Sebuah mobil diledakkan di samping bus militer saat sedang menunggu lampu lalu lintas dekat dengan markas militer, gadung parlemen dan pemerintah Turki pada 17 Februari lalu.
Sehari setelahnya, Perdana Menteri Turki, Ahmed Davutoglu, menyalahkan milisi Kurdi Suriah, YPG, bekerja sama dengan militan Kurdi Turki, sebagai otak pengeboman, dan pelaku diidentifikasi sebaga Salih Necar, kelahiran 1992, berasal dari Hasakah, Suriah utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Hasil DNA sudah dipublikasikan. Kami sudah melihat bahwa itu bukan Necar,” ujar seorang pejabat keamanan yang tak mau disebutkan namanya terkait hasil keseluruhan investigasi yang belum dipublikasikan.
“DNA pelaku bom sesuai dengan ayah Abdulbaki. Sepertinya pelaku bom adalah Abdulbaki Somer, itu hasil laporan [DNA],” ujar sumber tersebut.
Ankara melihat YPG berhubungan erat dengan PKK, kelompok Kurdi di Turki yang telah melancarkan pemberontakan selama tiga dekade di tenggara Turki.
Militer Turki menggempur posisi YPG di utara Suriah serta kamp PKK di Irak Utara selama beberapa hari usai serangan bom Ankara.
Sebelumnya pada Selasa, Davutoglu mengatakan bahwa klaim TAK atas bom adalah taktik pengalihan, dan bahwa semua kelompok militan merupakan bagian dari “struktur teroris” yang sama.
“Claim tangoing jawab dari TAK, cabang PKK, berujuan untuk mengalihkan perhatian dari YPG. Entah itu KCK, YPG, PKK, TAK atau PJAK, mereka adalah bagian dari struktur teroris yang sama,” lanjutnya, merujuk pada kelompok-kelompok Kurdi di Turki, Iran, dan Suriah. (stu)