Sistem data itu diperoleh oleh CNN melalui Aircraft Communications Addressing and Reporting System, ACARS, yang memuat data antara mesin pesawat dan fasilitas di darat. Tangkapan layar ACARS memuat waktu kejadian yang sesuai dengan hilangnya pesawat pada Kamis dini hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ACARS tidak menyebutkan penyebab kecelakaan, namun Soucie mengatakan bahwa data-data itu dikirimkan dalam periode satu hingga dua menit. Dengan rentang waktu tersebut, teori pengeboman menjadi tidak mungkin.
"Karakter bom, ledakan akan merusak kulit pesawat. Namun ini bukan indikasi apa yang terjadi, karena bom akan terjadi dengan cepat, sedangkan laporan ini berlangsung selama dua menit," kata Soucie.
Dia melanjutkan, kebakaran di bagian tersebut kemungkinan bisa merusak sistem komunikasi pesawat sehingga tidak mampu mengirim sinyal darurat.
Data ini menunjukkan kemungkinan lainnya dari penyebab jatuhnya EgyptAir. Sebelumnya pemerintah Mesir dan Perancis menduga pesawat berisikan 66 orang tersebut jatuh karena aksi terorisme. Namun hingga saat ini belum ada kelompok militan yang mengaku berada di balik peristiwa itu.
Saat ini tengah dilakukan pencarian kotak hitam untuk mendengarkan percakapan terakhir di pesawat. Puing-puing dan beberapa jasad korban telah ditemukan di dekat pulau di Yunani.
Pencarian dilakukan oleh tim gabungan dari Mesir, Yunani, Italia, Perancis, Amerika Serikat, Cyprus dan Inggris.
Pesawat terbebut hilang kontak di ketinggian 37 ribu kaki sesaat setelah masuk wilayah udara Mesir dalam penerbangan Paris ke Kairo. Penyidik mengatakan, pesawat berbelok tajam sebelum menukik jatuh. (den)