Usai Teror, AS Larang Tentaranya Berpergian ke Paris

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 17/11/2015 08:59 WIB
Menyusul serangan pekan lalu, Pentagon melarang tentara dan personel sipil AS melakukan perjalanan yang tidak terkait dengan pekerjaan ke Paris. Ilustrasi tentara AS (Reuters/Muhammad Hamed)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara Pentagon, Kapten Jeff Davis pada Senin (16/11) mengumumkan bahwa militer AS melarang tentara dan personel sipil untuk melakukan perjalanan yang tidak terkait dengan pekerjaan ke Paris. Larangan ini menyusul serangan teror di ibu kota Perancis pekan lalu, yang menewaskan 132 orang dan melukai ratusan lainnya.

Davis memaparkan kebijakan baru Pentagon melarang para tentara AS melakukan perjalanan tidak resmi ke Paris, maupun berada dalam radius 50 kilometer dari kota tersebut.

Sementara, Departemen Luar Negeri AS, hingga saat ini, tidak berencana untuk mengeluarkan peringatan perjalanan, atau travel warning, untuk warga AS, menurut juru bicara Biro badan Konsuler, Niles Cole.


Serangan yang diluncurkan oleh delapan anggota militan di enam titik di jantung kota Paris pada Jumat (13/11) itu diklaim oleh kelompok militan ISIS. Serangan itu, menurut ISIS, merupakan pembalasan atas keterlibatan Perancis dalam serangan udara yang didukung AS di Irak dan Suriah.

Davis memaparkan para tentara AS dan personel sipil diperbolehkan untuk berlibur ke sejumlah tempat wisata di luar kota Paris dan sekitarnya langsung dengan izin dari pejabat umum.

"Ini merupakan tindakan pencegahan untuk menjaga personel dan keluarga kita aman dalam serangan yang baru terjadi," bunyi pernyataan dari Komando AS di Eropa terkait kebijakan yang dirilis pada Minggu (15/11) itu.

Menurut data Departemen Pertahanan AS, hingga kini terdapat sekitar 1,3 juta personel aktif yang bertugas di angkatan bersenjata AS, dan tambahan 742 ribu personel sipil. (ama/ama)