukan suaka ke negara itu.

Maassen menyatakan bahwa jumlah umat Islam penganut paham Salafi yang ultra-konservatif di Jerman meningkat menjadi 7.900 orang. Angka ini merupakan peningkatan yang signifikan, karena sebelumnya pada Juni tahun ini, jumlah penganut Salafi tercatat sebanyak 7.500 orang.

Selain bertambahnya jumlah Salafi di dalam negeri, sebanyak 740 kelompok militan dari Jerman, diduga seperlimanya adalah perempuan, dan ikut berperang bersama ISIS di Suriah dan Irak.

Sepertiga di antanya telah kembali di Jerman, sementara 120 orang lainnya tewas dalam pertempuran.

Maassen mengatakan hingga kini tidak ada bukti kelompok militan menyusup di antara para pengungsi. (stu)