Kapal Anand 12 merupakan salah satu kapal yang dibajak Abu Sayyaf pekan lalu di perairan Sulu, selain Brahma 12 yang telah lebih dulu dibebaskan.
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengungkapkan kapal tersebut ditemukan di perairan Lahad Datu, Sabah, dan kini berada di tangan otoritas setempat untuk diuji forensik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemlu sebelumnya menyebutkan bahwa kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 membawa 7 ribu ton batu bara dan bertolak dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Filipina pada 15 Maret.
Kedua kapal kemudian dibajak Abu Sayyaf di perairan Sulu pada 27 Maret lalu. Kapal Brahma 12 sudah lebih dahulu dilepas dan kini berada di tangan otoritas Filipina. Sementara 10 WNI ABK Anand 12 hingga saat ini masih disandera militan Abu Sayyaf, yang meminta uang tebusan sekitar Rp15 miliar.
"Baik dalam pertemuan dengan presiden Filipina maupun pertemuan terpisah oleh Menlu dan Panglima Angkata Bersenjata Filipina, tampak jelas komitmen kuat pemerintah Filipina untuk melakukan yang terbaik dalam upaya pelepasan sandera WNI," ujar Retno.
Hasil pertemuan di Filipina, lanjut Retno, telah disampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo yang kemudian ditindak lanjuti dengan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan.
"Pemerintah Malaysia menyatakan kesiapan jika sewaktu-waktu terjadi perubahan situasi yang memerlukan kerja sama Malaysia," tutur Retno.
Komunikasi dengan Malaysia ini, menurut Retno, terbukti efektif dengan ditemukannya kapal tongkang Anand 12. (stu)