Sedikitnya 10 Anak-anak Jadi Korban Teror di Nice, Perancis
Christine Novita Nababan | CNN Indonesia
Sabtu, 16 Jul 2016 01:45 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Copeland merupakan wakil direktur utama Lexmarl’s Kapow Software Division. Ia dan keluarga berlibur sekaligus demi menghadiri perayaan ulangtahun kerabat keluarga Copeland.
Pejabat Perancis menyebut serangan ini sebagai teror. Teror ini terjadi pada malam ketika tepi pantai Promenade des Anglais dipenuhi pengunjung dan wisatawan yang ingin meramaikan Bastille Day.
Pelaku Teridentifikasi
Bouhlel merupakan seorang Tunisia, berasal dari Msaken, sekitar 10 kilometer di luar kota pesisir Sousse. Otoritas Tunisia menuturkan, ia berkunjung ke kampung halamannya empat tahun lalu. Ia menikah dan memiliki tiga anak.
Pemerintah Tunisia mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk teror itu. “Tunisia bersama dengan Perancis memerangi terorisme, dan mendukung setiap tindakan yang diambil oleh Pemerintah Perancis untuk melindungi wilayahnya dan keamanan warganya,” seperti dikutip dari Reuters.
Tak ubahnya Perancis, Tunisia juga menderita dari serangan militan Islam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 23 Juni 2015 lalu, seorang pria bersenjata menewaskan 38 orang, sebagian besar wisatawan Inggris, di sebuah pantai di Sousse. (bir)
Keluarga Copeland memulai liburan di Pamplona, dan Barcelona, Spanyol, sebelum berakhir tragis dalam perayaan hari nasional Perancis atawa Bastille Day di Nice, Paris, Kamis (15/7) lalu.
Ayah dan anak, Sean Copeland (51 tahun) dan Brodie (11 tahun) yang menjadi dua korban tewas dalam aksi teror truk tersebut berasal dari Austin, Texas, Amerika Serikat.
Seperti dilansir CNN, Jumat (16/7), Kim, sang istri beserta dua anak mereka lainnya, Maegan (29 tahun) dan Austin (22 tahun) yang juga ikut serta dalam liburan keluarga tersebut selamat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami sedih dan terkejut karena kehilangan Brodie, seorang anak luar biasa dan saudara kami, dan Sean Copeland, seorang suami dan ayah yang baik. Mereka begitu dicintai,” tutur salah satu keluarga.
Selain Brodie, sedikitnya 10 anak tewas dalam teror truk di sepanjang Promenade des Anglais, Nice, Perancis. Hingga saat ini, diperkirakan korban tewas mencapai 84 orang dan 100 orang lainnya luka-luka.
Lihat juga:Saat Mobil Menjadi Senjata Pembunuh |
Menurut gambar-gambar yang tersebar di sosial media, boneka dan mainan anak-anak berserakan di aspal usai serangan tersebut.
Pelaku Teridentifikasi
Sumber di satuan keamanan Tunisia menyebutkan, Mohamed Lahouaiej Bouhlel (31 tahun), pelaku yang teridentifikasi sebagai penyerang di malam Bastille Day tersebut tidak diketahui memiliki pandangan radikal terhadap Islam.
Bouhlel merupakan seorang Tunisia, berasal dari Msaken, sekitar 10 kilometer di luar kota pesisir Sousse. Otoritas Tunisia menuturkan, ia berkunjung ke kampung halamannya empat tahun lalu. Ia menikah dan memiliki tiga anak.
Lihat juga:Teror Mematikan di Eropa Selama Satu Dekade |
Tak ubahnya Perancis, Tunisia juga menderita dari serangan militan Islam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 23 Juni 2015 lalu, seorang pria bersenjata menewaskan 38 orang, sebagian besar wisatawan Inggris, di sebuah pantai di Sousse.