Penembakan artileri Korut terdengar dari pulau Baengnyeong pada Sabtu (20/2) dan ditujukan ke arah barat laut wilayah pantai Korut. Penembakan artileri ini diduga merupakan salah satu bagian dari latihan militer Korut, menurut seorang pejabat kementerian pertahanan Korea Selatan yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Kantor Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan bahwa terdapat terdapat peluru artileri namun belum ada pergerakan lainnya dari militer Korut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketegangan politik terus meningkat di Semenanjung Korea menyusul uji coba bom nuklir Korut pada awal Januari lalu dan peluncuran satelit pada 7 Februari lalu. Korsel dan sekutunya, Amerika Serikat menilai peluncuran itu merupakan uji coba rudal jarak jauh. Sementara, uji coba bom nuklir Korut juga dinilai pelanggaran berat resolusi Dewan Keamanan PBB.
Ketegangan politik kedua Korea juga meningkat ketika Korea Selatan menghentikan operasi Zona Industri Kaesong yang berisi ratusan pabrik Korsel namun berlokasi di Korut. Penutupan kompleks industri Kaesong membuat seluruh aktivitas 124 perusahaan Korea Selatan yang mempekerjakan sekitar 55 ribu warga Korea Utara otomatis terhenti.
Korea Utara kemudian mengusir seluruh warga Korea Selatan dari kompleks industri Kaesong dan membekukan seluruh aset perusahaan yang beroperasi di sana, menyusul pengumuman Korsel untuk menutup zona industri bersama ini. Menurut Korut, langkah Korsel itu tak ubahnya sebuah "deklarasi perang."
Bagi Korea Utara, Kaesong, yang dibuka pada 2005, menyumbang pendapatan hingga US$110 juta dalam bentuk upah pekerja pada 2015. Besarnya pendapatan itu, menurut Korut sebanding dengan risiko bahwa warganya dapat terpengaruh kehidupan bebas dan makmur dari Korsel.
Namun, Pyongyang mengambil tindakan pencegahan dengan memilih sendiri para pekerja di Kaesong untuk memastikan para pekerja itu berinteraksi seminimal mungkin dengan manajer mereka yang berasal dari Korea Selatan. (ama)