AS Kecam Pengeboman ISIS di Libanon

CNN Indonesia | Jumat, 13/11/2015 09:27 WIB
AS mengecam pengeboman di Libanon, sementara John Kerry menegaskan penyelesaian diplomatik konflik Suriah tergantung pada situasi di medan tempur. Aksi bom bunuh di Libanon yang diklaim oleh ISIS meledakkan setidaknya 43 orang. (Reuters/Khalil Hassan)
Washington, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mengecam pengeboman bunuh diri yang menewaskan setidaknya 43 orang di Beirut, Libanon.

“Pemerintah Amerika Serikat mendukung Pemerintah Libanon dalam upaya membawa pelaku serangan ini ke depan pengadilan,” bunyi pernyataan tertulis Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.

Kelompok militan ISIS mengklaim bertanggungjawab atas dua ledakan bom bunuh diri di wilayah Beirut yang menjadi basis kelompok Muslim Syiah, Hezbollah.


Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mendesak negara-negara yang mengikuti perundingan damai bagi Suriah bersikap fleksibel.

Kerry juga mengaakan kemungkinan solusi diplomatik juga tergantung pada keseimbangan militer.

Kerry yang akan menghadiri perundingan di Wina yang juga akan dihadiri pejabat dari Iran, Rusia, Arab Saudi, Turki dan Eropa, juga membela upaya diplomatik untuk mengakhiri perang sipil ini, meski mengakui solusinya belum akan tercapai dalam waktu dekat.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa kita akan segera mencapai satu kesepakatan menyeluruh,” kata Kerry di hadapan organisasi pemikir Washington, Kamis (12/11).

“Pesan Amerika kepada setiap (peserta) adalah kita semua memiliki tanggung jawab, bukan untuk mengukuhkan pengaruh tetapi untuk mencapai satu kemajuan agar pertumpahan darah bisa dihentikan.”

Dia juga mengatakan tercapainya kesepakatan akan tergantung pada situasi di medan tempur, serta menjembatani perbedaan pendapat antara AS dan Rusia, Iran terkait masa depan Presiden Bashar al-Assad.

Amerika Serikat mengatakan Assad harus mundur jika ada transisi politik, sementara Rusia mengatakan nasib presiden ini harus ditentukan oleh rakyat Suriah melalui pemilu.

Setidaknya 250 ribu orang tewas dalam perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung selama empat setengah tahun. Perang ini terjadi setelah Assad menggunakan kekerasan untuk membubarkan aksi protes menentang kekuasaan keluarganya.

Terdapat tiga kubu dalam konflik ini: pasukan yang setia pada Assad, pasukan oposisi moderat Suriah, dan pejuang ISIS yang telah menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak yang ingin dikalahkan oleh AS.

Pasukan Kurdi, yang didukung oleh serangan udara AS, mulai merebut kembali kota Sinjar, Irak Utara, dan menguasai tempat-tempat di sepanjang rute pengiriman pasok untuk ISIS antara Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah.

John Kerry menekankan pentingnya pertempuran di darat.

“Kemungkinan upaya diplomasi berhasil tergantung pada kemampuan untuk memiliki posisi tawar-menawar dengan menguasai wilayah dan persepsi pihak mana yang berada dalam posisi kuat,” kata Kerry.

“Bukti-bukti memperlihatkan bahwa ISIS di Irak dan Suriah bisa dikalahkan, bahkan di usir, jika diserang dengan serangan udara dan serangan mitra sekutu di darat yang efektif.”

Namun Presiden Barack Obama yang khawatir dengan pengerahan tentaranya dalam perang di Irak dan Afghanistan, telah memutuskan untuk tidak mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Suriah. (Reuters/yns)