Perempuan Muslim Berjilbab Diusir dari Kampanye Trump

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Sabtu, 09/01/2016 12:24 WIB
Perempuan Muslim Berjilbab Diusir dari Kampanye Trump Selama masa kampanye, Trump memang dikenal kerap melontarkan pernyataan kontroversial, termasuk mengenai pelarangan sementara Muslim memasuki AS. (Reuters/Lisa Norman-Hudson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan Muslim berjilbab, Rose Hamid, digiring keluar dari acara kampanye Donald Trump pada Jumat (8/1).

Hamid hanya berdiri diam di belakang Trump ketika kandidat calon presiden Amerika Serikat tersebut mulai mengatakan bahwa pengungsi yang kabur dari perang di Suriah sebenarnya terkait dengan ISIS.

Selama masa kampanye, Trump memang dikenal kerap melontarkan pernyataan kontroversial, termasuk mengenai pelarangan sementara Muslim memasuki AS.


Sementara Hamid bergeming, para pendukung pendukung di sekitarnya mulai meneriakkan nama Trump sesuai dengan instruksi dari panitia.

Mereka kemudian mulai menunujuk Hamid dan Marty Rosenbluth, pria yang juga hanya diam berdiri di sebelahnya. Ketika mereka digiring keluar, para pendukung Trump berteriak, "Keluar! Keluar!"

Bahkan menurut Hamid, ada satu orang yang berteriak, "Kamu punya bom. Kamu punya bom."

Setelah keluar dari kerumunan, Hamid bercerita kepada CNN melalui sambungan telepon. "Keanehan benar-benar terjadi dengan cepat dan itu sangat menakutkan," katanya.

Mayor Steven Thompson dari Depatemen Kepolisian Rock Hill mengatakan kepada CNN bahwa Hamid diusir lantaran panitia kampanye sebelumnya mengatakan kepadanya bahwa, "Siapapun yang membuat gangguan harus dikeluarkan."

Hingga kini, tim kampanye Trump belum bisa dihubungi.

Selain Hamid, tiga orang beratribut bintang mirip seperti yang dipakai oleh orang Yahudi saat Holocaust juga digiring keluar arena kampanye oleh polisi.

Setelah mereka keluar, Trump berkata, "Ada kebencian terhadap kami. Ini tak bisa dipercaya. Itu adalah kebencian mereka, bukan kebencian kami."

Sebelum kampanye, Hamid bercerita kepada CNN bahwa ia memang tidak ingin berteriak atau mengganggu jalannya kampanye. Ia hanya ingin menunjukkan kepada para pendukung Trump bagaimana sebenarnya seorang Muslim.

"Saya pikir, kebanyakan pendukung Trump mungkin tidak pernah bertemu dengan seorang Muslim jadi saya akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertemu," ucap Hamid sambil memakai kaus bertuliskan, "Salam, saya datang dengan damai."

Saat memasuki arena kampanye, Hamid hanya ingin melihat bagaimana reaksi para pendukung Trump.

Ia lantas bergabung dengan sekelompok orang yang juga ingin melakukan protes dengan tenang terhadap pernyataan-pernyataan kontroversial Trump mengenai Islam.

Di antara kelompok tersebut, hadir pula orang yang datang ke kampanye Trump di Aiken, South Carolina, bulan lalu, termasuk Jibril Hough.

Tak seperti Hamid, ketika Trump mulai berbicara mengenai radikalisme Islam, Hough langsung berteriak, "Bukan Islam yang menjadi masalah."

Sebelum akhirnya keluar, Hamid sempat berbicara dengan beberapa pendukung Trump yang duduk di dekatnya. Saat ia dipaksa keluar, beberapa dari orang tersebut memegang tangan Hamid dan berkata, "Maaf."

"Orang di sekitar yang sempat berbicara dengan saya sangat baik. Orang yang tidak pernah berbicara dengan saya, orang yang sudah dipengaruhi Trump, sangat menjijikan," tutur Hamid.

Kendati demikian, Hamid masih menyimpan keyakinan bahwa karakter manusia yang sesungguhnya sebenarnya baik. Namun, ada beberapa pengaruh buruk dari sekitarnya.

"Orang tak memiliki kesempatan untuk melihat hal lain mengenai Muslim selain yang ada di televisi. Ini menunjukkan bagaimana ketika Anda mulai menganggap seseorang bukan manusia, itu akan membuat orang lain menjadi orang yang sangat aneh dan pembenci. Itu harus diketahui," katanya. (ags)