RI Peroleh Informasi Pergerakan WNI Sandera Abu Sayyaf

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 31/03/2016 12:20 WIB
RI Peroleh Informasi Pergerakan WNI Sandera Abu Sayyaf Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, terus berkomunikasi dengan Menlu Filipina dalam upaya penyelamatan 10 WNI yang disandera Abu Sayyaf. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Republik Indonesia terus memantau dan memperoleh informasi pergerakan, posisi, dan kondisi dari sepuluh anak buah kapal warga negara Indonesia yang disandera oleh kelompok militan Filipina, Abu Sayyaf, sejak Senin (27/3) malam lalu.

“Informasi mengenai pergerakan, posisi, dan kondisi para sandera dari waktu ke waktu telah kita peroleh,” ujar Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno LP Marsudi, saat memberikan pernyataan resmi di Jakarta, Kamis (31/3).

Namun, Retno tidak menjabarkan lebih lanjut mengenai kondisi 10 ABK WNI tersebut.
Kementerian Luar Negeri menyatakan ada dua kapal yang dibajak kelompok Abu Sayyaf, yakni Brahma 12 dan Anand 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara. Kapal itu bertolak dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Filipina pada 15 Maret.


Wakil Komandan Pasukan Khusus Zambasulta (Zamboanga-Basilan-Sulu dan Tawi-Tawi), Mayor Jenderal Demy Tejares, mengatakan bahwa kapal itu dibajak di perairan Sulu pada Senin malam lalu. Brahma 12 sudah dilepas dan kini berada di tangan otoritas Filipina, sedangkan Anand 12 dan sepuluh awaknya masih disandera. 

Menurut Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Badrodin Haiti, 10 orang anak buah kapal yang disandera diketahui dalam kondisi baik. Namun, militan yang berbaiat pada ISIS itu meminta uang tebusan sekitar Rp15 miliar untuk melepaskan mereka.
Hingga kini, upaya penyelamatan 10 ABK WNI terus dilakukan oleh pemerintah RI. Menurut Retno, komunikasi dan koordinasi selama tiga hari terakhir semakin diintensifkan.

Retno sendiri terus berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Filipina. Menurutnya, komunikasi terakhir dilakukan pada hari ini pada pukul 08.13. Selain itu, pihak terkait lainnya juga terus berkoordinasi.

“Secara paralel, rekan-rekan saya tentunya juga melakukan komunikasi dengan para counterpart mereka. Penjajakan opsi terbaik masih terus dilakukan,” kata Retno.
Dalam upaya penyelamatan WNI ini, kata Retno, dukungan pemerintah Filipina sangat krusial. Pemerintah Indonesia sangat menghargai kerja sama tersebut.

“Dukungan pemerintah Filipina tentunya sangat krusial bagi upaya yang akan kita lakukan. Indonesia menghargai kerja sama yang baik yang diberikan pemerintah Filipina sejauh ini,” ucap Retno.

Retno kembali menekankan bahwa misi utama pemerintah adalah keselamatan para sandera WNI tersebut.

Tak hanya dengan otoritas terkait, Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan pihak keluarga ABK WNI tersebut. (ama/ama)