Kurangi Penderita Obesitas, Inggris Akan Terapkan Pajak Gula

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Senin, 18/01/2016 15:12 WIB
Kurangi Penderita Obesitas, Inggris Akan Terapkan Pajak Gula Ilustrasi gula pasir (Pixabay/Hebi65)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Inggris melalui Layanan Kesehatan Nasional (NHS) berencana menerapkan pajak gula di sejumlah rumah sakit untuk mengatasi fenomena "gula nasional yang semakin tinggi" dan dikhawatirkan merusak kesehatan masyarakat.

Direktur NHS Inggris, Simon Stevens juga mendesak sejumlah menteri untuk mengambil tindakan tegas terkait penanggulangan obesitas, termasuk memaksa perusahaan makanan untuk tidak menggunakan gula dalam produk mereka.

Rumah sakit di Inggris akan mulai memberlakukan harga yang lebih tinggi untuk minuman dan makanan ringan yang memiliki kadar gula tinggi. Stevens menilai tindakan tersebut dilakukan dalam upaya untuk mencegah para staf, pasien dan pengunjung mengkonsumsi gula berlebih.


Dalam wawancara kepada The Guardian, Stevens berjanji untuk memperkenalkan pajak gula di ratusan rumah sakit dan pelayanan kesehatan mental masyarakat pada 2020, dan di setiap pusat kesehatan setempat.

Langkah ini akan membuat NHS menjadi lembaga publik pertama di Inggris yang memberlakukan pajak gula, yang diperkirakan dapat mengumpulkan dana hingga 20 hingga 40 juta poundsterling per tahun, dan akan digunakan untuk meningkatkan kesehatan 1,3 juta pekerja di Inggris.

"Karena NHS berperan dalam kehidupan nasional, kami semua bekerja di NHS memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk mendukung mereka yang merawat pasien, tetapi juga untuk menarik perhatian dan membuat perubahan yang lebih luas, yang akan benar-benar meningkatkan kesehatan negeri ini," ujar Stevens.

"Kami akan memperkenalkan pajak gula NHS terhadap minuman dan makanan dengan tambahan gula lainnya di seluruh [fasilitas] NHS yang akan diberlakukan dari waktu ke waktu dalam kontrak makanan katering dan toko di rumah sakit, yang akan diperbarui secara bergilir dalam tiga sampai lima tahun ke depan," kata Steves memaparkan.

"Pada 2020, makanan ini sudah tidak ada di rumah sakit, atau pajak gula sudah mulai diberlakukan," ucap Stevens, yang memiliki hubungan dekat dengan sejumlah pejabat teras Inggris, termasuk Perdana Menteri David Cameron.

Di Inggris, pola makan yang buruk merupakan penyebab utama kedua, setelah merekok, dari penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup, yang seharusnya dapat dihindari. "Rokok membunuh 80 ribu orang per tahun, dan masih merupakan masalah yang besar. Namun ternyata, pola makan yang buruk juga berpengaruh," ujar Stevens.

Stevens juga mengecam sejumlah toko makanan yang dianggap turut memicu obesitas dengan menawarkan diskon terhadap kue dan biskuit, serta menempatkan makanan ringan di dekat kasir, di mana para konsumen mengantri.

Cara pemasaran produk seperti itu, lanjut Stevens, berpengaruh signifikan meningkatkan lingkar pinggang para warga Inggris. Stevens memperkirakan dua pertiga warga Inggris saat ini menderita obesitas.

Stevens juga mendukung program lembaga Kesehatan Masyarakat Inggris yang belakangan ini turut memerangi konsumsi gula berlebih, dan berencana menerapkan retribusi baru kepada produk yang mengandung kadar gula berlebih yang signifikan.

Selain berencana menerapkan pajak gula, Stevens menyerukan kepada para produsen makanan untuk memproduksi makanan yang lebih sehat sebagai upaya menangkal obesitas.

"Kita berhasil mengurangi 15 persen garam tambahan dalam produk makanan kita selama satu dekade terakhir. Kita perlu menetapkan target ambisius untuk mengurangi gula tambahan dan memastikan kepada para pelaku industri makanan hal ini diberlakukan dalam beberapa tahun," ujar Stevens. (ama/stu)