Negara-negara Teluk Arab menjatuhkan sanksi kepada anggota Hizbullah pada 2013 lalu sebagai pembalasan atas intervensi kelompok itu dalam perang sipil Suriah dan dukungannya terhadap Presiden Bashar al-Assad.
Kala itu pun, sejumlah negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain telah melabeli kelompok ini sebagai teroris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan itu diumumkan sehari setelah pidato pemimpin Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah yang menyatakan bahwa Arab Saudi telah mendorong Libanon ke fase konflik politik baru dengan menangguhkan paket bantuan kepada tentara Lebanon.
Sementara itu, Zayani menuduh Hizbullah bermusuhan dengan negara GCC, termasuk merekrut pemuda untuk melakukan "serangan teroris, menyelundupkan senjata dan bahan peledak, serta menghasut untuk menimbulkan kekacauan dan kekerasan."
Arab Saudi, negara yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni merupakan anggota terbesar GCC dan memiliki pengaruh yang cukup besar di Libanon melalui dukungannya kepada politisi Sunni, Saad al-Hariri.
Lihat juga:Arab Saudi Desak Warganya Tinggalkan Libanon |
"Kita tidak seharusnya terseret dalam upaya semacam ini," katanya.
Ketegangan antara Hizbullah dan Hariri berujung pada konflik bersenjata pada 2008, ketika perselisihan politik yang didorong oleh persaingan Saudi-Iran memicu perang saudara yang berlangsung singkat. Nasrallah menyatakan konflik itu tidak terulang kembali. (ama)