Ivan Watson
Ivan Watson merupakan koresponden internasional CNN yang berbasis di Hong Kong sejak 2014. Sebelumnya, dia berbasis di Istanbul selama lima tahun dan melakukan berbagai peliputan soal tindakan keras pemerintah Turki terhadap demonstran, perang saudara di negara tetangga Suriah dan konflik sektarian di Irak.

Sebelum Kudeta, Erdogan dan Militer Turki Mulai Terlihat Akur

Ivan Watson, CNN Indonesia | Selasa, 19/07/2016 11:16 WIB
Sebelum Kudeta, Erdogan dan Militer Turki Mulai Terlihat Akur Ivan Watson memaparkan posisi militer dalam pemerintahan Turki. Sebelum kudeta, Presiden Recep Tayyip Erdogan terlihat akur dengan sejumlah komandan militer. (Reuters/Murad Sezer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Percobaan kudeta militer pada Jumat (15/7) malam lalu di Istanbul mengejutkan publik dunia, terutama warga Turki sendiri.

Insiden ini merupakan contoh terbaru memburuknya stabilitas di negara yang beberapa tahun lalu dikenal sebagai negara dengan mayoritas Muslim yang demokratis dan kondisi ekonomi yang makmur.

Namun, 14 tahun setelah partai politik pimpinan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meraih kekuasaan dalam pemilu, Turki mengalami berbagai goncangan.


Punya dua musuh

Pemerintahan Erdogan beberapa tahun belakangan ini gencar memerangi dua musuh utamanya, yakni kelompok militan ISIS yang bercokol di Irak dan Suriah serta Partai Pekerja Kurdi, PKK, yang menuntut kemerdekaan.

Bulan lalu, contohnya, pemerintah Turki menuduh ISIS mendalangi serangan teror di Bandara Ataturk, Istanbul. 

Sementara, perang 30 tahun antara gerilyawan Kurdi dan Turki mulai muncul lagi beberapa tahun terakhir, dan melebar ke wilayah tenggara negara ini yang didominasi oleh warga Kurdi.

Masyarakat Turki secara luas terpolarisasi antara para pendukung dan penentang Erdogan. Pasukan keamanan kerap terjun langsung untuk menghalangi upaya protes publik terhadap pemerintah.

Oleh karena itu, berbagai kelompok hak asasi manusia terus mengkritik pemerintah Erdogan atas sejumlah kasus pelanggaran HAM, utamanya penangkapan wartawan yang vokal meluncurkan kritik.

Serangkaian aksi kekerasan merupakan pukulan tersendiri bagi sektor pariwisata di negara itu. Nilai mata uang Turki juga terus terpuruk.

Namun di tengah berbagai tantangan yang bergejolak negara itu, militer tidak pernah dianggap sebagai sebuah ancaman.

Posisi militer di Turki

Para jenderal militer di Turki terbiasa memainkan peran yang dominan, setelah empat kudeta militer terjadi periode 1950 sampai 2000. Selama tahun-tahun pertama pemerintahannya, Erdogan dilaporkan sering bentrok dengan sejumlah komandan senior.

Beberapa tahun di bawah kepemimpinan Erdogan, pemerintah Turki mulai menangkap dan mengadili ratusan jenderal dan laksamana, dalam upaya penyelidikan yang meluas atas dugaan rencana kudeta.

Para pendukung Erdogan berpendapat bahwa pria berusia 62 tahun itu merupakan pemimpin Turki pertama yang dapat menempatkan militer pada posisinya, yakni di bawah kepemimpinan sipil yang dipilih rakyat.

Pada Mei 2016, hubungan dingin antara para politisi dan jenderal militer mulai mencair. Sejumlah komandan militer bahkan terlihat menghadiri pernikahan putri Erdogan.

Namun, serentetan tembakan dan ledakan yang melibatkan tank, pesawat tempur dan helikopter militer mewarnai percobaan kudeta pada akhir pekan lalu di dua kota penting di Turki, Ankara dan Istanbul. Insiden ini menunjukkan terdapat rasa ketidakpuasan yang mendalam terhadap pemerintah Turki di dalam beberapa jajaran militer.

Beberapa jam pertama kudeta yang penuh gejolak, Erdogan segera berjanji untuk 'membersihkan' militer dari para pengkhianat.

"Kami akan mempertahankan posisi kami hingga akhir dan semua tank ini akan kembali ke tempat asal mereka," katanya di hadapan para wartawan pada Sabtu (16/7) dini hari.

Dengan seruannya, Erdogan berhasil mengumpulkan kerumunan besar pendukung yang bersedia turun ke jalan di berbagai kota di penjuru Turki. Dalam beberapa kesempatan, warga bahkan tak gentar berhadapan dengan tentara pelaku kudeta.

Hal ini jelas menandakan betapa kecilnya dukungan publik terhadap upaya kudeta. Sejumlah pengkritik pemerintahan Erdogan juga secara terbuka mengecam kudeta itu.

Bahkan, tiga partai oposisi utama yang memiliki perwakilan di Parlemen juga mengutuk rencana kudeta itu. Sejumlah partai itu dilaporkan menjadi target penembakan oleh jet tempur militer.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS