"Kami bernegosiasi dengan Rusia untuk menjual 40 ton air berat," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, kepada kantor berita Fars, seperti dikutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataan pada Minggu (24/4) tersebut, Araqchi mengatakan bahwa Amerika Serikat merupakan pembeli pertama dari air berat Iran.
Pada awal April lalu, Kementerian Energi AS (DOE) mengonfirmasi akan membayar US$8,6 juta atau lebih dari Rp113 miliar untuk air berat dari Iran.
Sesuai dengan kesepakatan nuklir, Iran juga sudah mengosongkan sumber air berat Arak dan mengisinya dengan semen.
Iran saat ini hanya diperbolehkan menyimpan 130 ton air berat. Ketika Iran telah merancang dan membangun ulang reaktor nuklir Arak, maka negara itu hanya boleh menyimpan 90 ton air berat.
AS, Rusia, dan China sepakat untuk berpartisipasi dalam merancang ulang konstruksi reaktor itu. (stu/stu)