China mengklaim sebagian besar perairan yang menjadi salah satu jalur perdagangan tersibuk dunia dengan nilai perdangan yang melintasinya mencapai US$5 miliar per tahun. Perairan yang diduga kaya akan cadangan minyak dan gas ini juga diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.
"Kami sudah mulai mengeluarkan peringatan tsunami kepada masyarakat internasional, termasuk negara-negara di pinggiran Laut China Selatan," kata Wang, di sela-sela pertemuan tahunan parlemen China, Rabu (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beijing mengklaim bahwa operasinya di laut, termasuk reklamasi lahan pada terumbu karang dan sejulah pulau yang disengketakan, sebagian besar ditujukan untuk meningkatkan penelitian sipil, upaya pencarian dan penyelamatan maritim yang akan menguntungkan sejumlah negara lain.
China juga menyatakan berhak menempatkan "fasilitas pertahanan terbatas" di wilayahnya, menyusul laporan penempatan rudal darat-ke-udara di Pulau Woody yang disengketakan.
Militer AS menilai Beijing berusaha meningkatkan pengaruhnya di Laut China Selatan yang dikhawatirkan akan mengancam kebebasan navigasi untuk pelayaran internasional. (ama)