Dilaporkan The Guardian, mengutip Panama Papers, bankir bernama Nigel Cowie, yang fasih berbahasa China dan Korea, merupakan tokoh di balik DCB Finance Limited, salah satu perusahaan cangkang Pyongyang yang teregistrasi di British Virgin Islands.
Cowie mengatakan DCB Finance melakukan praktik bisnis dengan legal dan tidak mengetahui akan adanya transaksi yang melanggar hukum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Putin Tak Persoalkan Isu Panama Papers |
Firma hukum Panama Mossack Fonseca mendirikan perusahaan tersebut, meskipun Korea Utara merupakan negara destinasi yang berisiko tinggi.
Perusahaan itu didirikan pada bulan Juli tahun itu, di saat yang sama ketika Kim Jong-il melanggar sanksi dari AS dengan menembakkan tujuh rudal balistik. Pada Oktober, Korea Utara melakukan uji coba senjata nuklirnya yang pertama yang berujung dengan ledakan bawah tanah.
Sejumlah langkah Korut ini berujung pada pembekuan pembekuan aset dan larangan perjalanan serta perdagangan.
Pada 2013, AS menjatuhkan sanksi kepada Daedong dan perusahaan cangkang milik Cowie, DCB, serta kepada Kim Chol-sam. AS menduga bank itu menyediakan "bantuan keuangan" ke diler senjata utama Korut, Korea Development Mining Corporation, dan cabang keuangannya, Tanchon Commercial Bank, yang dikenakan sanksi untuk "peran sentral mereka mendukung program nuklir dan rudal balistik Korea Utara yang dilarang."
Kim diduga memfasilitasi transaksi senilai ratusan ribu dolar dan mengelola jutaan dolar dalam sejumlah rekening bank yang terkait dengan Korea Utara.
Panama Papers mengungkapkan Mossack Fonseca gagal melihat perusahaan Cowie terkait dengan Korea Utara, meskipun dia memberikan alamatnya di sana. Cowie juga menggunakan Mossack Fonseca untuk mendaftarkan perusahaan lain, Phoenix Commercial Ventures Limited. Dalam usaha patungan dengan kementerian budaya Korut, perusahaan itu membuat CD dan pemutar DVD.
Barulah pada 2010 Mossack Fonseca menyadari perusahaan itu berurusan dengan entitas Korea Utara, dan mengundurkan diri sebagai agen. Penemuan ini terjadi setelah firma hukum itu mendapat surat dari Badan Investigasi Keuangan British Virgin Islands yang meminta rincian dari perusahaan Cowie.
Panama Papers juga mengungkapkan percakapan email antara kantor Mossack Fonseca di British Virgin Islands dan kantor pusatnya di Panama. Pada 2013, pejabat perusahaan itu mengakui bahwa alamat Cowie di Korea Utara "seharusnya diberi peringatan merah."
Dia menulis, "Ini bukan situasi yang ideal untuk merilis surat yang menyoroti inefisiensi Mossack Fonseca di BVI (British Virgin Islands)."
Sanksi AS terhadap DCB dikeluarkan pada Juni 2013, namun surat itu menyebut periode dari 2006, ketika Cowie memimpin Daedong. Cowie menjawab bahwa ia telah meninggalkan dunia perbankan pada 2011 untuk berfokus pada sektor bisnis lainnya. (ama/stu)