"Kami percaya mereka telah berhasil meminiaturisasi hulu ledak nuklir untuk dipasangkan pada rudal Rodong," kata pejabat Korea Selatan yang tak dipublikasikan namanya pada Selasa (5/4). Pejabat itu mengetahui soal program penelitian Korsel untuk menakar kemampuan rudal Korut.
Informasi ini sejalan dengan pernyataan pemimpin Korut, Kim Jong Un bulan lalu yang menyatakan negaranya telah berhasil memperkecil hulu ledak nuklir yang dapat dipasang pada rudal balistik. Pernyataan Kim tidak pernah dapat diverifikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti langsung bahwa Korut telah berhasil memasang hulu ledak pada rudal tersebut, kata pejabat Korsel yang menolak untuk membahas dasar-dasar yang digunakan dalam program penilaian Korsel terhadap kemampuan nuklir Korut.
Amerika Serikat, sekutu dekat Korea Selatan, juga memiliki pendapat serupa.
"Tapi kami belum melihat mereka menunjukkan [kemampuan] itu, jadi kami tidak berbagi penilaian kami [terhadap kemampuan nuklir Korut], tapi tentu saja kami mempertimbangkan pernyataan mereka sebagai ancaman yang nyata," ujarnya.
Korea Utara dan Korea Selatan hingga kini secara teknis masih berperang karena perang sipil Korea pada 1950-1953 berujung dengan gencatan senjata, tanpa ada perjanjian damai. Selama beberapa dekade setelahnya, hubungan Korut dan Korsel kerap memburuk.
Tindakan Korut yang dinilai agresif dalam beberapa bulan terakhir berujung kepada sanksi baru yang lebih luas dan keras dari DK PBB.
Korea Selatan sebelumnya pernah menyatakan Korea Utara telah membuat kemajuan dalam upayanya dalam meminiaturirasi hulu ledak nuklir, namun kemampuan Korut akan hal itu belum sempurna.
Rudal Rodong, dikembangkan dari rudal Scud yang dibuat di era-Soviet, merupakan sebagian besar cadangan rudal pendek dan menengah Korut, yang diperkirakan berjumlah 200 unit.
Korut terakhir kali menembakkan rudal Rodong pada Maret lalu. Rudal itu terbang sekitar 800km ke arah laut. Sebelumnya, korut menembakkan dua rudal Korut pada 2014. (ama)