Lebih dari 20 Keluarga Muslim Inggris Dilarang Masuk AS

Ike Agestu, CNN Indonesia | Kamis, 24/12/2015 16:18 WIB
Lebih dari 20 Keluarga Muslim Inggris Dilarang Masuk AS Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari 20 keluarga Muslim Inggris telah ditolak masuk ke Amerika Serikat, menurut seorang imam di London.

Pernyataan ini mencuat di tengah insiden satu keluarga Muslim yang tak dizinkan terbang ke AS di bandara Gatwick, London. Keluarga yang terdiri dari orangtua dan sembilan anak itu ingin beribur ke Disneyland dan telah mendapat visa online. Ketika disetop, mereka tak diberikan penjelasan, dan tak ada pula penggantian biaya tiket yang telah mereka keluarkan sebesar US$13.340 atau lebih dari Rp182 juta.

Dilansir The Independent, imam terkenal asal London, Ajmal Masroor, mengatakan bahwa banyak yang terkena perlakuan serupa lebih memilih bungkam kerena takut justru membuat mereka tak bisa ke AS lagi.
Masroor mengatakan mereka “sengat takut mereka tak akan pernah bisa mengunjungi Amerika lagi” jika mengatakan yang sebenarnya.


“Saya tak peduli, saya tak takut untuk mengatakan yang sebenarnya,” ujar dia. “Tren mengkhawatirkan yang rasis dan kebijakan imigrasi yang buruk ini sudah di luar kendali, dan harus dihentikan.  Mereka tak punya hak untuk menilai seseorang karena ras,” tambah Masroor.

Masroor sendiri mengaku pernah mendapat perlakuan serupa ketika visanya ke AS dibatalkan pada 17 Desember, hanya beberapa saat setelah check in di Bandara Heathrow.
Ia mengatakan tak pernah punya masalah ketika bepergian sebelumnya.

“Saya bertanya [kepada otoritas] berulang-ulang mengaoa, dan dia mengatakan’Anda pasti sudah melakukan sebuah kesalahan,’ tanpa menjelaskan apa pun. Ini jelas diskriminasi. Ini tidak bisa diterima dan bisa dimanfaatkan oleh teroris,” ujar Masroor.

Menurut Masroor, larangan masuk AS bagi keluarga Muslim itu telah diberlakukan selama beberapa lama, namun jumlahnya tampak meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

“Saya mengetahui setidaknya 20 kasus laun di mana keluarga bahkan takut untuk membicarakannya,” kata dia.
Sementara itu di AS, kekhawatiran atas serangan militan meningkat sejak teror Paris yang disusul penembakan di San Bernardino, California, yang menewaskan 14 orang. Pelakunya yang merupakan pasangan suami-istri tewas dalam baku tembak dan menurut polisi, mereka telah teradikalisasi cukup lama. ISIS mengklaim pasangan ini sebagai pendukungnya.

Publik AS dan dunia kemudian diramaikan kembali ketika kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, menyerukan agar umat Muslim dilarang masuk ke AS. (stu)