Menurut pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, pembajakan kapal telah dilakukan Abu Sayyaf sejak tahun 1994. Wilayah Filipina Selatan, salah satunya Sulu, yang didiami Abu Sayyaf memang memiliki tradisi lama, yaitu pembajakan kapal.
"Sulu itu suku pelaut, dan mereka memang menghidupi diri dengan membajak sejak tahun 1800-an," lanjut Habib.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelompok yang telah berbaiat kepada ISIS ini meminta imbalan sekitar Rp15 miliar kepada pemerintah Indonesia untuk pembebasan para WNI.
Menurut Habib, peristiwa kali ini cukup mengagetkan. Pasalnya, dalam 3-4 tahun terakhir Abu Sayyaf tidak lagi melakukan pembajakan, melainkan penculikan dan penyerangan di darat.
Insiden di laut yang melibatkan Abu Sayyaf terakhir kali terjadi pada Desember 2011, saat warga Australia, Warren Rodwell diculik dari rumah kapalnya di Zamboanga Sibugay.
Rodwell dibebaskan pada 23 Maret 2013 dalam keadaan sangat lemah. Dia bebas setelah dibayarkan tebusan sebesar 4 juta peso atau lebih dari Rp1 miliar.
Mendompleng ISIS
Habib menjelaskan, Abu Sayyaf memiliki 300-400 personel yang terbagi menjadi 16 kelompok kecil di empat provinsi, yaitu Tawi-tawi, Jolo, Sulu dan Basilan.
Pembagian ke dalam kelompok kecil ini dimaksudkan agar Abu Sayyaf tetap berdiri walau kelompok mereka di suatu wilayah dihancurkan.
"Selama ini mereka mengandalkan penculikan untuk membeli senjata dan uang tebusan. Uang ini juga ditukar logistik, suplai amunisi, ini khas Abu Sayyaf," lanjut Habib.
"Karakternya selalu mendompleng gerakan yang lebih besar. Dulu Abu Sayyaf mendompleng al-Qaidah, berlindung di balik bendera kelompok itu. Ini strategi mereka," ujar Habib.
Ideologi Abu Sayyaf, lanjut dia, juga selalu berubah-ubah.
"Tahun 1991 ideologi mereka adalah memerdekakan Filipina selatan. Tahun 2001 mereka menganut ideologi bandit, dengan menculik dan merampok. Akibatnya terjadi perpecahan faksi," jelas dia. (ama)