Departemen Luar Negeri AS, John Kirby memaparkan bahwa hal ini mengindikasikan para pemimpin ISIS tengah "berjuang dengan kemampuan mereka untuk merekrut dan mempertahankan anggotanya."
"Kini kami mendapatkan lebih banyak laporan bahwa mereka menggunakan anak-anak dalam pertempuran sebenarnya, berdampingan dengan militan dewasa," ujar Kirby.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kirby menolak berkomentar soal penangkapan seorang militan ISIS asal AS oleh Peshmerga di Irak. Kirby mengaku menyadari adanya laporan tersebut, namun menolak memberikan konfirmasi.
Pejuang Kurdi yang menangkap sang militan menyatakan pria berniat untuk melarikan diri dari markas ISIS, namun kemudian menyerahkan diri setelah dihujani tembakan oleh pejuang Peshmerga di dekat desa Golat.
Militan itu tidak memiliki paspor namun membawa lisensi mengemudi di Amerika dan berbicara bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Lisensi itu kemudian disita oleh pejuang Kurdi.
Militan yang tidak bersenjata itu membawa tiga ponsel dan menyatakan bahwa ayahnya adalah seorang warga Palestina dan ibunya berasal dari daerah Mosul, Irak.
"Kami bekerja sama dengan pihak berwenang Irak dan Kurdi untuk mencoba untuk mendapatkan informasi lebih lanjut untuk mengkonfirmasi kebenaran laporan tersebut," kata Kirby.
Pada Senin (14/3), Rusia mengumumkan akan mulai menarik pasukannya dari Suriah dan mengklaim serangan udaranya telah membantu "mengubah situasi dalam memerangi terorisme."
Presiden Rusia, Vladimir Putin mengklaim bahwa pasukan militer Rusia di Suriah sebagian besar telah memenuhi tujuan operasi. (ama)